Omong Besar Pompeo soal Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i59194-omong_besar_pompeo_soal_iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dalam wawancaranya dengan televisi MSNBC seraya mengulang omong besar sebelumnya terkait Iran mengklaim jika Iran berani bergerak ke arah program senjata nuklir, maka Tehran akan menghadapi kemarahan global, seluruh dunia akan menentangnya dan pada akhirnya jalan tersebut tidak menguntungkan Iran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 24, 2018 14:23 Asia/Jakarta
  • Menlu AS Mike Pompeo
    Menlu AS Mike Pompeo

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dalam wawancaranya dengan televisi MSNBC seraya mengulang omong besar sebelumnya terkait Iran mengklaim jika Iran berani bergerak ke arah program senjata nuklir, maka Tehran akan menghadapi kemarahan global, seluruh dunia akan menentangnya dan pada akhirnya jalan tersebut tidak menguntungkan Iran.

Pompeo mengatakan, "Ketika saya mengatakan kemarahan, jangan disalahartikan sebagai aksi militer. Ketika saya mengatakan kemarahan, maksudnya adalah kekuatan ekonomi yang akan turun kepada mereka. Saya tidak menyinggung operasi militer, Saya berharap hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, karena tidak akan menguntungkan pihak manapun."

 

Klaim dan omong besar menlu Amerika ini demi melanjutkan pendekatan pemerintah Donald Trump menerapkan represi besar-besaran kepada Iran dengan harapan Tehran melunak dihadapan tuntutan dan ketamakan Amerika.

 

Pompeo beberapa waktu lalu mengumumkaan 12 prasyarat kepada Iran untuk berundingan dengan Washington. Pernyataan Pompeo tersebut menjadi bahan tertawaan banyak pengamat dan media. Dalam tuntutannya, Pompeo meminta dihentikannya secara penuh program nuklir Iran, pembatasan dan dihentikannya program rudal Iran, serta diakhirinya pengaruh Tehran di kawasan.

Mike Pompe

 

Sejatinya tuntutan Pompeo adalah penyerahan penuh Iran terhadap Amerika. Padahal Iran setelah keluarnya Amerika secara sepihak dari JCPOA yang diumumkan Donald Trump pada 8 Mei 2018, dalam sebuah sikap rasionalnya menyatakan selain memberi waktu tertentu kepada pihak lain di JCPOA di Kelompok 5+1 untuk mengambil langkah pencegahan damapk penerapan kembali sanksi nuklir AS terhadap Iran juga menunjukkan tekad kuatnya untuk memulai kembali program nuklir sipilnya.

 

Dalam hal ini, Iran selain mengumumkan produksi sentrifugal baru di instalasi nuklir Natanz, kini juga mempersiapkan infrastruktur yang tepat bagi mesin sentrifugal baru tersebut. Tehran menekankan bahwa untuk saat ini seluruh aktivitasnya masih berada dalam koridor JCPOA. Tehran juga berulang kali menyatakan tidak bersedia menerima sanksi dan pembatasan.

 

Dalam hal ini, Iran tengah berunding dengan trioka Eropa dan Uni Eropa untuk mendapat jaminan akan implementasi JCPOA. Adapun Rusia dan Cina juga mengharapkan Iran tetap berada di JCPOA.

 

Di kondisi seperti ini, Pompeo dalam statemennya mengancam bahwa Washington ingin menerapkan kekuatan ekonomi terhadap Iran, dan tentunya langkah tersebut akan dalam bentuk sanksi besar-besaran terhadap Tehran.

 

Adapun Presiden AS Donald Trump juga berhalusinasi mampu menyeret Iran ke meja perundingan dengan menerapkan saksi paling keras terhadap Tehran serta mampu meraih kesepakatan baru dengan Iran.

 

Trump dengan rencananya ini bahwa Iran ingin mempertahankan JCPOA tanpa Amerika, pada akhirnya Tehran akan terpaksa berunding dengan Tehran untuk meneken kesepakatan baru. Meski demikian, menimbang interaksi Iran dan AS selama 40 tahun lalu, jelas bahwa Iran tidak perna tunduk dihadapan represi sanksi Amerika, selain itu Washington dengan baik menyadari kekuatan militer defensif Tehran dan mengetahui akan membayar mahal jika berani melakukan segala bentuk petualangan militer anti Iran.

 

Dengan demikian Pompeo dalam wawancaranya menjelaskan bahwa yang ia maksud kemarahan terhadan Iran adalah menerapkan kekuatan ekonomi anti Tehran dan bukannya kekuatan militer. Klaim AS terkait bahwa Iran ingin mengejar senjata nuklir tidak berdasar dan sepenuhnya bohong.

 

Adapun ancaman Washington sepenuhnya berdasarkan halusinasi petinggi Amerika terkait kekuatan negara ini. Di sisi lain realita yang ada menunjukkan keterkucilan dan semakin lemahnya kekuatan serta posisi Amerika di dunia. (MF)