Prospek Kerjasama Bank Investasi Eropa dengan Iran
-
EIB
Para anggota parlemen Eropa pada hari Rabu (4/7/2018) mendukung program kerjasama Bank Investasi Eropa (EIB) dengan Iran dalam rangka mempertahankan kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). EIB merupakan lengan finansial Uni Eropa dalam memberikan layanan keuangan kepada negara-negara yang dimaksud Uni Eropa.
Pengerahan EIB juga menjadi salah satu poros upaya Brussel untuk menjaga hubungan perdagangannya dengan Iran, menyusul keputusan Amerika Serikat memulihkan sanksi anti-Iran pasca keluarnya Washington dari JCPOA.
Para anggota parlemen Eropa dengan mayoritas suara menyetujui program kerja sama EIB dan Iran dengan mayoritas suara mengalahkan para anggota parlemen Eropa yang radikal. Kelompok radikal Europe of Freedom and Direct Democracy (EFDD) di parlemen Eropa, menolak pencabutan batasan aktivitas dagang EIB di Iran, akan tetapi mereka yang mengantongi 93 suara, tersandung dengan 573 suara setuju perdagangan dengan Iran dan 11 suara abstain.
Meski keputusan parlemen Eropa itu tidak mewajiban EIB untuk bekerjasama dengan Iran, akan tetapi mengingat kinerja keseluruhan Uni Eropa untuk mempertahankan JCPOA, lembaga finansial yang Uni Eropa ini juga akan berupaya meningkatkan interaksi finansial dan ekonomi dengan Iran. Meski perdagangan dengan Iran akan berdampak luas pada bank Eropa itu, dan mereduksi keuntungannya dari pasar Amerika Serikat.
Dari sisi teknis, negara-negara Eropa hingga kini dapat mencegah program parlemen Eropa akan tetapi mengingat kinerja pro-JCPOA Uni Eropa tersebut, diharapkan mereka tidak akan mengambil jarak dari kerja sama dengan Iran.
Siegfried Muresan, seorang anggota parlemen Eropa mengatakan, "Kami akan menyerahkan investasi kepada EIB jika ada terbuka peluang proporsional di Iran. Kesepakatan nuklir Iran sangat baik untuk keamanan Eropa. Menyusul keluarnya AS dari JCPOA, negara-negara Eropa berusaha mempertahankan kesepakatan tersebut mengingat berbagai kepentingan keamanan, politik dan ekonomi yag ada sehingga Tehran juga tetap bertahan dalam kesepakatan tersebut."
Menurut rencana dalam hal ini, akan diserahkan paket usulan Eropa pada hari Jumat (6/7/2018) bersamaan dengan sidang komite gabungan JCPOA di tingkat menlu Iran dan negara-negara penandatangan JCPOA di Wina, Austria.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei, menyampaikan beberapa syarat yang harus dipenuhi Eropa, mengingat rekam jejak pengingkaran janji pihak Eropa. Persyaratan tersebut antara lain adalah, pembelian minyak yang diperlukan Iran, hubungan perbankan Eropa dengan Iran, penentangan tegas terhadap sanksi Amerika Serikat, penolakan isu rudal Iran dan partisipasi berpengaruh Iran di kawasan.
Pirooz Izadi, analis politik masalah Eropa, menyinggung berlanjutnya perundingan Iran dan Uni Eropa untuk mempertahankan JCPOA dan mengatakan, "Mengingat kapasitasnya di sejumlah bidang, Eropa dapat mempertahankan hubungannya dengan Tehran, akan tetapi Eropa tampaknya tidak dapat memberikan jaminan pasti untuk hal ini."
JCPOA menurut Eropa adalah sebuah keberhasilan internasional mereka di bidang politik dan diplomasi pasca era Perang Dingin. Sementara pemulihan sanksi nuklir Iran dan juga penambahan sanksi-sanksi baru oleh Amerika Serikat, akan mengancam kepentingan politik, keamanan, perdagangan dan ekonomi Eropa di Iran.(MZ)