"Kemiskinan dan Pemberontakan", Strategi AS Melawan Iran
-
Anti-Amerika di Iran
Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump terang-terangan menerapkan strategi penggulingan kekuasaan Republik Islam Iran.
Bersamaan dengan pengumuman keluarnya Amerika dari kesepakatan nuklir JCPOA dan kembalinya sanksi nuklir atas Iran, Donald Trump secara praktis memasuki fase perang ekonomi dengan maksud menciptakan kemiskinan luas dan menyulut aksi protes yang berujung kerusuhan di Iran.
Sebuah strategi yang lebih dikenal dengan strategi "kemiskinan dan pemberontakan". Amerika berusaha melancarkan perang ekonomi dan memberikan tekanan psikologis untuk menyebarluaskan ketidakpuasan di tengah masyarakat Iran dengan menerapkan sanksi ketat.
Washington terang-terangan mendukung instabilitas dan potensi kerusuhan di Iran. Dalam kerangka ini, Departemen Luar Negeri Amerika, Jumat (3/8) menyatakan dukungannya atas aksi protes jalanan yang terjadi di Iran. Beberapa pejabat senior Amerika bahkan dengan tegas mengumumkan dukungan atas protes di Iran.
Wakil Presiden Amerika, Mike Pence pada 23 Juli 2018 lalu menegaskan, Washington mendukung aksi protes jalanan di Iran dan pemerintahan Donald Trump akan selalu bersama para demonstran Iran.
Seiring naiknya Donald Trump di Amerika, Gedung Putih menerapkan metode propaganda baru terhadap Iran yang bertujuan untuk menyulut kerusuhan di dalam negeri Iran. Target Washington adalah memaksa Iran duduk di meja perundingan dalam posisi lemah dengan Amerika, lewat sanksi yang melumpuhkan perekonomian Iran dan pada akhirnya berharap bisa meraih keunggulan atas Tehran di meja perundingan.
Bayangan Trump dari dampak tekanan ekonomi luar biasa atas Iran adalah tunduknya negara ini. Lewat sanksi, Trump berusaha membuat kehidupan masyarakat Iran semakin sulit dan mereka semakin terhimpit masalah ekonomi, sehingga ia berharap terbuka kemungkinan terciptanya kerusuhan dan instabilitas di dalam Iran.
Strategi Amerika ini tidak lain adalah intervensi dalam urusan internal Iran yang jelas-jelas merupakan langkah yang ilegal menurut aturan internasional dan melanggar ketentuan dunia serta Piagam PBB.
Di saat yang sama, strategi Trump ini menegaskan bahwa ia sama sekali tidak memiliki informasi yang benar tentang rakyat Iran. Pengalaman sejak sekitar 40 tahun lalu menunjukkan bahwa semakin besar tekanan asing terhadap Iran, semakin bertambah pula solidaritas dan persatuan nasional rakyat negara ini.
Rakyat Iran sekarang, lebih dari sebelumnya sangat membenci Amerika dan tidak mempercayai negara itu, terutama terkait perundingan dengan Washington.
Presiden Iran, Hassan Rouhani pada 27 Juni 2018 menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan pernah mau tunduk pada agresor dan kaum arogan. Menurut Rouhani, rakyat Iran akan mengalahkan Amerika dalam pertarungan.
Bangsa Iran hingga kini beberapa kali berhasil menggagalkan konspirasi Amerika dan dengan memperhatikan komitmen total Iran pada kesepakatan nuklir JCPOA, negara-negara anggota Kelompok 5+1 yang lain sama sekali tidak punya alasan untuk mendukung Amerika dalam mengembalikan sanksi atas Iran.
Pada kenyataannya, sekarang dunia berada dalam satu barisan menentang kebijakan anti-Iran yang diterapkan Donald Trump. Masyarakat internasional menyadari dengan baik bahwa strategi penggulingan Republik Islam Iran oleh Amerika, lahir dari dendam negara itu terhadap Iran karena selalu melawan arogansi serta intervensi Washington.
Tanpa diduga, strategi penggulingan Republik Islam Iran ternyata justru semakin menguatkan solidaritas dan persatuan nasional rakyat Iran, serta meningkatkan semangat perlawanan atas imperialisme Amerika terhadap mereka dan bangsa-bangsa tertindas dunia yang lain. (HS)