IEA dan Peringatan Sanksi Minyak Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i60826-iea_dan_peringatan_sanksi_minyak_iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Mei 2018 seraya mengulang dakwaan palsu terhadap Republik Islam Iran mengumumkan keluarnya negara ini dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan pemulihan sanksi nuklir dalam tempo tiga hingga enam bulan kedepan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 11, 2018 15:24 Asia/Jakarta
  • Minyak Iran
    Minyak Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Mei 2018 seraya mengulang dakwaan palsu terhadap Republik Islam Iran mengumumkan keluarnya negara ini dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan pemulihan sanksi nuklir dalam tempo tiga hingga enam bulan kedepan.

Babak pertama sanksi Amerika terhadap Iran telah diberlakukan sejak 7 Agustus 2018, dan mendapat kecaman luas internasional. Adapun babak kedua sanksi Amerika terhadap Iran yang mencakup sanksi minyak akan diberlakukan 4 November 2018.

 

Tujuan utama Amerika menerapkan sanksi baru dan dua tahap sanksi nuklir untuk saat ini adalah mencegah penjualan minyak dan transaksi finansial, perbankan, pedagangan dan ekonomi antara Iran dan negara lain serta pada akhirnya menumbangkan perekonomian Republik Islam. Sejatinya Amerika telah memasuki perang ekonomi habis-habisan dengan Iran.

 

Hal ini telah memicu kekhawatiran di tingkat internasional dan peringatan serius akan dampak dari langkah Washington tersebut. Dalam hal ini Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan, pasar minyak telah memasuki satu fase tenang yang singkat, namun ada potensi di akhir 2018, yakni ketika sanksi minyak Amerika terhadap Iran diberlakukan, pasar minyak global akan diterpa badai.

Minyak Iran

 

Di laporan IEA disebutkan, "Dengan diberlakukannya sanksi minyak terhadap Iran, yang diprediksikan akan dibarengi dengan sejumlah kesulitan produksi di seluruh negara, berlanjutnya pasokan minyak sesuai permintaan pasar akan sangat sulit dan dengan harga pengurangan kapasitas produksi cadangan pasar."

 

Peringatan ini menunjukkan bahwa klaim Amerika terkait bahwa penghapusan minyak Iran dari pasar internasional tidak akan menimbulkan peristiwa khusus adalah tidak benar. Sejatinya pemerintah Donald Trump menganggap bahwa dengan koordinasi sejumlah mitra minyaknya di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, negara ini akan mampu menutupi pasokan minyak Iran dengan meningkatkan produksi dan pemasarannya ke pasar global.

 

Arab Saudi saat ini setiap hari memproduksi sekitar 10,4 juta barel minyak dan di atas kertas mampu menggenjot produknya hingga 12 juta barel perhari, namun peningkatan produksi sebesar ini akan membutuhkan waktu 6-9 bulan serta tidak mungkin dilakukan secara mendadak.

 

Selain itu, memaksimalkan kapasitas produk minyak Arab Saudi secara praktis akan menghancurkan seluruh kapasitas produksi pasar. Dan jika terjadi gangguan di pasokan minyak negara-negara seperti Libya, Venezuela atau Nigeria, maka tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi kekosongan minyak berikutnya. Dengan kata lain, Arab Saudi untuk merealisasikan janjinya akan terpaksa melakukan resiko tinggi.

 

Oleh karena itu, IEA meyakini, masa depan pasar minyak tidak akan pernah bisa tenang seperti saat ini.

 

Di sisi lain, reaksi potensial Iran terhadap sanksi minyak bagi Bara dan sekutu kawasannya juga sangat mengkhawatirkan. Sanksi ini akan mendapat respon tegas dari Republik Islam Iran.

 

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani di lawatan terbarunya ke Eropa menyapaikan peringatan serius kepada Amerika dan sekutu regionalnya terkait upaya memutus ekspor minyak Iran. Rouhani terkait hal ini mengatakan, Amerika mengklaim bahwa mereka ingin secara total mencegah ekspor minyak Iran, ini sama halnya dengan mereka tidak memahami ucapan, karena tidak ada artinya bahwa minyak Iran tidak diekspor dan saat itu minyak kawasan di ekspor. Jika Anda mampu makan lakukanlah sehingga Anda menyaksikan hasilnya.

 

Sikap presiden Iran didukung oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Rahbar pada 21 Juli mengungkapkan bahwa pidato presiden di kunjungan terbarunya ke Eropa bahwa jika minyak Iran tidak dapat diekspor, maka minyak negara kawasan pun tidak dapat diekspor adalah statemen penting dan menunjukkan kebijakan serta pendekatan pemerintah.

 

Isu lain bahwa babak baru sanksi anti Iran oleh Washington tengah diberlakukan dan berbeda dengan sebelumnya, tapi Amerika dalam hal ini sepenuhnya sendiri dan mengingat komitmen penuh Iran terhadap JCPOA, negara lain khususnya Kelompok 4+1 tidak memiliki alasan untuk mengamini Washington di sanksi terbarunya anti Tehran.

 

Sejatinya kini dunia berada dalam satu barisan, menentang aksi-aksi anti Iran oleh Presiden Trump dalam bentuk penerapan sanksi baru. (MF)