Pembatalan Kunjungan Menlu AS ke Korut
-
Trump telah membatalkan kunjungan Menlu AS Mike Pompeo ke Korea Utara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama ini selalu memperkenalkan dirinya sebagai presiden yang sukses dengan pencapaian yang menurutnya signifikan di dalam dan luar negeri.
Salah satu prestasi Trump adalah melakukan perundingan langsung dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk memecahkan krisis nuklir dan rudal di Semenanjung Korea.
Trump dan Kim bertemu di Singapura pada 12 Juni 2018 dan kedua pihak kemudian menandatangani sebuah kesepakatan, yang meminta Korut melakukan denuklirisasi, sementara AS berkewajiban untuk memberikan jaminan keamanan kepada negara itu.
Namun, pelaksanaan kesepakatan itu secara praktis menghadapi hambatan serius, karena AS tidak memenuhi komitmennya dan justru mendesak Pyongyang secara sepihak untuk melaksanakan kesepakatan tersebut.
Trump pada Jumat (24/8/2018) malam, membatalkan rencana kunjungan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ke Pyongyang, karena proses pelucutan senjata nuklir Korut tidak mengalami kemajuan.
Trump via akun Twitter-nya menulis, "Saya telah meminta Menlu Mike Pompoe untuk tidak mengunjungi Korut pada saat ini, karena menurut saya, kemajuan yang cukup belum terjadi sehubungan dengan denuklirisasi Semenanjung Korea."
Pompeo rencananya akan mengunjungi Pyongyang untuk keempat kalinya dengan tujuan membujuk Korut untuk memulai proses denuklirisasi.
Sebenarnya, Korut telah mengambil langkah-langkah dalam konteks pelaksanaan kesepakatan Singapura, termasuk menghancurkan situs uji coba nuklir. Sebaliknya, AS belum mengambil tindakan apapun yang sejalan dengan kesepakatan.
Pada dasarnya, AS mengharapkan Cina untuk memainkan peran kunci dalam mendorong Korut melaksanakan kesepakatan Singapura, akan tetapi perang dagang di antara kedua pihak telah menghambat upaya tersebut. Dalam hal ini, Trump mengatakan, "Saya tidak percaya Beijing sedang membantu proses denuklirisasi di Semenanjung Korea seperti di masa lalu."
Presiden AS menganggap Cina sebagai penghalang utama bagi kemajuan implementasi kesepakatan antara Washington dan Pyongyang. Namun, dia percaya kemajuan akan kembali dicapai setelah Washington menyelesaikan perselisihan perdagangan dengan Beijing.
Meskipun Cina memainkan peran dominan dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri Korut, namun tudingan Trump terhadap Beijing dapat dianggap sebagai upaya untuk menyalahkan pihak lain atas kegagalan Gedung Putih.
Para pejabat Pyongyang percaya bahwa AS belum mengambil tindakan yang jelas dalam konteks pelaksanaan kesepakatan bilateral, dan mereka malah meningkatkan tekanan dengan memperpanjang sanksi terhadap Korut. Oleh karena itu, implementasi kesepakatan tersebut secara praktis telah terhenti.
Trump tampaknya menganggap remeh persoalan-persoalan yang rumit seperti, pelucutan senjata nuklir Korut dan sekarang salah satu prestasinya di tingkat internasional – yaitu denuklirisasi Korut – akan bernasib gagal. (RM)