Pembatalan Kunjungan Menhan AS ke Cina
-
Trump telah memberlakukan tarif impor terhadap produk-produk Cina dalam dua tahap senilai 250 miliar dolar.
Pasang surut dan ketegangan mewarnai hubungan Amerika Serikat dan Cina sejak Presiden Donald Trump memerintah di Gedung Putih. Perselisihan kedua pihak menyentuh bidang politik, perdagangan dan ekonomi, militer dan keamanan, serta strategis.
Cina bersama Rusia merupakan penentang utama unilateralisme Trump terkait isu-isu global, dan Beijing juga mengkritik keras kebijakan proteksionis AS dalam urusan bisnis.
Trump telah memberlakukan tarif impor terhadap produk-produk Cina dalam dua tahap yang bernilai 250 miliar dolar. Cina kemudian mengambil tindakan balasan dan kedua negara secara resmi memasuki perang dagang.
"Perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun," ujar Perdana Menteri Cina Li Keqiang.
Washington dan Beijing juga terlibat konfrontasi di ranah militer dan strategis. Sekarang perang dagang dan gesekan di Laut Cina Selatan telah menyebabkan eskalasi ketegangan antara dua kekuatan dunia itu.
Dosen George Washington University, Robert Sutter percaya bahwa Cina dan Amerika tidak mampu memanajemen konflik di antara mereka.
Saat ini, perselisihan utama kedua negara fokus pada upaya militer Beijing untuk meningkatkan dan memperluas ekspansinya di Laut Cina Selatan dan Timur. Tindakan ini secara praktis merampas pengaruh tradisional Amerika di Asia Timur, dan Washington mereaksi keras kehadiran tersebut.
Menteri Pertahanan AS James Mattis pada hari Senin (1/10/2018) membatalkan kunjungannya ke Cina. Dia dijadwalkan bertemu dengan para pejabat Beijing untuk membahas masalah keamanan pada Oktober ini.
Pembatalan ini diumumkan satu hari setelah kapal perang Amerika terlibat ketegangan dengan kapal perang Cina saat melintasi Kepulauan Spratly, yang diklaim sebagai perairan Cina.
AS telah meningkatkan keterlibatannya di wilayah Asia-Pasifik dan masuk terlalu jauh dalam sengketa wilayah antara Cina dan para tetangganya di Laut Cina Selatan dan Timur.
"AS akan melanjutkan patrolinya di Laut Cina Selatan untuk memastikan kebebasan navigasi," tegas Mattis.
AS memilih mendukung negara-negara tetangga Cina dan meningkatkan transaksi perdagangan senjata dengan mereka. Pada dasarnya, AS menolak klaim-klaim Cina atas kepemilikan pulau-pulau di Laut Cina Selatan dan Timur dan untuk itu, AS melakukan patroli laut dan udara secara intensif di wilayah tersebut dan memamerkan kekuatan militernya di hadapan Cina.
Di lain pihak, Cina menentang intervensi kekuatan asing di kawasan dan menganggap kehadiran armada tempur AS sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.
Oleh karena itu, Beijing memilih meningkatkan pengaruh militernya di Laut Cina Selatan dan Timur, termasuk memacu pengembangan rudal. (RM)