Ancaman Militer AS terhadap Rusia
-
Pasukan Amerika Serikat.
Perselisihan dan ketegangan dalam hubungan Rusia dan Amerika Serikat terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Kepentingan kedua kekuatan dunia ini saling berbenturan di bidang ekonomi, militer, keamanan, dan energi.
Washington bahkan menganggap Rusia sebagai ancaman terbesar terhadap AS dan juga sebagai ancaman nuklir nomor satu. Sebagai aksi balasan, Moskow juga menyebut AS sebagai ancaman serius terhadap keamanan Rusia.
Persoalan ini sekarang menemukan dimensi baru dan AS dalam sebuah sikap yang paling keras mengancam akan menyerang Rusia. AS mengancam akan menghancurkan sistem rudal Rusia jika dianggap perlu.
Duta Besar AS untuk NATO, Kay Bailey Hutchison pada Selasa (2/10/2018) mengatakan, Rusia harus menghentikan pengembangan rahasia dari sistem rudal jelajah terlarang atau AS akan berusaha menghancurkannya sebelum itu beroperasi.
"Washington tetap berkomitmen pada solusi diplomatik, tetapi siap untuk mempertimbangkan serangan militer jika pengembangan sistem jarak menengah itu terus berlanjut," tegasnya.
AS mengklaim bahwa Rusia sedang mengembangkan sebuah sistem rudal yang melanggar perjanjian Perang Dingin. Sistem ini akan memungkinkan Rusia untuk meluncurkan serangan nuklir di Eropa dalam waktu singkat. Namun, Moskow secara konsisten membantah tuduhan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menganggap statemen duta besar AS untuk NATO dan ancamannya untuk melakukan serangan militer sebagai pernyataan yang berbahaya.
"Tampaknya orang-orang yang membuat pernyataan seperti itu, tidak menyadari tingkat tanggung jawab mereka dan bahaya retorika agresif," kata juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova.
Sebelum ini, Menteri Dalam Negeri AS Ryan Zinke mengatakan Angkatan Laut AS mampu memberlakukan blokade laut terhadap Rusia untuk membatasi peran negara itu dalam mengendalikan pasokan engeri global.
Pemerintah Rusia menganggap realisasi tindakan itu sebagai deklarasi perang.
Statemen keras dua pejabat AS terhadap Rusia tentu saja tidak keluar tanpa koordinasi dengan Gedung Putih dan ini bisa menjadi sinyal dari rencana AS untuk membatasi kemampuan Rusia di bidang rudal dan energi.
Level ketegangan antara Amerika dan Rusia berpotensi mengarah pada konfrontasi langsung militer. Dengan kata lain, pecahnya perang antara dua kekuatan nuklir.
Washington sedang meluncurkan perlawanan aktif untuk membatasi gerak Moskow di bidang militer dan energi. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa Rusia tidak akan tinggal diam dalam menanggapi retorika agresif itu dan mereka tentu akan mengambil aksi balasan.
Ketegangan lebih lanjut antara AS dan Rusia akan mendorong instabilitas dan ketidakamanan global pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pasca Perang Dingin. (RM)