Penolakan Putin terhadap Unilateralisme AS
-
Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kebijakan unilateral Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membuat negaranya semakin terisolasi di dunia.
Sejalan dengan slogan America First, Trump percaya bahwa unilateralisme akan meningkatkan kekuatan AS untuk melawan rival-rivalnya. Slogan ini memprioritaskan kepentingan dan misi AS dengan mengabaikan kepentingan negara lain.
Kekuatan-kekuatan dunia rival Washington, terutama Moskow dan Beijing dianggap sebagai ancaman terbesar terhadap keamanan AS.
Rusia menentang keras pendekatan unilateral dan arogan AS serta menolak dikte pemerintahan Trump terhadap negara-negara lain.
Presiden Vladimir Putin dalam pertemuan dengan sejumlah duta besar baru negara-negara dunia di Moskow, Kamis (12/10/2018) mengatakan dalam kebijakan luar negeri, Rusia selalu berkomitmen pada prinsip non-intervensif dalam urusan negara lain dan menentang keras penggunaan kekerasan dan dikte di kancah internasional.
Menurut Putin, kebijakan dan sikap Trump secara eksplisit berbicara tentang supremasi Amerika dan keharusan pemerintah negara lain untuk mengikuti kebijakan mereka serta mengedepankan kepentingan Paman Sam.
Saat ini, AS bangkit melawan dua kekuatan internasional yaitu Cina dan Rusia dan menciptakan tantangan bagi kedua negara itu di banyak bidang. Tidak hanya itu, Trump selalu mengklaim bahwa kawan dan lawan AS telah memanfaatkan Washington dan situasi ini perlu dirubah.
Trump ingin melanjutkan dan mengintensifkan upaya Gedung Putih untuk memaksakan kehendak dan dikte kepada negara lain, termasuk kawan dan lawan dan bahkan sekutu strategis Amerika sendiri.
Namun, banyak pemimpin dunia termasuk para sekutu Washington di Eropa menyatakan prihatin terhadap kebijakan Trump. Mereka menilai pendekatan itu akan mengikis kepercayaan negara-negara lain pada AS dan pada akhirnya menyebabkan Washington terkucil.
Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian menuturkan, "Trump masuk ke Gedung Putih dengan slogan America First, tetapi sekarang sudah melangkah lebih jauh dengan slogan America Alone. Amerika menekankan superioritasnya di setiap pembicaraan bilateral."
Trump ingin mengejar kepentingan AS di dunia dengan cara-cara pemaksaan kehendak dan unilateralisme, termasuk dalam masalah kesepakatan nuklir. AS menganggap dirinya polisi dunia dan bertanggung jawab untuk menangani persoalan global melalui penggunaan kekuatan militer dan kekuatan semi lunak yaitu; kekuatan ekonomi dan penerapan sanksi.
Padahal, tatanan global saat ini sedang bergerak ke arah multipolar, sementara pendekatan AS benar-benar tidak sejalan dengan fakta-fakta iklim dunia dan tren global.
Di pihak lain, Rusia menekankan multilateralisme dan urgensitas memecahkan persoalan global melalui wadah PBB.
"Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, mendukung prinsip-prinsip dasar yang diabadikan dalam piagam organisasi yaitu; kedaulatan, kesetaraan negara, dan tidak campur tangan dalam urusan pihak lain," tegas Putin.
"Kami menolak keras penggunaan langkah-langkah proteksionis bermotif politik dan pemaksaan dikte, yang mengabaikan norma-norma dan hukum internasional," tambahnya.
Moskow percaya bahwa saat ini diplomasi berperan sangat efektif untuk menyelesaikan krisis dalam hubungan internasional serta menanggapi ancaman dan tantangan baru. (RM)