Kegagalan AS Hentikan Penjualan Minyak Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i63954-kegagalan_as_hentikan_penjualan_minyak_iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengkritik kesepakatan nuklir Iran dan berusaha memaksa Tehran agar menerima permintaan Washington melalui sanksi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 08, 2018 16:38 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump.
    Presiden AS Donald Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengkritik kesepakatan nuklir Iran dan berusaha memaksa Tehran agar menerima permintaan Washington melalui sanksi.

Pemerintahan Trump telah mengumumkan sanksi dua tahap terhadap Iran dan tahap pertama sudah berlaku sejak Agustus 2018. Tahap kedua sanksi resmi dilaksanakan pada 5 November 2018 dan Washington melakukan propaganda besar-besaran untuk kesuksesan sanksi ini.

Salah satu target utama sanksi baru AS adalah menghentikan penjualan minyak Iran. Washington sebelum ini mengklaim pihaknya akan menekan ekspor minyak Iran ke angka nol mulai 5 November, namun beberapa hari sebelum sanksi berlaku, mereka mengeluarkan pengecualian kepada delapan negara agar tetap bisa membeli minyak dari Iran.   

Pengecualian ini diberikan kepada klien terbesar minyak Iran yaitu; Jepang, Cina, India, Korea Selatan, Taiwan, Italia, Yunani dan Turki.

Langkah mundur AS memicu banyak reaksi dari media dan analis, dan mereka menggambarkan ancaman pemerintahan Trump sebagai omong kosong.

Sekarang, para pejabat Gedung Putih sedang mencari pembenaran atas kegagalannya ini. Trump dalam sebuah konferensi pers pada Rabu kemarin, menyinggung tentang sanksi minyak Iran dan pemberian pengecualian kepada delapan negara.

"Saya tidak ingin harga minyak naik hingga 100 dolar per barel atau 150 dolar dan saya sudah mengeluarkan keringanan ini untuk mendorong harga turun. Namun sanksi akan lebih berat dari waktu ke waktu," kata Trump.

Pengakuan ini mengindikasikan dua hal: pertama, para pengambil keputusan di Gedung Putih tidak mempertimbangkan dampak dari sanksi ini, termasuk kenaikan harga minyak di pasar dunia dan di Amerika sendiri. Mereka baru menyadari telah membuat keputusan yang prematur, tanpa melihat semua aspek.

Dan kedua, adanya keringanan merupakan indikasi dari perlawanan dunia terhadap keputusan sepihak dan sewenang-wenang pemerintahan Trump, yang menganggap sanksi minyak Iran bertentangan dengan kepentingan nasional mereka dan tidak bersedia mengikuti kebijakan sanksi AS.

Dalam hal ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara terbuka mengatakan bahwa Ankara tidak akan mengikuti sanksi Washington terhadap Iran.

Oleh karena itu, Trump tidak punya jalan lain kecuali memberikan pengecualian dan membiarkan ekspor minyak Iran tetap mengalir demi menjaga stabilitas harga di pasar global.

Pengumuman sanksi minyak Iran telah mendorong kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Harga bensin di Amerika juga ikut naik dan ketidakpuasan masyarakat berdampak pada pemerintahan Trump dan Partai Republik.

Bagaimana pun, negara-negara seperti Turki dan Cina menekankan tekad mereka untuk terus membeli minyak dari Iran, dan sanksi Amerika tampaknya tidak akan mengubah keputusan negara tersebut. (RM)