Polemik Penarikan Pasukan AS dari Suriah
https://parstoday.ir/id/news/world-i66073-polemik_penarikan_pasukan_as_dari_suriah
Sejak awal krisis Suriah meletus di tahun 2011, AS bersama sekutu Eropa dan Arab menggunakan kekuatan militernya untuk membantu kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di negara ini demi menggulingkan pemerintahan Damaskus.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 01, 2019 17:19 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS di Suriah
    Pasukan AS di Suriah

Sejak awal krisis Suriah meletus di tahun 2011, AS bersama sekutu Eropa dan Arab menggunakan kekuatan militernya untuk membantu kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di negara ini demi menggulingkan pemerintahan Damaskus.

AS dan sekutunya mengintervensi urusan Suriah dengan menurunkan pasukan ke negara ini dengan tujuan untuk mengganti pemerintahan Bashar Assad dan menghancurkan gerakan perlawanan terhadap rezim Zionis di kawasan. Tapi ambisi mereka gagal dan plot mereka membentur dinding. 

Analis politik, Ivan Ipolitov mengatakan, AS selama beberapa tahun terakhir senantiasa menggunakan kelompok-kelompok teroris dan ekstremisme untuk meraih kepentingan luar negerinya.

Campur tangan AS di Suriah hingga kini tidak membuahkan hasil sebagaimana diharapkan Washington. Pasalnya, tingkat pengaruh Gedung Putih dalam transformasi Suriah kian hari semakin melemah. Padahal AS dan sekutunya telah mengerahkan dana dan pasukan yang tidak kecil. Masalah ini dilihat oleh Presiden AS, Donald Trump sebagai beban finansial yang harus dipikul Gedung Putih. Akhirnya, Trump secara mendadak mengumumkan penarikan pasukan AS dari Suriah yang disampaikan pada 19 Desember 2018.

Trump mengklaim, pasukan AS ditarik dari Suriah karena sudah memenangkan pertempuran menghadapi kelompok teroris Daesh, sehingga tidak ada alasan untuk terus bercokol di negara Arab itu. Tapi tampaknya keputusan penarikan pasukan AS ini masih tarik ulur dengan kepentingan pihak lain di negaranya, terutama kalangan pejabat tinggi Pentagon.

Pangkalan militer AS di Suriah

Indikasi awal bisa dilihat dari pernyataan terbaru para pejabat tinggi AS yang mengungkapkan bahwa Trump memberikan tenggat waktu selama empat bulan bagi implementasi penarikan penuh pasukan AS dari Suriah. Padahal sebelumnya Trump mengeluarkan instruksi supaya pasukan AS secepatnya ditarik dari Suriah dalam waktu paling lambat 30 hari.

Masalah ini memperlihatkan sebuah fakta bahwa Trump tidak memahami dengan baik situasi dan kondisi yang terjadi di medan tempur Suriah saat ini, juga posisi milisi dan paramiliter di Suriah yang selama ini didukung Washington.

Di sisi lain, struktur politik utama di AS, terutama di Kongres menentang penarikan pasukan negara ini dari Suriah yang dinilai bertentangan dengan kepentingan regional negara ini di kawasan Timur Tengah. Mengenai masalah ini, profesor politik dari Universitas Alabama, Nader Entessar mengatakan, keputusan AS atau lebih tepatnya keputusan pribadi Trump sepenuhnya tidak terduga dan menjadi kejutan bagi struktur politik luar negeri AS.

Pihak oposan Trump menilai keputusan penarikan pasukan AS dari Suriah sebagai bentuk kekalahan penuh negara ini dalam perang di Suriah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan berbagai faktor dan dampak yang akan diterima oleh Washington dan sekutunya.

Dari pihak Suriah, pemerintah Damaskus menilai kehadiran pasukan AS dan kekuatan asing lainnya di Suriah yang datang tanpa undangan sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap kedaulatan sebuah negara, sekaligus bentuk dari agresi militer, oleh karena itu pasukan AS harus keluar dari Suriah.(PH)