Motif Politik Penangkapan Marzieh Hashemi
https://parstoday.ir/id/news/world-i66876-motif_politik_penangkapan_marzieh_hashemi
Dubes Swiss, Markus Leitner, yang mewakili kepentingan AS di Tehran dipanggil kementerian luar negeri Iran untuk menerima nota protes terhadap Washington mengenai penangkapan jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Jan 23, 2019 16:09 Asia/Jakarta
  • Jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi
    Jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi

Dubes Swiss, Markus Leitner, yang mewakili kepentingan AS di Tehran dipanggil kementerian luar negeri Iran untuk menerima nota protes terhadap Washington mengenai penangkapan jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi.

"Dengan mempertimbangkan berlanjutnya penahanan jurnalis Press TV dan warga Iran, Marzieh Hashemi hingga kini, Dubes Swiss, Markus Leitner, yang mewakili kepentingan AS di Tehran, hari Selasa dipanggil untuk menerima nota protes dari Republik Islam Iran," ujar Jubir Kemenlu Iran.

"Direktorat urusan Amerika kementerian luar negeri Iran menyerahkan nota protes resmi kepada Duta Besar Swiss sebagai bentuk protes terhadap perlakuan tidak berperikemanusiaan dan rasis pejabat pemerintah AS terhadap jurnalis Press TV, dan mendesak pembebasan tanpa syarat Hashemi," tegas Bahram Ghassemi.

Kemlu Iran dalam nota protes tersebut menekankan bahwa sepak terjang polisi federal AS terhadap jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi bertentangan dengan aturan internasional dan melanggar HAM.

Perempuan AS berusia 59 tahun yang lahir dengan nama Melanie Franklin ini ditahan ketika tiba di St. Louis Lambert International Airport in St. Missouri, Minggu, 13 Januari 2019.

Otoritas keamanan AS sejauh ini menolak untuk memberikan alasan penahanan Marzieh kepada keluarganya. Bahkan pihak pengadilan AS sendiri tidak menyebutkan apa kesalahannya ditangkap dan diadili.

Pengadilan pertama terhadap Marzieh Hashemi digelar pada hari Jumat (17/1) tidak menyebut Marzieh sebagai terdakwa tapi sanksi kunci. Ironisnya hingga kini jurnalis Press TV tersebut masih belum dibebaskan.

Marzieh Hashemi

Hingga kini Marzieh dua kali dipanggil ke pengadilan AS untuk memberikan kesaksian. Meskipun posisinya dinyatakan sebagai saksi, tapi dia diperlakukan seperti kriminal, sebagaimana disampaikan jurnalis Press TV ini dalam kontak telpon dengan keluarganya setelah dua hari ditahan.

Marzieh memberitahukan putrinya bahwa dia diborgol, dirantai kakinya dan diperlakukan seperti penjahat. Dia juga dipaksa melepas jilbab, bahkan difoto tanpa kerudung setibanya di penjara. Tidak hanya itu, Marzieh  hanya diberi makanan dari daging babi, padahal sipir penjara tahu bahwa dia adalah seorang Muslimah. Akhirnya, Marzieh menolak mengkonsumsi makanan haram tersebut.

Seluruh perlakuan tersebut menunjukkan pelanggaran terang-terangan AS terhadap HAM. Bukan kali ini saja pemerintah AS memperlakukan Muslim, kulit hitam dan etnis lain, bahkan jurnalis, secara tidak berperikemanusiaan, dan menginjak nilai-nilai hak asasi manusia dan kebebasan.

Direktur Eksekutif Russia Today, Dmitry Kiselyov mengatakan "AS mengambil sandera dari seluruh dunia untuk mewujudkan kepentingan politiknya di negara lain. Kali ini amat disayangkan AS melakukan hal serupa terhadap seorang jurnalis perempuan yang ditangkap belum lama ini,".

Penangkapan Marzieh Hashemi sebagai seorang jurnalis perempuan menjadi perhatian publik dunia. Masyarakat dunia tidak menemukan alasan hukum dibalik penangkapan jurnalis media Iran ini. Tampaknya, yang tersisa hanya dalih politik yang mengabaikan seluruh aturan hukum, prinsip HAM dan ketentuan internasional. Oleh karena itu harus ada upaya lebih kuat di tingkat internasional untuk mengupayakan pembebasan jurnalis perempuan ini, dan penghentikan pengulangan aksi serupa oleh AS terhadap korban lainnya.(PH)