Ketika Amerika Serikat Menerapkan Sanksi Penuh terhadap Venezuela
https://parstoday.ir/id/news/world-i72631-ketika_amerika_serikat_menerapkan_sanksi_penuh_terhadap_venezuela
Selama masa kepresidenan Donald Trump, Amerika Serikat telah memfokuskan upayanya untuk menggulingkan pemerintah sosialis Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro serta ingin membawa pemerintah pro-AS yang dipimpin oleh Juan Guaido, pemimpin oposisi negara ini, sementara dalam prosesnya, Washington menggunakan semua cara yang mungkin, termasuk sanksi secara luas.
(last modified 2026-03-21T17:31:19+00:00 )
Aug 07, 2019 09:33 Asia/Jakarta

Selama masa kepresidenan Donald Trump, Amerika Serikat telah memfokuskan upayanya untuk menggulingkan pemerintah sosialis Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro serta ingin membawa pemerintah pro-AS yang dipimpin oleh Juan Guaido, pemimpin oposisi negara ini, sementara dalam prosesnya, Washington menggunakan semua cara yang mungkin, termasuk sanksi secara luas.

Dalam hal ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dekrit yang berisikan perintah merampas semua properti pemerintah Venezuela dan melarang semua perusahaan dan individu AS dan non-AS dari setiap pertukaran finansial atau perdagangan dengannya. Trump mengumumkan Senin, 5 Agustus, bahwa ia telah menerapkan sanksi ekonomi skala penuh melalui dekrit presiden.

Sesuai dengan dekrit presiden yang dikeluarkan Trump, semua properti pemerintah konstitusional Venezuela dan lembaga-lembaga afiliasinya di Amerika Serikat disita dan perdagangan dengannya dilarang kecuali dalam bahan-bahan tertentu. Presiden AS dalam surat kepada Kongres menulis, "Adalah penting untuk merampas seluruh properti pemerintah Venezuela karena perebutan kekuasaan yang berkelanjutan oleh rezim ilegal Nicolas Maduro ..."

Presiden Trump menandatangani dekrit presiden AS (ilustrasi)

Dalam surat itu, Trump menuduh Maduro melanggar hak asasi manusia, penangkapan sewenang-wenang dan penahanan warga Venezuela, menekan kebebasan media dan berusaha melemahkan pemimpin oposisi Juan Guaido. Presiden AS telah Kamis lalu, 1 Agustus, mengumumkan bahwa Washington sedang bekerja untuk memberikan tekanan maksimum guna memblokade Venezuela. Utusan khusus Amerika Serikat Elliott Abrams baru-baru ini juga mengatakan bahwa Trump akan terus memberikan lebih banyak tekanan pada Venezuela untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Dengan demikian, langkah Washington untuk menggulingkan Maduro telah mencapai tingkat yang baru. Langkah Trump yang belum pernah terjadi sebelumnya dapat dikaitkan dengan keputusasaan AS terhadap kubu oposisi Venezuela untuk dapat menggulingkan Maduro dan, pada saat yang sama, perlawanan efektif pemerintah Venezuela terhadap tekanan Amerika dan yang lebih penting dari semua kegeraman Trump adalah dukungan dari sebagian besar rakyat Venezuela untuk Maduro.

Faktanya, setelah kegagalan penggulingan Maduro dan pemerintah sosialis Venezuela, pemerintahan Trump sekarang menerapkan sanksi penuh yang berarti telah melakukan campur tangan maksimum dalam urusan internal Venezuela. Langkah-langkah pemerintah Trump menurut aturan internasional dan PBB adalah ilegal karena telah mencampuri urusan internal negara Amerika Latin yang kaya minyak ini.

Sekalipun demikian, dalam mengejar kebijakan sepihak dan arogan Trump yang berupaya untuk mencapai tujuan AS bahkan dengan biaya melanggar hukum internasional dan aturan yang diakui secara internasional, Washington tanpa malu-malu lagi masih melakukan tindakan destruktif terhadap Venezuela.

Pada saat yang sama, meskipun telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan antara pemerintah dan oposisi yang dimediasi Norwegia untuk menemukan solusi bagi krisis politik Venezuela, Washington tidak hanya berusaha menggagalkannya dan mendorong oposisi untuk bersikeras pada tuntutannya agar Maduro lenger dari kekuasaannya, bahkan AS telah mengumumkan penentangannya terhadap pemilihan umum sebelum pengunduran diri Maduro.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton hari Senin, 5 Agustus mengatakan bahwa Amerika Serikat menentang pemilu baru di Venezuela sementara Presiden Nicolas Maduro masih tetap berkuasa. Bolton menekankan bahwa negosiasi yang sedang berlangsung antara pemerintah Venezuela dan kubu oposisi di Barbados tidak serius dan memungkinkan Maduro untuk mengulur waktu.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton

Juan Guaido, pemimpin oposisi Venezuela pada 23 Januari 2019, dengan dukungan eksplisit Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden Venezuela, sebuah langkah yang oleh pemerintah dan bangsa Venezuela disebut kudeta terhadap Presiden terpilih Nicolas Maduro. Gedung Putih ketika mengakui secara resmi pernyataan Guaido, berharap pemimpin kubu oposisi ini dapat menggulingkan Maduro dalam beberapa hari dan dapat menarik dukungan dari kalangan militer. Tetapi setelah beberapa bulan, skenario ini hampir gagal dan upaya Washington untuk membujuk militer untuk mendukung Guaido telah gagal.