Benarkah AS tak Butuh Minyak Lagi dari Timur Tengah ?
-
kapal induk Amerika di Teluk Persia
Amerika Serikat di masa Presiden Donald Trump nyata-nyata meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia dan Asia Barat (Timur Tengah), pada saat yang sama Trump mengklaim bahwa Amerika sekarang tidak membutuhkan lagi minyak dari Timteng.
Berbicara di hadapan pendukungnya di Monaca, Pennsylvania, pada hari Selasa (13/8/2019) Donald Trump menuturkan, sekarang kita tidak memerlukan minyak dan gas lagi dari Timur Tengah. Kita bukan hanya menginginkan independensi energi, bahkan dominasi atas pasar energi dunia. Daripada bergantung pada negara lain, kita sekarang bersandar pada produsen dalam negeri. Kita bersandar pada pekerja Amerika untuk membangun masa depan kita di tanah Amerika.
Ia menambahkan, mungkin Anda menyaksikan apa yang terjadi di Selat Hormuz. Kapal-kapal Amerika tidak banyak di sana, Iran menangkapi kapal-kapal negara lain, tapi tidak kapal kita. Kapal-kapal Amerika tidak banyak yang berlayar ke sana, karena kita punya minyak dan gas sendiri.
Pertanyaannya adalah, jika Washington benar-benar tidak memerlukan lagi minyak dan gas dari Timur Tengah, lalu apa tujuan penambahan pasukan negara itu di kawasan, khususnya Teluk Persia ?
Sejak masa perang dingin dan setelahnya, Amerika terus meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia dan sekitarnya dengan dalih menjaga keamanan pasokan energi yang dibutuhkan oleh negara itu dan sekutunya.
Namun dengan alasan kemajuan teknologi produksi minyak Shale, sekarang Amerika mengklaim diri sebagai negara produsen minyak terbesar dunia dan tidak perlu lagi impor.
Lagi-lagi, jika klaim ini benar, lalu mengapa Washington terus menambah pasukan di Teluk Persia, bahkan dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini, dan tuduhan peningkatan instabiitas di Teluk Persia, untuk apa Washington membentuk koalisi maritim di kawasan ?
Jawabannya dapat ditemukan dalam kebijakan imperialis Amerika di kawasan Asia Barat, upayanya melindungi keamanan rezim Zionis Israel dan penjualan senjata ke negara-negara kawasan lewat penyebaran Iranfobia.
Dalam pandangan Trump, negara-negara Arab sekitar Teluk Persia khususnya Arab Saudi hanyalah sapi-sapi perahan yang harus diperah sampai habis.
Tidak diragukan pembentukan koalisi maritim di Teluk Persia oleh Amerika dilakukan dalam kerangka kebijakan tekanan maksimum atas Iran, tidak sekedar atas dasar dalih melindungi kapal-kapal dagang, namun kenyataannya proek ini tidak mendapat sambutan dari negara dunia, dan hanya diikuti Inggris dan Israel.
Amerika tidak berhenti di sini, dan sekarang sedang berusaha mengajak negara-negara lain untuk bergabung dalam koalisi yang dipimpinnya di Teluk Persia. Salah satu negara yang dibujuk Amerika untuk bergabung baru-baru ini adalah Yunani, namun permintaan Amerika kali ini juga ditolak.
Terus mendapat jawaban negatif dari negara-negara sekutunya, Trump menegaskan bahwa perlindungan atas kapal-kapal dagang negara besar seperti Cina, Jepang dan Korea Selatan di Teluk Persia harus dilakukan mereka sendiri, bukan Amerika, Washington tidak bertanggung jawab atas ini.
Namun di sisi lain Amerika bersikeras membentuk koalisi militer di Teluk Persia, jadi sebenarnya tujuan asli Amerika adalah menekan Iran dan menemukan dalih untuk mengeruk sebesar mungkin uang negara-negara Arab sekutunya. (HS)