Peringatan akan Resesi Ekonomi AS; Tren yang Bertentangan dengan Klaim Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i72904-peringatan_akan_resesi_ekonomi_as_tren_yang_bertentangan_dengan_klaim_trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam salah satu klaimnya menganggap sedang terjadi kegairahan ekonomi di Amerika, perbaikan kondisi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di negara ini dan berulang kali mempromosikannya di berbagai pidato dan tweetnya.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Aug 16, 2019 13:36 Asia/Jakarta
  • Resesi ekonomi AS
    Resesi ekonomi AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam salah satu klaimnya menganggap sedang terjadi kegairahan ekonomi di Amerika, perbaikan kondisi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di negara ini dan berulang kali mempromosikannya di berbagai pidato dan tweetnya.

Namun, sekarang ada peringatan serius tentang bakal terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat. Suku bunga AS jangka pendek telah jatuh di bawah suku bunga jangka panjangnya dan permulaan penurunan indeks saham Eropa dan AS, khususnya penurunan tajam nilai saham Wall Street, merupakan peringatan akan kemerosotan lain dalam ekonomi AS.

Wall Street

Situs Politico menyinggung penurunan tajam dalam perdagangan Wall Street hari Rabu, 14 Agustus dan menyatakan, "Badai yang hari ini terjadi dan proses penurunan tajam nilai perdagangan di Wall Street merupakan peringatan akan terjadinya resesi lain dalam ekonomi AS."

Pada hari Rabu sore, pasar saham AS menyaksikan kondisi merah dan indeks perusahaan industri terkemuka, Dow Jones, turun 452 poin. Harga minyak mentah Brent turun hampir dua dolar menjadi 59 dolar 32 sen, dengan meningkatnya kemungkinan resesi ekonomi di AS dan begitu juga di Jerman.

Anjloknya Bursa Efek New York dan pasar saham lainnya yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama di Eropa, telah memicu kekhawatiran bahwa pemerintah Trump akan terjebak resesi ekonomi di tahun 2020 mendatang, yang bisa mempersulit kemenangannya dalam pemilihan presiden tahun itu. Televisi CNN pada akhir Juli 2019 menggambarkan pendekatan Presiden Donald Trump terhadap ekonomi yang dibayangi resesi sebagai berbahaya.

Para analis ekonomi percaya bahwa Trump telah memicu guncangan kuat terhadap ekonomi AS dengan memicu perang dagang, terutama dengan Cina, dimana lembaga-lembaga keuangan federal seperti Kementerian Keuangan dan Federal Reserve AS tidak akan dapat mengendalikannya.

Ketika kejatuhan indeks pasar saham AS terus turun, pemerintah Trump takut dan merevisi beberapa keputusan ekonominya, khususnya dalam konteks perang dagang dengan Cina. Trump sebelumnya telah mengumumkan bahwa pada 1 September 2019, tarif baru akan berlaku menjadi 10 persen dari 300 miliar dolar barang yang diimpor dari Cina ke AS.

Sekalipun demikian, tanda-tanda resesi telah membuat keputusan presiden AS berubah. Dalam hal ini, Trump mengumumkan pada hari Selasa, 13 Agustus, bahwa ia akan menunda bea masuk 10% atas produk Cina senilai 300 miliar dolar.

Langkah-langkah balasan Cina, termasuk menolak pembelian produk pertanian Amerika, tidak hanya meningkatkan pengaruhnya di sektor pertanian, tetapi juga secara bertahap meningkatkan harga barang-barang konsumsi di keranjang belanja rumah tangga AS. Bukan kabar baik bagi Trump yang menjadi presiden dengan slogan memperbaikin kondisi ekonomi ketika menyaksikan kenaikan biaya hidup bagi rumah tangga Amerika yang menerpa kulit putih kelas menengah dan bawah negara ini yang telah memilihnya.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Di sisi lain, pada 2019, defisit anggaran federal AS meningkat 27 persen dibandingkan tahun anggaran tahun lalu menjadi 866 miliar 800 juta dolar. Ini bisa menjadi pukulan serius bagi citra Trump yang telah membuat kekuatan ekonomi dan pencapaiannya di bidang ini bertujuan untuk memenangkan pemilihan presiden AS.

Jika ekonomi AS kembali memasuki era resesi baru setelah resesi ekonomi 2007, itu bisa merusak salah satu kekuatan Trump dan mengurangi peluangnya untuk memenangkan pemilihan presiden 2020.