Dunia Menentang Unilateralisme AS di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/world-i74202-dunia_menentang_unilateralisme_as_di_teluk_persia
Langkah provokatif AS yang meningkatkan kehadiran militer di Teluk Persia memicu kekhawatiran dan penentangan dari berbagai negara dunia, termasuk Rusia.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Sep 28, 2019 21:44 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS di Teluk Persia
    Pasukan AS di Teluk Persia

Langkah provokatif AS yang meningkatkan kehadiran militer di Teluk Persia memicu kekhawatiran dan penentangan dari berbagai negara dunia, termasuk Rusia.

Masalah ini disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam konferensi pers di sela-sela sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York pada hari Jumat. Lavrov mengatakan, "Masalah yang berkaitan dengan JCPOA muncul setelah AS mengumumkan keluar dari perjanjian internasional ini, dan AS menghalangi pihak lain untuk menjalankan komitmennya. Sepak terjang Washington terhadap JCPOA, Iran dan masalah Teluk Persia tidak bisa diterima,". Menlu Rusia menentang langkah AS tersebut karena tidak hanya menyangkut masalah JCPOA, tapi menghalangi implementasi traktat nonproliferasi nuklir, sehingga merusak situasi kawasan dan dunia. 

 

Menlu Rusia, Sergei Lavrov

Meskipun pemerintahan Trump berupaya membujuk para pejabat negara anggota kelompok 4+1 untuk mengamini diktenya dalam masalah JCPOA, tapi mereka tidak sejalan dengan Washington, dan percaya bahwa perjanjian internasional ini bermanfaat dan efektif.  Di sisi lain, berdasarkan laporan IAEA, Iran telah sepenuhnya mematuhi kewajiban nuklirnya.

Anggota kelompok 4+1, terutama Rusia dan Cina selama ini menentang pendekatan unilateral Trump, dan pihak Eropa mengklaim telah bekerja keras untuk menjaga keberlangsungan JCPOA. Tapi di tingkat praktis, hingga kini mereka belum memenuhi janjinya, termasuk belum menjalankan mekanisme keuangan khusus dengan Iran yang disebut INSTEX. Masalah ini mendorong respons Iran dengan menurunkan tingkat komitmennya terhadap JCPOA.

Masalah lainnya mengenai tindakan konfrontatif pemerintah Trump  terhadap Iran dengan memberlakukan sanksi keras yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk sanksi minyak  dan peningkatan kehadiran militernya di Teluk Persia dengan dalih menghadapi potensi ancaman Iran di kawasan. Washington menuding Iran berada di balik serangan drone terhadap instalasi minyak Arab Saudi, Aramco, tapi hingga kini tidak mampu menunjukkan buktinya.

Amerika Serikat saat ini sedang membangun koalisi militer internasional di Teluk Persia, tapi hingga kini hanya lima negara yang mendukungnya.

Rusia berulang kali mengkritik kebijakan Washington dalam masalah keamanan Teluk Persia. Menlu Rusia, menekankan bahwa Moskow ingin mendorong penyelesaian masalah Teluk Persia melalui dialog dan tanpa tuduhan tidak berdasar. Lavrov mengatakan, "Ketegangan saat ini di Teluk Persia muncul direkayasa. Kami menuntut perselisihan diselesaikan melalui dialog dan tanpa tuduhan yang tidak berdasar. Kontribusi kami untuk proses perdamaian ini dalam proposal mengenai keamanan kolektif di kawasan yang telah kami sampaikan musim panas tahun ini."

Pandangan Rusia tentang upaya penyelesaian krisis regional dan global didasarkan pada prinsip multilateralisme dan partisipasi semua anggota Dewan Keamanan PBB, sedangkan AS terus-menerus mengedepankan pendekatan unilateralisme.(PH)