Sanksi Baru AS dan Sekutu Regionalnya terhadap Iran dan Kelompok Muqawama
-
Poros Muqawama
Kebijakan pemerintahan Trump terkait eskalasi tekanan yang terus-menerus terhadap Iran sejalan dengan kebijakan tekanan maksimum dan dalam kerangka ini, ia bersama sekutu regionalnya berupaya untuk menjatuhkan sanksi pada kelompok-kelompok Muqawama di kawasan.
Kementerian Keuangan AS dalam sebuah pernyataan hari Rabu, 30 Oktober, mengatakan bahwa pihaknya, bersama dengan Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, telah memboikot 25 target terkait Iran dan kelompok-kelompok Muqawama. Berdasarkan pernyataan ini, pusat yang disebut Pusat Pendanaan Penanggulangan Terorisme, dimana Amerika Serikat dan enam negara adalah anggotanya, telah menjatuhkan sanksi kepada 25 perusahaan, bank, dan individu yang terkait dengan Iran dan kelompok-kelompok perlawanan.
Individu dan institusi yang berafiliasi dengan gerakan Hizbullah Lebanon juga termasuk di antara mereka yang disanksi. Seluruh 25 target yang disanksi sebelumnya telah ada dalam daftar sanksi AS. Dalam pernyataan Kemenkeu AS disebutkan bahwa 21 target yang disanksi telah disetujui dalam langkah terbaru Washington dan enam negara Arab telah mendapat bantuan dana dari pasukan Muqawama, Basij yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pemerintahan Trump, dalam kerangka pedoman yang diuraikan dalam dokumen Strategi Keamanan Nasional AS yang dirilis pada bulan Desember 2017, telah berfokus pada menciptakan koalisi melawan Iran dan poros Muqawama di kawasan disebutnya sebagai elemen proksi untuk Iran. Pandangan terhadap masa depan kebijakan dan tindakan Washington mencerminkan kegagalan pemerintahan Trump untuk mencapai tujuan regionalnya, kendati telah banyak upaya AS untuk menekan Republik Islam Iran dan kelompok-kelompok Muqawama di kawasan.
Kegagalan Washington untuk mendukung keamanan dan kepentingan sekutu Arabnya di pesisir selatan Teluk Persia, terutama Arab Saudi, dimana Muqawama Yaman mendaratkan pukulan telak ke sumber daya dan fasilitas minyak Arab Saudi di timur negara itu lewat serangan drone terhadap fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais, sementara dengan kehadiran militer yang signifikan di kawasan itu, AS tidak mampu melakukan apa pun untuk mencegah serangan tersebut
Kasus lain adalah kegagalan pemerintahan Trump di Suriah dengan mengeluarkan perintah penarikan pasukan pasukan AS dari negara itu sebelum invasi Turki ke Suriah utara. Hal ini memicu kecaman keras dari para politisi AS atas langkah Trump, terutama di Kongres AS. Pentagon sekarang mencoba untuk mengimbangi keputusan Trump dengan mengirimkan pasukan dan pasokan senjata ke Suriah timur dengan dalih melindungi ladang minyak dan fasilitas di kawasan itu, tetapi sekarang jelas bahwa pemerintah konstitusional Suriah, bersama dengan Rusia, secara efektif mengendalikan wilayah utara dan timur laut negara itu.
Sekarang, pemerintahan Trump bersama dengan sekutu regional, sedang mencoba untuk menciptakan keseimbangan baru dengan menerapkan sanksi baru dengan dalih memerangi terorisme yang bertujuan memaksakan lebih banyak pembatasan keuangan pada Iran dan kelompok-kelompok Muqawama. Kenyataannya, bagaimanapun juga, pengaruh regional Iran terus berkembang dan kelompok-kelompok perlawanan meraih keberhasilan di wilayah tersebut. Fokus Washington sekarang adalah mengalokasikan dana untuk melawan pengaruh regional Iran.
Asisten Menteri Luar Negeri AS David Schenker pada sidang Kongres hari Rabu, 30 Oktober, mengatakan bahwa anggaran untuk tahun fiska 2020, bagian dari kredit 6,6 miliar dolar telah dialokasikan untuk memajukan kepentingan AS di kawasan untuk melawan pengaruh Iran.
Namun, Iran telah berulang kali menyatakan bahwa mereka selalu mendukung gerakan perlawanan yang telah berperang di Yaman, Lebanon dan Palestina untuk memerangi agresi dan pendudukan, dan ini akan terus berlanjut meskipun ada tekanan dari Washington dan sekutunya. Tentu saja, AS bersikeras untuk melanjutkan sanksi, terutama sanksi minyak terhadap Iran, dan mengklaim untuk melakukan yang terbaik untuk menekan ekspor minyak Iran ke titik nol.
Kurt Donnelly, Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Diplomasi Energi telah mengancam para pembeli minyak Iran bahwa mereka berada dalam pengawasan Washington.
Namun, berlanjutnya ekspor minyak Iran adalah tanda kegagalan pemerintahan Trump untuk memenuhi permintaan imajinernya. Republik Islam Iran telah berulang kali menekankan bahwa mereka tidak akan menyerah pada tekanan AS demi menyerah pada kesombongan Amerika.