Amerika Tinjauan dari Dalam, 09 Januari 2020
-
Trump-Syahid Soleimani
Dinamia di AS pekan ini diwarnai isu seputar aksi balasan Iran atas teror Amerika terhadap Syahid Qasim Soleimani dan tanggapan Trump serta petinggi Amerika lainnya.
Selain itu, masih ada isu lainnya seperti upaya kubu Demokrat cabut wewenang perang Trump, saran kepada Trump untuk cabut sanksi terhadap Iran, respon media barat atas balasan Iran, AS usulan perundingan tanpa syarat dengan Iran dan berbagai isu lainnya.
Setelah meneror Syahid Soleimani dan karena takut akan balasan Iran, pasukan koalisi Amerika dilaporkan mulai memindahkan markas mereka dari Irak. Koalisi internasional anti-Daesh pimpinan Amerika Serikat di Irak mengumumkan pemindahan markas utama mereka secara parsial dari Irak ke Kuwait.
Fars News (7/1/2020) mengutip kantor berita Jerman melaporkan, koalisi internasional pimpinan Amerika memutuskan untuk memindahkan markas utamanya di Irak ke Kuwait menyusul meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Langkah itu ditempuh setelah Amerika melakukan aksi teror terhadap komandan Iran dan Irak yang menyulut ketegangan di kawasan.
Iran dan kelompok-kelompok perlawanan Irak mengumumkan akan menuntut balas atas darah para syuhada. Petinggi Iran menegaskan balasan Iran tidak akan terbatas pada operasi tunggal, darah Letjen Qasem Soleimani harus dibayar dengan keluarnya pasukan Amerika dari kawasan.
Koalisi pimpinan Amerika, Minggu lalu mengumumkan, sampai pengumuman berikutnya, dan sampai ketegangan menurun, aktivitas koalisi dihentikan dan sebatas melindungi pasukan dan posisi.
Sementara itu, pada 7 Januari 2020 Amerika Serikat dilaporkan memperingatkan seluruh armada lautnya di Asia Barat (Timur Tengah) terkait kemungkinan serangan balasan Iran.
Fars News (7/1/2020) melaporkan, pemerintah Amerika, Selasa (7/1) memerintahkan seluruh armada kapal perangnya di Timur Tengah untuk mewaspadi kemungkinan serangan balasan Iran.
Kantor berita Associated Press mengabarkan, Amerika untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan Iran terhadap kapal-kapalnya saat melintasi jalur laut di Asia Barat, memperingatkan seluruh armada lautnya.
"Tahun lalu beberapa kapal tanker diledakkan di perairan wilayah Teluk Persia, dan Amerika menuduh Iran, tapi Iran membantah segala bentuk tuduhan terhadap negara ini," pungkasnya.
Pentagon: 12 Rudal Balistik Iran Mengenai Pangkalan Kami
Departemen Pertahanan AS (Pentagon), membenarkan bahwa dua pangkalannya di Irak menjadi sasaran lebih dari 12 rudal balistik pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran).
"Sekitar pukul 5.30 sore waktu AS, Iran meluncurkan lebih dari 12 rudal balistik ke arah tentara Amerika," kata juru bicara Pentagon, Jonathan Hoffman dalam sebuah pernyataan seperti dikutip IRNA, Rabu (8/01/2020).
"Jelas bahwa rudal-rudal ini diluncurkan dari Iran dan menargetkan setidaknya dua pangkalan militer yang menampung tentara Amerika di pangkalan Ain al-Assad dan Irbil," tambahnya.
Menurut Hoffman, Pentagon sedang menganalisa tingkat kerugian dan jumlah korban jiwa.
Pasdaran Iran pada Rabu dini hari, melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer AS, Ain al-Asad di Provinsi al-Anbar dan pangkalan di dekat bandara Arbil, wilayah Kurdistan Irak.
Gedung Putih: Trump Gelar Rapat dengan Tim Keamanan
Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump sedang menggelar pertemuan dengan tim keamanan nasional AS.
Pertemuan itu dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) membalas kejahatan pasukan teroris AS dalam meneror Komandan Pasukan Quds, Letnan Jenderal Qasem Soleimani.
"Kami sudah mendapat laporan tentang serangan ke posisi AS di Irak," kata Gedung Putih seperti dikutip IRNA, Rabu (8/01/2020).
"Presiden Trump sudah diberitahu dan memantau perkembangan situasi dari dekat," tambahnya.
Jet-jet tempur AS dilaporkan melakukan patroli di wilayah udara Provinsi al-Anbar, Irak setelah pangkalan Ain al-Asad menjadi sasaran rudal-rudal balistik Iran.
Ketua DPR AS Desak Trump Akhiri Aksi Provokasi
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS, Nancy Pelosi menyampaikan keprihatinan atas serangan balasan Iran terhadap pasukan AS di Irak, dan mendesak pemerintahan Trump segera mengakhiri tindakan provokatifnya di kawasan Asia Barat.
Nancy Pelosi Selasa malam waktu setempat menyampaikan reaksinya setelah Korp Garda Revolusi Islam Iran melancarkan pembalasan terhadap aksi AS meneror Letnan Jenderal Qassim Suleimani, dengan mengatakan, "Kami memantau secara seksama situasi pasukan AS di Irak,".
"Amerika dan dunia tidak mampu berperang lagi," tegasnya.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas aksi teroris AS terhadap Letnan Jenderal Qasem Soleimani dengan menembakkan puluhan rudal ke arah pangkalan militer AS di Al-Anbar Irak.
IRGC Rabu pagi (8/1/2020) mengumumkan dimulainya serangan balasan terhadap aksi terorisme AS dalam "Operasi Syahid Soleimani" di bawah kode "Ya Zahra" dengan menembakkan puluhan rudal darat-ke-darat yang menargetkan pangkalan militer Ain al-Asad' di provinsi Anbar, Irak.
Letjen Qasem Soleimani, Komandan brigade Quds, Korp Garda Revolusi Islam Iran dan Abu Mahdi Al-Muhandis bersama delapan orang lainnya gugur dalam serangan udara AS di bandara internasional Baghdad.
Demokrat di DPR AS Berusaha Cabut Wewenang Perang Trump
Media Amerika Serikat mengabarkan beberapa anggota DPR dari Demokrat berusaha mempercepat pengesahan draf pencabutan wewenang perang Presiden Amerika.
Fars News (8/1/2020) melaporkan, kubu Demokrat di DPR Amerika berusaha mencabut wewenang perang Presiden Donald Trump yang dipayungi undang-undang Otorisasi Penggunaan Militer 2002 (AUMF 2002), pasca serangan balasan Iran ke pangkalan Amerika di Irak.
Situs Politico menulis, beberapa anggota DPR dari Demokrat berusaha menambahkan sebuah pasal pada Otorisasi Penggunaan Militer 2002 yang tidak membiarkan anggaran apapun untuk langkah militer Amerika terhadap Iran, disahkan tanpa pemberitahuan dan persetujuan Kongres.
Sebelumnya pasal serupa AUMF 2002 sempat disampaikan oleh Ro Khanna, salah satu anggota DPR dari Demokrat dan berhasil dimasukkan ke dalam draf anggaran militer tahunan Departemen Pertahanan Amerika, bahkan mendapat dukungan sekitar 20 Republikan, namun akhirnya dihapus setelah didesak mayoritas.
Menurut Ro Khanna, para senator Demokrat berusaha menemukan cara agar draf ini lolos, dan sekarang kesempatan terbaik untuk mengesahkan draf ini di Senat, dan mendapat suara mendukung 51 senator.
Fox News: Iran Pilih Target Paling Keras dalam Membalas
Stasiun televisi Amerika Serikat terkait serangan balasan Iran ke pangkalan militer Amerika di Irak mengatakan, Iran bisa saja menyerang target-target yang lebih mudah, tapi negara itu memilih target yang paling keras, dan ini menyimpan pesan.
Tasnim News (8/1/2020) melaporkan, Fox News menayangkan berita seputar serangan udara Amerika yang menewaskan Letjen Qasem Soleimani dan Abu Mahdi Al Muhandis bersama sejumlah yang lain di Irak.
Sehubungan dengan serangan balasan Iran ke pangkalan Amerika di Irak, Fox News menuturkan, Iran bisa saja menyerang target-target yang lebih mudah, tapi negara ini memilih target yang paling keras, dan ini membawa pesan penting.
Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC hari Rabu (8/1) dinihari membalas teror terhadap Syahid Soleimani dengan menembakkan sejumlah rudal ke pangkalan militer Amerika di Irak.
Politisi AS Sarankan Trump Segera Cabut Sanksi Iran
Presiden Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat menyarankan Presiden Amerika, Donald Trump segera mencabut sanksi Iran untuk menurunkan ketegangan dengan Tehran.
Fars News (8/1/2020) melaporkan, Richard N. Haass yang juga mantan diplomat Amerika di laman Twitternya menyinggung serangan balasan Iran ke pangkalan militer Amerika di Irak, dan mendesak Donald Trump mengumumkan kesiapan mencabut sanksi Iran.
Haass mengutip statemen Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif yang menyebut serangan balasan Iran sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB tentang membela diri, dan tidak menginginkan ketegangan memburuk sehingga berujung dengan perang.
Menurut Presiden Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika itu, saat ini sudah tiba waktunya Presiden Amerika mengumumkan bahwa Washington tidak ingin mengganti rezim di Iran, dan selain meminta Tehran menahan diri secara nyata dalam program nuklir, rudal dan aktivitas regional, juga mengumumkan kesiapan mencabut sanksi.