Fakta Baru Kejahatan AS terhadap Syahid Soleimani
-
Syahid Qasem Soleimani (kiri) dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis.
Amerika Serikat dalam sebuah tindakan keji dan ilegal, meneror Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, dalam serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari lalu.
Serangan teror itu dilakukan dengan klaim bahwa Letjen Soleimani sedang menyusun sebuah rencana serangan ke Kedutaan AS di Irak.
Namun, fakta-fakta baru menunjukkan bahwa AS telah menyetujui pembunuhan Letjen Soleimani sejak tujuh bulan lalu dan menunggu momen yang tepat untuk menjalankan rencana keji ini.
Televisi NBC AS pada hari Senin (13/1/2020) melaporkan bahwa Presiden Donald Trump pada Juni 2019 telah mengeluarkan perintah bersyarat untuk meneror Letjen Soleimani.
Setelah drone Global Hawk AS ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, Trump memberikan perintah bahwa jika serangan pasukan Iran atau kelompok afiliasinya menyebabkan tentara atau warga Amerika tewas, maka Letjen Soleimani akan menjadi target tentara AS.
Pasca kejadian itu, Trump – tanpa memberikan bukti apapun – mengklaim bahwa Letjen Soleimani dibunuh karena menjadi ancaman segera bagi pasukan AS dan merencanakan serangan terhadap empat kedutaan AS.
Trump dalam sebuah komentar yang penuh kelancangan, menuduh Letjen Soleimani sebagai teroris nomor satu di dunia dan seharusnya pekerjaan ini sudah dilakukan 20 tahun lalu.
Presiden AS tidak memiliki bukti apapun untuk mendukung klaimnya itu dan sama seperti ratusan kasus lain, hanya mengeluarkan klaim tak berdasar sebagai perang psikologis terhadap Republik Islam Iran dan menjustifikasi tindakan terorismenya.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Senin kemarin mengatakan Letjen Soleimani dibunuh sebagai bagian dari sebuah strategi yang lebih luas untuk mencegah tantangan yang diciptakan oleh musuh-musuh AS, dan ini juga berlaku untuk Cina dan Rusia.
Trump juga menuding kubu Demokrat sedang bermain politik dengan membela Letjen Soleimani dan menyebut masalah itu sebagai sebuah skandal bagi AS.
Komentar ini ditujukan kepada Ketua Komite Intelijen DPR AS, Adam Schiff yang menyatakan bahwa Trump telah menipu intelijen untuk membenarkan pembunuhan petinggi militer Iran.
"Ketika Anda mendengar presiden di sana di Fox, dia telah menipu intelijen," kata Schiff merujuk sebuah wawancara yang dilakukan Trump dengan Fox News pekan lalu.
Menurutnya, apa yang dilakukan Trump dan orang-orang dekatnya adalah melebih-lebihkan untuk membenarkan yang sudah terjadi dan mungkin membawa kita ke perang dengan Iran, ini hal yang berbahaya untuk dilakukan.
Sekarang semuanya menjadi jelas bahwa Trump telah merencanakan pembunuhan Letjen Soleimani sejak beberapa bulan lalu. Tindakan ini bukan karena adanya ancaman segera terhadap kepentingan AS di Irak atau tempat lain.
Di sini, AS telah melakukan sebuah kejahatan besar dan tindakan pengecut dengan membunuh Letjen Soleimani dan Mahdi al-Muhandis, dua sosok yang memiliki peran besar dalam menumpas kelompok teroris Daesh.
Setelah Iran melakukan serangan balasan ke pangkalan AS, Ain al-Asad di Irak, Trump mulai menyadari bahwa kemampuan militer Iran tidak bisa diremehkan dan harus selalu bersiap-siap untuk menerima tindakan balasan lain Iran dan sekutunya di kawasan. (RM)