Penyebab Penundaan Pertemuan OPEC+
https://parstoday.ir/id/news/world-i80124-penyebab_penundaan_pertemuan_opec
Perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi – setelah OPEC dan produsen lain yang dipimpin Rusia gagal memperpanjang kesepakatan pembatasan produksi – menyebabkan anjloknya harga minyak ke titik terendah dalam 18 tahun terakhir.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 05, 2020 20:18 Asia/Jakarta
  • Penyebab Penundaan Pertemuan OPEC+

Perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi – setelah OPEC dan produsen lain yang dipimpin Rusia gagal memperpanjang kesepakatan pembatasan produksi – menyebabkan anjloknya harga minyak ke titik terendah dalam 18 tahun terakhir.

Situasi ini memicu reaksi dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang minyak. Namun perselisihan antara Moskow dan Riyadh sepertinya masih belum reda dan keduanya saling menyalahkan atas jatuhnya harga minyak ke titik terendah.

Dalam situasi seperti itu, OPEC dan Rusia memutuskan menunda pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada 6 April 2020 untuk membahas pengurangan produksi hingga 9 April mendatang.

Presiden AS Donald Trump telah menekan OPEC dan para produsen di luar OPEC termasuk Rusia, untuk mengambil langkah-langkah efektif dan menstabilkan pasar minyak global.

Pekan lalu, harga minyak mencapai titik terendah dalam 18 tahun terakhir karena penurunan drastis permintaan yang disebabkan oleh wabah virus Corona dan kegagalan OPEC dan non-OPEC untuk mengurangi pasokan minyak di pasar dunia.

Pada Jumat lalu, Presiden Vladimir Putin dalam pertemuan melalui video conference dengan para pejabat pemerintah dan produsen minyak utama Rusia, mengatakan penyebab utama anjloknya harga minyak adalah dampak wabah COVID-19 pada permintaan.

"Penyebab kedua karena keluarnya Arab Saudi dari kesepakatan pemangkasan produksi OPEC+, yang disertai dengan peningkatan produksi mereka dan penawaran diskon harga minyak," ujarnya.

Namun Riyadh dengan cepat membantah klaim Putin dan menuding Moskow sebagai pemicu kekacauan di pasar minyak global.

Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, menteri energi Rusia adalah orang pertama yang berbicara kepada media bahwa semua negara yang tergabung dalam kesepakatan pembatasan produksi OPEC+, akan dibebaskan dari komitmen mereka mulai dari 1 April. Hal ini mendorong negara-negara produsen minyak untuk meningkatkan produksinya.

OPEC+ sedang membahas kesepakatan untuk memangkas produksi minyak yang setara dengan angka 10 persen dari permintaan dunia atau 10 juta barel per hari. Ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan para produsen di luar OPEC+ termasuk Amerika, diharapkan bergabung dengan upaya ini. Beberapa anggota OPEC+ telah mengumumkan kesiapan mereka untuk itu.

Norwegia – produsen minyak dan gas terbesar di Eropa Barat – menyatakan akan mempertimbangkan penurunan produksi minyaknya jika para produsen utama memutuskan pemangkasan global.

Menteri Minyak dan Energi Norwegia, Tina Bru mengatakan, "Jika sekelompok besar produsen setuju untuk memangkas produksinya secara signifikan, Norwegia akan mempertimbangkan pemangkasan sepihak jika langkah itu mendukung manajemen sumber daya dan ekonomi kami."

Jika Rusia dan Saudi tetap mempertahankan pendirian masing-masing dan saling menyalahkan, maka tren penurunan harga minyak akan tetap berlanjut. Hal ini akan memicu kemarahan AS karena tren saat ini telah merugikan sektor minyak mereka.

Oleh karena itu, Trump telah mengontak Rusia dan Saudi agar mengakhiri perang harga minyak. (RM)