AS Tinjauan dari Dalam 21 Juni 2020
-
Bendera AS dan gambar Trump
Di tengah maraknya aksi demo anti rasis di AS, Presiden Donald Trump terus mengumbar berbagai statemen aneh di antaranya dirinya siap meraih kesepakatan kilat dengan Iran.
Trump juga mulai melecehkan rivalnya di pemilu presiden mendatang, Joe Biden. Ia juga mengancam akan menarik pasukan AS dari Jerman. Isu lainnya di AS, demonstran menggulingkan patung presiden pertama AS, klaim Menlu Pompeo terkait Iran dan berbagai isu lainnya.
Trump Klaim Siap Jalin Kesepakatan Kilat dengan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim dirinya siap untuk menjalin kesepakatan kilat dengan Iran untuk menjustifikasi kebijakannya yang membentur dinding terhadap Tehran.
Donald Trump di hadapan para pendukungnya di Tulsa,Oklahoma hari Sabtu (20/6/2020) mengatakan bahwa Iran dan Cina lebih memilih rival pemilunya, kandidat utama Partai Demokrat, Joe Biden, untuk memenangkan pilpres mendatang.
Oleh karena itu, tutur Trump, "Amerika Serikat siap untuk melakukan perjanjian kilat dengan Iran,".
Sebelumnya, Menlu AS dalam sebuah pernyataan pers hari Jumat (19/6/2020) menyambut resolusi anti-Iran yang dikeluarkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) atas saran dari troika Eropa, dan mengklaim Iran memicu ketegangan nuklir dalam beberapa bulan terakhir.
Brian Hook, Utusan Khusus AS Urusan Iran dalam konferensi pers hari Jumat (19/6/2020) mengklaim Tehran mengabaikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), bahkan di tengah-tengah virus Corona.
Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada hari Jumat (19/6/2020) menyetujui resolusi politik terhadap Iran di bawah tekanan dari Inggris, Prancis dan Jerman.
Ketiga negara Eropa ini menuduh Republik Islam Iran yang memiliki tingkat kerjasama tertinggi dengan IAEA gagal bekerja sama penuh dengan Badan Energi Atom Internasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menyebut pengesahan resolusi anti-Iran di Dewan Gubernur IAEA sebagai langkah tidak profesional dan tidak dapat diterima, karena Republik Islam Iran selama ini memiliki tingkat kerja sama tertinggi dengan IAEA.
Trump: Jika Biden Berkuasa, Seluruh AS akan Jadi Minneapolis
Presiden Amerika Serikat mengatakan, jika Partai Demokrat menang dalam pemilu presiden tahun ini, maka seluruh kota di Amerika akan kacau, dan pertumbuhan ekonomi negara ini akan sangat negatif.
Fars News (20/6/2020) melaporkan, Donald Trump menuturkan, jika saya kalah dalam pemilu presiden tahun ini, seluruh Amerika akan berubah menjadi Minneapolis.
Seperti ditulis koran The Washington Post, Trump menjelaskan, saya rasa jika Demokrat masuk Gedung Putih, pada akhirnya kita akan masuk ke dalam stagnasi yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi negatif yang luar biasa besar akan terjadi, kekacauan di semua tempat, dan undang-undang musnah. Kalian akan memiliki Seattle dan Minneapolis yang jauh berbeda dari sebelumnya, seluruh negara akan menjadi Minneapolis.
Menurut Trump, akan terjadi sejumlah peristiwa mencengangkan di kota-kota Amerika, dan perusakan serta kekacauan akan terus berlanjut sampai dirinya memerintahkan Pasukan Garda Nasional turun tangan.
"Saat Pasukan Garda Nasional turun tangan, pemandangannya menjadi sangat indah. Saya peringatkan jika Joe Biden, kandidat dari Demokrat menang dalam pilpres tahun ini, maka Amerika tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi," pungkasnya.
Lebih Menekan Berlin, Trump Mengancam akan Menarik Pasukan AS dari Jerman
Hubungan AS-Jerman menjadi tegang karena sikap dan tindakan Donald Trump di berbagai bidang politik, militer, keamanan, ekonomi dan perdagangan. Karenanya, Washington telah menggunakan alat yang dimilikinya untuk menekan Berlin agar mematuhi keingingannya.
Dalam hal ini, Presiden AS Donald Trump mengkonfirmasi kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (16/06/2020) pagi bahwa jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Jerman akan berkurang menjadi 25.000. Memperhatikan bahwa Jerman, sebagai anggota Eropa terbesar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), harus menyediakan lebih banyak dana untuk organisasi itu, Trump mengatakan bahwa pasukan AS akan meninggalkan negara itu selama Berlin belum membayar sahamnya.
Sebelumnya, media-media AS melaporkan bahwa Trump bermaksud memerintahkan militer AS untuk menarik sekitar 9.500 tentara dari Jerman. Saat ini ada 34.500 tentara AS di Jerman, dan perintah Trump akan mengurangi jumlah itu menjadi 25.000.
Jenderal Mark Milley, Kepala Staf Gabungan Militer AS, dilaporkan telah mengerjakan rencana itu selama beberapa bulan dan tidak ada hubungannya dengan ketegangan baru-baru ini antara Trump dan Kanselir Jerman Angela Merkel atas penolakan Merkel untuk menghadiri pertemuan puncak G7 di Amerika. Rencananya, sejumlah pasukan yang akan meninggalkan Jerman sebagiannya akan kembali ke Amerika Serikat serta yang lainnya dikirim ke Polandia dan sekutu Washington lainnya.
Langkah pemerintah Trump ini telah menuai reaksi negatif di Amerika Serikat. Dalam sepucuk surat kepada presiden yang juga rekan separtainya, 20 anggota Partai Republik dari Komite Angkatan Bersenjata DPR memintanya untuk menolak laporan keputusannya soal pengurangan pasukan AS di Jerman. Namun, mengingat pernyataan baru Trump, ia bahkan belum mengindahkan tuntutan partainya sendiri.
Jerman juga menyatakan tidak puas dengan langkah Washington. "Hasil seperti itu akan sangat disayangkan. Saya tidak dapat menemukan alasan rasional untuk penarikan ini," kata Norbert Rutgen, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Parlemen Jerman.
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas juga mengkritik rencana penarikan sejumlah pasukan AS dari negara Eropa dan menggambarkan hubungan bilateral Berlin-Washington sebagai "sulit" seraya menekankan bahwa keputusan Gedung Putih untuk menarik pasukan AS dari Jerman belum dikoordinasikan dengan Berlin dan tidak terkejut. Heiko Moss menyesalkan penarikan beberapa pasukan AS dari Jerman, menunjuk masalah dalam hubungan Berlin-Washington, mengatakan, "Kami mitra dekat Amerika Serikat, tetapi hubungan bilateral sangat kompleks."
Alasan utama Trump untuk menarik pasukan AS karena penolakan praktis Berlin untuk mematuhi permintaan Trump meningkatkan anggaran pertahanan hingga 2% dari produk domestik bruto Jerman. Seperti sekutu AS lainnya di seluruh dunia, dari Asia Barat hingga Asia Timur, Trump ingin melibatkan lebih banyak negara tuan rumah, termasuk Jerman, dalam membiayai pasukan AS yang ditempatkan di negara-negara itu.
Trump telah berulang kali mengatakan bahwa periode "tumpangan gratis", yakni penyebaran pasukan AS untuk mengamankan sekutu Washington, telah menimbulkan kerugian bagi Amerika Serikat, dan bahwa mitra Washington harus menanggung bagian yang signifikan dari biaya tersebut. Pada saat yang sama, mengingat bahwa Jerman adalah ekonomi terbesar dan terkuat di Eropa, Washington ingin lebih terlibat lebih banyak dalam pengeluaran NATO.
NATO, seperti Trump, telah meminta anggotanya untuk membelanjakan setidaknya 2 persen dari produk domestik bruto mereka untuk pengeluaran militer. Ini adalah sesuatu yang sebagian besar negara Eropa menolak untuk melakukannya. Pada 2019, Jerman hanya menghabiskan 1,4 persen dari PDB untuk militer.
"Negara-negara Eropa telah melanggar komitmen NATO mereka. Mengapa kita harus membayar untuk membela mereka? Jika situasi ini berlanjut, saya akan mengurangi jumlah pasukan Amerika di Jerman menjadi 25.000," ucap Trump.
Dalam keadaan seperti itu, penarikan sebagian pasukan AS dari Jerman akan meningkatkan kekhawatiran negara-negara Eropa anggota NATO tidak dilaksanakannya komitmen militer Washington kepada Eropa, yang mau tidak mau akan meningkatkan motivasi dan upaya mereka untuk membangun kemampuan dan struktur Eropa yang independen. Oleh karena itu, masalah penarikan pasukan Amerika dari Jerman menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Berlin dan Washington, yang kini telah menyebar ke berbagai bidang.
Trump: Serangan Militer ke Venezuela akan Mengasyikan
Mantan penasihat keamanan nasional Gedung Putih dalam memoarnya yang ditulis selama ia bekerja bersama Presiden Amerika Serikat, mengungkap rahasia presiden termasuk keinginannya untuk menyerang Venezuela.
Fars News (18/6/2020) melaporkan, John Bolton dalam buku memoar berjudul "The Room Where It Happened: A White House Memoir" yang akan segera terbit, Bolton menulis, Presiden Amerika Donald Trump mengatakan, serangan ke Venezuela akan mengasyikan, dan negara Amerika Selatan ini kenyataannya adalah bagian dari Amerika.
Dalam buku yang sebelum diterbitkan, sebagian isinya lebih dulu diserahkan kepada sejumlah media termasuk The Hill itu, Bolton mengenang mantan kepala kantor kepresidenan Amerika, John F. Kelly dan menuturkan, Trump berkata serangan ke Venezuela akan menyenangkan.
Dengan dalih berisi informasi-informasi rahasia, Gedung Putih berusaha mencegah penerbitan buku tersebut. Menurut Bolton, DPR Amerika selain harus menyelidiki hubungan Trump dengan presiden Ukraina, juga hubungan Presiden Amerika dengan pejabat sejumlah negara lain.
"Salah satu kasus yang perlu diselidiki adalah permintaan Trump kepada Presiden Cina untuk membantu memenangkannya dalam pemilu Amerika tahun 2020," pungkas Bolton.
Demonstran Tumbangkan Patung Presiden Pertama AS
Para demonstran anti-rasis di kota Portland, negara bagian Oregon, Amerika Serikat menumbangkan patung presiden pertama Amerika, George Washington pada hari Kamis (18/6/2020) malam.
CBS News (19/6/2020) melaporkan, para demonstran anti-rasis di kota Portland, Oregon menjatuhkan patung presiden pertama Amerika itu karena disebut pernah memiliki budak.
Sejumlah demonstran membungkus kepala patung George Washington dengan bendera Amerika kemudian membakarnya.
Satu jam kemudian jumlah demonstran semakin bertambah banyak, dan akhirnya mereka menumbangkan patung tersebut bersama-sama.
Salah seorang koresponden CBS News menyaksikan posisi patung George Washington terlihat jatuh menghadap ke bawah dengan penuh coretan.
Inilah Klaim Baru Menlu AS Soal Program Nuklir Iran
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo kembali mengulangi tuduhan sebelumnya yang tidak berdasar terhadap Iran dalam masalah nuklir, dan mengklaim Washington bersama sekutunya di Eropa mencari solusi diplomatik yang komprehensif untuk program nuklir Iran.
Menlu AS dalam sebuah pernyataan pers hari Jumat (19/6/2020) menyambut resolusi anti-Iran yang dikeluarkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) atas saran dari troika Eropa, dan mengklaim Iran memicu ketegangan nuklir dalam beberapa bulan terakhir.
"Iran menciptakan hambatan bagi akses inspektur IAEA dan penolakannya untuk bekerja sama dalam penyelidikan," tutur Pompeo secara sepihak.
Pernyataan Menlu AS disampaikan tanpa menyinggung sama sekali keluarnya AS dari JCPOA dan dijatuhkannya sanksi ketat terhadap Iran.
Brian Hook, Utusan Khusus AS Urusan Iran dalam konferensi pers hari Jumat (19/6/2020) mengklaim Tehran mengabaikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), bahkan di tengah-tengah virus Corona.
Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada hari Jumat (19/6/2020) menyetujui resolusi politik terhadap Iran di bawah tekanan dari Inggris, Prancis dan Jerman.
Ketiga negara Eropa ini menuduh Republik Islam Iran yang memiliki tingkat kerjasama tertinggi dengan IAEA gagal bekerja sama penuh dengan Badan Energi Atom Internasional.
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif mengkritik langkah tiga negara Eropa anggota JCPOA yang mengamini dikte destruktif Amerika Serikat terhadap Iran, dan menilai mereka sebagai sekutu Presiden AS dan Perdana Menteri rezim Zionis Israel.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menyebut pengesahan resolusi anti-Iran di Dewan Gubernur IAEA sebagai langkah tidak profesional dan tidak dapat diterima, karena Republik Islam Iran selama ini memiliki tingkat kerja sama tertinggi dengan IAEA.