Motif Lawatan Macron ke Irak
Prancis mengambil langkah diplomatik selama sebulan terakhir untuk meningkatkan perannya di Asia Barat dalam bentuk kunjungan presiden Emmanuel Macron ke Lebanon dan sekarang ke Irak.
Kedatangan Emmanuel Macron secara resmi disambut oleh Presiden Irak, Barham Salih, dan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi, serta Ketua Parlemen Irak Mohammed al-Halbousi di istana Kepresidenan Irak untuk membahas situasi di negara ini dan kawasan.
Pertemuan yang mempertemukan tiga pemimpin Irak secara bersamaan dengan seorang presiden asing di Baghdad belum pernah terjadi sebelumnya dalam 17 tahun terakhir.
Presiden Prancis tiba di Baghdad pada Rabu pagi untuk kunjungan resmi sehari. Setibanya di Baghdad, Macron di akun Twitternya mengungkapkan tujuan kunjungannya, "Saya melakukan perjalanan ke Baghdad sebagai bentuk dukungan terhadap Irak yang menghadapi tantangan saat ini,".
Lawatan Macron ini menjadi kunjungan kedua seorang pejabat tinggi Prancis ke Irak selama sepekan terakhir. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengunjungi Irak pada Kamis (27/8/2020) dan berbicara dengan para pejabat tinggi di Baghdad dan daerah otonomi Kurdi Irak.
Tampaknya, di tengah semakin berkurangnya peran Eropa dalam transformasi kawasan Asia Barat di tengah dominasi peran Amerika Serikat, Prancis berniat untuk mengambil peran tersebut.
Ledakan besar di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 membuka jalan bagi intervensi nyata Prancis dalam perkembangan di Lebanon dengan dua kunjungan Macron baru-baru ini dan presentasi rencana untuk melakukan perubahan mendasar di negara Arab itu.
Sekarang, presiden muda Prancis, yang tampaknya ingin memainkan peran yang lebih besar di Asia Barat, mengambil kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Irak demi membuka jalan bagi peningkatan pengaruhnya.
Prancis termasuk salah satu mitra militer dan senjata terbesar rezim Ba'ath Irak, dan memainkan peran signifikan dalam mempersenjatai Saddam menyulut perang delapan tahun yang dipaksakan terhadap Iran.
Kini, Prancis, yang memiliki peran kecil di kancah ekonomi dan militer Irak karena kehadiran dominan AS berupaya meningkatkan pengaruhnya.
Macron mencatat bahwa Irak masih membutuhkan bantuan komunitas internasional dalam rekonstruksi, pemulangan pengungsi, dan menumpas sumber-sumber terorisme.
Mengenai dukungan Prancis terhadap Irak dalam perang menghadapi teroris Daesh, Macron menegaskan, "Kami di sini dan kami akan selalu tinggal di sini," kata Macron.
Menyikapi kunjungan Macron ke Irak, Ali al-Shukri, Kepala Kelompok Penasihat Presiden Irak, mengatakan, "Paris bekerja untuk memperkuat kerja sama ekonomi, budaya dan keamanan dengan Baghdad dengan menggunakan semua mekanisme resmi demi mendukung Irak sebagai negara yang sepenuhnya independen,".
Poin penting yang ditekankan Macron dalam pembicaraannya dengan pihak-pihak Irak tentang perlunya mengurangi intervensi asing.
Presiden Prancis dalam statemennya menekankan bahwa campur tangan asing merusak Irak dan kepentingan nasionalnya. Macron menyebutnya sebagai tantangan terbesar bagi kedaulatan Irak, dengan mengatakan bahwa pejabat Irak harus mewujudkan kedaulatannya sendiri dari ketegangan dan campur tangan internal dan eksternal.
Statemen presiden Prancis mengenai intervensi asing di Irak didukung fakta campur tangan AS yang nyata dalam pemerintahan Irak, dari kehadiran militer ilegalnya yang terus berlanjut di negara ini.
Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengurangi kehadiran militernya di Irak dari 5.200 saat ini menjadi sekitar 3.500 dalam beberapa bulan ke depan. Meskipun demikian, masih berniat untuk mempertahankan kehadiran ekonomi, militer, dan keamanan di Irak.
Tampaknya, meskipun Macron berupaya untuk meningkatkan kehadiran dan pengaruhnya di Irak demi kepentingannya, terutama keuntungan ekonomi di negara ini, tapi sebagian besar perjalanannya bersifat simbolis dan sepertinya tidak akan membawa banyak manfaat bagi Eropa.(PH)