AS Tinjauan dari Dalam, 12 September 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i85182-as_tinjauan_dari_dalam_12_september_2020
Dinamika di Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu seperti Pasukan Antariksa dan Upaya AS Dominasi Angkasa Luar, Petinggi AS Akui Negaranya Hadapi Tiga Krisis Besar.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 12, 2020 11:23 Asia/Jakarta
  • Bendera Amerika
    Bendera Amerika

Dinamika di Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu seperti Pasukan Antariksa dan Upaya AS Dominasi Angkasa Luar, Petinggi AS Akui Negaranya Hadapi Tiga Krisis Besar.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti, Gubernur New York: Trump Penyebab Penyebaran virus Corona, Trump: Pentagon Sulut Perang untuk Puaskan Perusahaan Senjata, Biden Kritik Eskalasi Krisis Sosial di AS, Ilhan Omar: Kelaliman Rasial di AS Sistematis, Pompeo Kembali Menuduh Cina atas Wabah Virus Corona dan Penindasan Pengunjuk Rasa Anti-Rasis Amerika di Portland...

Pasukan Antariksa dan Upaya AS Dominasi Angkasa Luar

Letnan Jenderal Angkatan Darat James Dickinson menjadi Kepala Komando Pasukan Antariksa Amerika Serikat pada hari Kamis, 20 Agustus 2020 menggantikan Jenderal Angkatan Udara John W. "Jay" Raymond.

Ini menandai tonggak penting untuk operasi militer di angkasa luar, yang para pemimpin AS tekankan sebagai domain pertempuran perang yang semakin penting dan diperebutkan.

Sekarang, Komando Antariksa AS dan Pasukan Antariksa masing-masing memiliki pemimpin masing-masing dan memiliki misi yang saling melengkapi tetapi berbeda.

Raymond secara resmi dilantik sebagai Kepala Operasi Pasukan Antariksa baru pada Selasa, 14 Januari 2020 di Gedung Putih. Raymond memulai tugas sebagai pimpinan pertama Angkatan Antariksa pada 20 Desember 2019, ketika Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional yang secara resmi meluncurkan angkatan baru.

Tugas Pasukan Antariksa adalah mengorganisasi, melatih dan memperlengkapi personel militer yang terutama berfokus pada operasi di antariksa.

Image Caption

Raymond diangkat sebagai Komandan Komando Pasukan Antariksa AS yang baru setelah dibentuk pada Agustus 2019. Komando itu berupaya mengatur aset dan operasi militer AS di antariksa dengan lebih baik.

Peran militer di antariksa menjadi sorotan karena AS semakin bergantung pada satelit yang mengorbit yang sulit dilindungi. Satelit-satelit itu menyediakan komunikasi, navigasi, intelijen, dan layanan lainnya yang penting bagi militer dan ekonomi nasional.

Pasukan Antariksa adalah cabang militer terbaru dan akan berada di bawah Departemen Angkatan Udara, sama seperti Korps Marinir AS adalah layanan terpisah di dalam Departemen Angkatan Laut.

Pasukan Antariksa akhirnya akan mencakup ribuan anggota Angkatan Udara dan personil sipil yang saat ini bertugas dalam Komando Pasukan Antariksa Angkatan Udara.

Pasukan Antariksa AS akan menjadi kekuatan formal ke-enam dari militer AS, setelah Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Penjaga Pantai.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, ketergantungan kami pada kemampuan berbasis luar angkasa telah tumbuh secara dramatis, dan saat ini luar angkasa telah berevolusi menjadi medan perang sendiri.

Menurut pejabat Gedung Putih, mempertahankan dominasi Amerika dalam medan antariksa sekarang menjadi misi Angkatan Udara AS.

Di antara alasan peresmian Pasukan Antariksa AS adalah mengatasi kekhawatiran tentang pembajakan satelit dan senjata penghancur yang dikendalikan dari luar angkasa.

Pasukan Antariksa AS akan terdiri dari sekitar 16.000 tentara angkatan udara dan personil sipil. Pasukan tersebut akan memiliki seragam sendiri bahkan, nantinya mars sendiri, seperti yang sudah dimiliki oleh Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS.

Menurut Sekretaris Angkatan Udara AS Barbara Barrett, Pasukan Antariksa AS akan melindungi kepentingan nasional Amerika dengan fokus tunggal pada angkasa luar.

Petinggi AS Akui Negaranya Hadapi Tiga Krisis Besar

Ketua Partai Demokrat di negara bagian Wisconsin Amerika seraya mengakui negaranya menghadapi tiga krisis menekankan, krisis di berbagai sektor di negara ini terus meningkat dan berdampak kepada warga di seluruh wilayah.

Ben Wikler dalam wawancaranya dengan CNBC News terkait kemungkinan kerusakan Partai Demokrat hingga hari pemilihan presiden AS pada November 2020 mengatakan, negara ini kini menghadapi tiga krisis, COVID-19, krisis ekonomi dan krisis rasial.

Ketua partai Demokrat di negara bagian Wisconsin ini menambahkan, lebih dari 12 ribu lapangan kerja di sektor produksi di negara bagian Wisconsi hilang selama pemerintahan Donald Trump dan selama pandemi Corona tidak terselesaikan, lapangan kerja ini tidak akan dapat dibuka kembali.

"Krisis rasial di Amerika menciptakan perpecahan dan mengobarkan api kemunafikan serta pemerintah Trump berencana memanfaatkan krisis ini untuk meraih tujuan politiknya," papar Wikler.

Amerika saat ini menempati posisi puncak di dunia dari sisi jumlah kasus positif Corona dan angka kematian akibat pandemi ini.

Pemerintah Amerika khususnya Donald Trump mendapat kritikan pedas karena tidak bertanggung jawab atas maraknya pandemi Corona di Amerika dan kegagalannya mengatasi wabah ini serta dukungannya atas penumpasan demonstrasi anti rasis.

Gubernur New York: Trump Penyebab Penyebaran virus Corona

"Dia bertanggung jawab atas penyebaran virus ini ke negara bagian New York," kata Gubernur New York dari Partai Demokrat, saat mengkritik tajam tindakan presiden dalam menangani wabah Corona.

Andrew Coumo dan Trump

Menurut situs The Hill, Andrew Cuomo, Gubernur New York pada konferensi pers hari Selasa (08/09/2020), menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas penyebaran wabah virus Corona di negara bagian New York dan menyebut lembaga-lembaga medis dan Departemen Keamanan Dalam Negeri tidak kompeten.

Cuomo juga mengkritik Trump karena tidak mengalokasikan dana yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak epidemi Corona, dengan mengatakan, dia bertanggung jawab untuk tidak melarang orang Eropa yang bepergian ke Amerika Serikat.

Gubernur Partai Demokrat New York sebelumnya telah memperingatkan dalam menanggapi laporan kemungkinan pemotongan anggaran Kota New York atas perintah Trump bahwa ia membutuhkan militer untuk kembali ke kampung halamannya di New York City untuk menjaga dirinya tetap aman.

Amerika Serikat memiliki tingkat infeksi dan kematian tertinggi akibat virus Corona di dunia.

Sejauh ini, 6.514.376 orang di Amerika Serikat telah terinfeksi virus Corona dan 194.037 telah meninggal, menurut situs terbaru WorldMeter, yang melacak statistik resmi penyakit COVID-19.

Trump: Pentagon Sulut Perang untuk Puaskan Perusahaan Senjata

Presiden Amerika Serikat mengklaim, pejabat tinggi Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon sengaja melancarkan perang demi menjaga kepuasan para kontraktor militer.

ISNA (8/9/2020) melaporkan, Donald Trump menyinggung perseteruan terbaru dirinya dengan pejabat tinggi militer Amerika, dan dalam sebuah pidato ia menuduh para ptinggi Pentagon sengaja menyulut perang untuk menjaga kepuasan para kontraktor, dan perusahaan senjata.

Sebelumnya Senat Amerika menyetujui draf anggaran senilai 740 miliar dolar untuk Pentagon.

Di tengah segudang permasalahan yang dihadapi Amerika dalam memerangi wabah virus Corona di negara itu, dan angka pengangguran yang melonjak tinggi, Senat pada 25 Juli 2020 menyetujui draf anggaran besar untuk Pentagon.

Para demonstran mengatakan, uang pajak mereka digunakan oleh pemerintah Amerika untuk agresi militer, dan aksi kekerasan.

Biden Kritik Eskalasi Krisis Sosial di AS

Kandidat pilpres Amerika dari kubu Demokrat mengkritik eskalasi krisis sosial di Amerika dan kerusuhan terbaru di kota Portland.

Menurut laporan IRIB, Joe Biden saat diwawancarai televisi lokal di negara bagian Arizona seraya mengkritik eskalasi krisis sosial di Amerika dan kerusuhan terbaru di kota Portland di negara bagian Oregon mengungkapkan, Presiden Donald Trump hanya mengobarkan perpecahan dan memperparah krisis.

Joe Biden

Lebih lanjut Biden menilai berlanjutnya protes atas rasisme yang dilembagakan di Amerika sebagai hak rakyat dan ia juga mengecam kekerasan polisi dalam menumpas demonstrasi.

Kandidat pilpres 2020 Amerika dari kubu Demokrat ini di bagian lain statemennya mengisyaratkan kasus positif Corona di negara ini yang mencapai lebih dari enam juta orang dan mengkritik kinerja pemerintah Trump dalam menanggulangi pandemi ini.

"Presiden AS tanpa memberikan program yang pasti, berusaha menyimpangkan fokus rakyat atas ketidakmampuannya melaksanakan tugasnya," papar Biden.

Ketidakmampuan dalam menanggulangi penyebaran wabah Corona dan juga dukungan terhadap aksi penumpasan terhadap demo anti rasial telah mendorong maraknya ketidakpuasan warga Amerika terhadap Presiden Donald Trump.

Ilhan Omar: Kelaliman Rasial di AS Sistematis

Anggota DPR AS, Ilhan Omar menilai masalah rasialisme di AS telah terbentuk secara sistematis.

"Pengabaian rasial dan penindasan telah berlangsung selama berabad-abad di negara ini," kata anggota DPR perempuan AS ini.

Ilhan Omar dalam pidato virtual yang disiarkan langsung di jejaring sosial mengatakan, "Pengabaian rasial dan penindasan berlanjut selama berabad-abad menjadi penyebab terjadinya unjuk rasa turun ke jalan yang dilakukan untuk mengubah situasi tidak adil di Amerika Serikat saat ini,".

"Kami memiliki sistem yang terus menghancurkan jutaan orang di negara ini, dan membuat mereka putus asa," tegasnya.

Menurut anggota DPR muslimah AS ini, sistem  yang ada tidak menyediakan kebutuhan dasar hidup yang paling sederhana, seperti makanan, papan dan obat-obatan.

"Rakyat Amerika menghadapi banyak masalah, oleh karena itu mereka mengangkat suaranya dalam protes jalanan sehingga semua orang dapat mendengarnya." tegas Ilhan Omar.

Pompeo Kembali Menuduh Cina atas Wabah Virus Corona

Menteri Luar Negeri AS sekali lagi menyalahkan Cina atas penyebaran virus Corona di dunia.

Menurut laporan FNA, Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS pada hari Ahad (06/09/2020) mengatakan bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban partai yang berkuasa di Cina atas wabah virus Corona, sembari menuduh Cina menyebarkan virus ini di seluruh dunia.

Pompeo

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang dituduh tidak efektif dalam menangani wabah virus Corona, telah berusaha menyalahkan Cina atas hal ini dan berulang kali menyebutnya sebagai "virus Cina" atau "virus Wuhan". Tindakan itu membuat marah Beijing.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut klaim pejabat AS tentang penyebaran virus Corona dari Cina tidak rasional.

Pemerintahan Trump telah mengambil pendekatan konfrontatif ke Cina sejak menjabat pada Januari 2017.

Meningkatnya tarif dan perang perdagangan, menjatuhkan sanksi pada perusahaan-perusahaan besar Cina termasuk Huawei, memperkuat kerja sama dengan Taiwan, kehadiran angkatan laut AS yang besar di Laut Cina Selatan, dan retorika terhadap Beijing atas virus Corona adalah di antara upaya terbaru Gedung Putih untuk meningkatkan tekanan terhadap Beijing.

Penindasan Pengunjuk Rasa Anti-Rasis Amerika di Portland

Pasukan keamanan AS menyerbu para pengunjuk rasa anti-rasis dan kekerasan polisi di kota Portland di negara bagian Oregon.

Menurut laporan FNA, pasukan keamanan AS menggunakan gas air mata dan peralatan anti huru-hara lainnya untuk menumpas para pengunjuk rasa.

Pasukan keamanan AS menangkap sedikitnya 50 pengunjuk rasa, lapor Reuters Ahad (06/09/2020 malam.

Berbagai kota di AS, termasuk Portland, telah menjadi lokasi protes polisi sejak 25 Mei terhadap perilaku rasis polisi.

Pada hari Senin, 25 Mei, seorang perwira polisi kulit putih AS membunuh George Floyd, seorang warga kulit hitam Amerika di Minneapolis, Minnesota.

Kejahatan ini membuat marah rakyat Amerika. Tetapi Presiden Donald Trump memerintahkan polisi dan pasukan keamanan negara itu untuk menumpas para pengunjuk rasa.

Ribuan orang terluka dan ditahan dalam protes beberapa pekan terakhir di Amerika Serikat.