Bagaimana Iran Bertahan di Bawah Agresi dan Sanksi?
-
Sanksi dan agresi terhadap Iran
Pars Today - Iran bukan Irak 2003. Itulah kesimpulan sejumlah lembaga kajian Barat setelah menyaksikan ketahanan Tehran dalam perang terbaru melawan agresi AS-Zionis.
"Iran Bukan Irak 2003"
Think tank Inggris Chatham House, pada hari-hari awal perang, menegaskan perbedaan fundamental Iran dengan pola-pola regional. Lembaga ini mengakui bahwa Republik Islam Iran memiliki struktur yang berakar kuat dan institusi yang kohesif, terbentuk di atas identitas yang terintegrasi, serta memiliki kapasitas tinggi untuk pulih kembali dalam kondisi tertekan.
Dalam penilaiannya disebutkan bahwa kerusakan pada sebagian lapisan manajerial, karena kedalaman struktural ini, tidak akan mengganggu kelangsungan administrasi negara. Chatham House juga menilai respons Iran dalam waktu kurang dari empat jam setelah serangan pertama sebagai tanda kesiapan, koherensi, dan koordinasi yang telah dirancang sebelumnya.
Rob Macaire, mantan duta besar Inggris untuk Tehran dan anggota Chatham House, mengulangi narasi ini. Ia menulis bahwa mekanisme yang diperlukan untuk kelangsungan komando dan administrasi negara telah diantisipasi sebelumnya.
Intel AS: Perhitungan Awal Tidak Sesuai Realitas
Reuters, mengutip tiga sumber yang mengetahui masalah ini, melaporkan bahwa penilaian intelijen AS setelah hampir dua pekan serangan berkelanjutan tidak sesuai dengan narasi awal tentang hasil agresi terhadap Iran. Sekali lagi, kesenjangan antara kalkulasi Washington dan realitas lapangan terbukti.
Dalam laporan terpisah, Reuters mengakui bahwa perkiraan yang didasarkan pada efektivitas cepat mengabaikan kedalaman struktur manajerial Iran, kesiapan substitusi, dan pengalaman terakumulasi Tehran dalam melewati perang yang dipaksakan serta bertahun-tahun tekanan dan sanksi.
"Ketahanan Iran Diremehkan"
Beberapa penilaian asing terpaksa mengakui bahwa kalkulasi awal tentang efektivitas cepat perang terhadap Iran tidak sesuai dengan realitas lapangan. Royal United Services Institute (RUSI) menulis dalam catatannya bahwa pada tahap awal perang, asumsi awal tentang kurangnya ketahanan politik dan militer Iran serta efektivitas cepat serangan udara terbukti keliru.
Reuters dalam sebuah analisis melaporkan bahwa para perancang agresi ini meremehkan ketahanan Iran. Tekanan militer, alih-alih mengacaukan kalkulasi, justru mengarah pada kohesi struktur yang lebih besar.
"Tehran Tidak Mundur"
European Council on Foreign Relations (ECFR) menulis dalam analisisnya bahwa Tehran tidak mundur di bawah tekanan. Fakta ini membawa kebuntuan pada asumsi Washington tentang pencapaian hasil cepat.
Think tank ini juga menekankan bahwa gencatan senjata sementara pun tidak memberikan jaminan bagi Eropa, karena bayang-bayang krisis energi dan gangguan pasar masih tetap ada.
Institut Prancis untuk Hubungan Internasional (IFRI) menyatakan bahwa operasi AS di Iran telah mengungkap keterbatasan inheren model operasional Zionis-AS serta asumsi-asumsi problematis Barat.
Hormuz: Dari 4.000 Kapal Menjadi Kurang dari 100
Harian Italia La Repubblica melaporkan bahwa lalu lintas energi melalui Selat Hormuz turun dari tiga hingga empat ribu kapal menjadi kurang dari 100 kapal dalam sebulan. Titik kemacetan perdagangan global ini telah menimbulkan kekhawatiran serius bagi pasar dan ekonomi.
Dari perspektif ini, ketahanan Iran bukan sekadar reaksi internal, tetapi telah menjadi faktor efektif dalam mengatur ulang kalkulasi Barat tentang biaya perang.
Jelas, Iran tidak runtuh. Itu bukan klaim, tetapi fakta yang dipaksakan untuk diakui oleh lembaga-lembaga kajian Barat yang paling skeptis sekalipun.
"Iran bukan Irak 2003", Chatham House mengatakannya. "Ketahanan Iran diremehkan", RUSI mengakuinya. "Tehran tidak mundur", ECFR menulisnya.
Di tengah hujan rudal dan sanksi, Iran tidak hanya berdiri. Ia justru menunjukkan bahwa kedalaman struktural, pengalaman bersejarah, dan kohesi sosial adalah benteng yang tidak bisa ditembus oleh kekuatan militer mana pun.
Dan ketika lalu lintas Hormuz turun drastis, dunia mulai menghitung ulang: berapa biaya sebenarnya dari petualangan militer ini? Bagi Iran, biaya itu mahal. Namun bagi AS dan sekutunya, mungkin lebih mahal lagi.
Pertanyaan sekarang: setelah gagal meruntuhkan Iran dengan perang, apakah Washington akan belajar? Atau akan mencari cara lain, yang lagi-lagi akan menemui kegagalan yang sama?(sl)