Amerika Tinjauan dari Dalam 3 Oktober 2020
-
Presiden AS, Donald Trump
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai Trump dilarikan ke rumah sakit dengan helikopter setelah dinyatakan positif Covid-19.
Selain itu, Komite Intelijen DPR AS menyebut Trump sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS, FBI siap menumpas demonstran di Amerika; jika menang, Biden berjanji akan merevisi hubungan antara AS dan Arab Saudi, polling terbaru di AS menunjukkan bahwa debat pertama capres AS mengecewakan, AS mengumumkan hadiah 20 juta dolar bagi yang bisa menangkap tiga mantan pejabat tinggi Venezuela.
Terpapar Covid-19, Trump Dilarikan ke Rumah Sakit
Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah terpapar COVID-19 dilarikan ke rumah sakit militer Walter Reed di Washington.
"Trump akan menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit Walter Reed," ungkap Gedung Putih Jumat (2/10/2020) seperti dilaporkan FNA.
Gedung Putih juga menyatakan, Trump tidak berencana melimpahkan wewenangnya kepada Mike Pence dan masih tetap memimpin Amerika meski menjalani perawatan.
Pemindahan Donald Trump ke rumah sakit militer Walter Reed dilakukan dengan menggunakan helikopter.
Dokter Gedung Putih menyatakan, Trump sejak Jumat pagi mengalami demam dan menunjukkan gejala ringan virus Corona.
Pasca tersebarnya kabar Presiden Amerika Serikat dan istrinya positif virus Corona, sejumlah warga Amerika menyarankan Donald Trump untuk meminum deterjen seperti yang disarankan olehnya kepada warga negara itu, agar selamat dari kematian.
Setelah Trump dan istrinya dinyatakan positif Corona, sejumlah warga Amerika di jejaring media sosial menyarankan Presiden Amerika itu untuk manjalankan apa yang disarankannya kepada warga Amerika yaitu mengkonsumsi deterjen supaya selamat.
Hari Kamis (1/10) malam, Presiden Amerika di akun Twitternya mengumumkan bahwa hasil tes Corona dia dan istrinya, positif.
Trump mengaku saat ini dia bersama istrinya sedang menjalani karantina, dan pemulihan. Sejak awal penyebaran wabah Covid-19 di Amerika, Trump selalu menyampaikan statemen keliru, dan terkadang aneh terkait virus ini.
Komite Intelijen DPR AS: Trump Ancaman bagi Keamanan Nasional
Ketua Komite Intelijen DPR AS, Adam Schiff menyebut Presiden Donald Trump sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS.
Schiff dalam wawancara dengan CNN pada Rabu (30/9/2020), berbicara tentang sikap Trump yang tidak mau membayar pajak dan mengatakan, Trump tersangkut beban pajak 400 juta dolar dan ini tergolong sebagai masalah di sektor keamanan nasional.
Joe Biden dari Partai Demokrat dalam debat pertama capres Amerika, meminta Trump untuk menunjukkan dokumen pembayaran pajaknya, tetapi dia justru berkata, "Saya tidak mau membayar pajak."
Sebelum ini, surat kabar The New York Times melaporkan bahwa Trump hanya membayar pajak pendapatan sebesar 750 dolar pada tahun 2016. Namun, Trump membantah keras laporan tersebut.
Kasus pengemplangan pajak di AS menjadi salah satu skandal yang sudah sering memaksa seorang pejabat meletakkan jabatannya
FBI Siap Tumpas Demonstran di Amerika
Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat tengah bersiap-siap menumpas para demonstran di negara ini.
Menurut laporan Koran Washington Post, Departemen Kehakiman Amerika mulai menyusun program untuk menghadapi aksi kekerasan dan kerusuhan potensial di hari pemilu presiden negara ini.
Departemen Kehakiman AS berencana menempatkan unit FBI di pos-pos polisi di seluruh wilayah negara ini sebagai persiapan menghadapi bentrokan potensial antara pendukung para kandidat serta mencegah munculkan kesulitan serius di tempat pemungutan suara.
Pejabat keamanan pemerintah federal Amerika memperingatkan potensi kecurangan di pemilu lebih serius di banding tahun-tahun sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan menolak kekalahan di pemilu 3 November mendatang dan pastinya kecurangan menjadi alasan kekalahan potensialnya.
Statemen ini meningkatan ketidakpuasan dan protes luas anti rasial serta potensi kerusuhan di pemilu presiden mendatang.
Jika Menang, Biden Janji Revisi Hubungan AS-Arab Saudi
Kandidat presiden dari kubu Demokrat berjanji jika menang di pemilu mendatang, ia akan meninjau ulang hubungan Amerika Serikat dengan Arab Saudi.
Joe Biden, kandidat presiden dari kubu Demokrat di pilpres 2020 mengatakan, "Jika menang di pemilu, maka Saya akan meninjau ulang hubungan Washington-Riyadh dan akan mengakhiri dukungan Amerika di perang Yaman."
Biden juga mengisyaratkan peringatan teror Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi di konsulat negara ini di Istanbul, Turki.
Pembunuhan Khashoggi menarik perhatian atas pelanggaran luas Hak Asasi Manusia (HAM) di Arab Saudi.
Khashoggi dinyatakan hilang pada 2 Oktober 2018 setelah memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul dan petinggi Riyadh setelah beberapa pekan bungkam dan menepis keterlibatannya, akhirnya mengakui bahwa wartawan ini dibunuh di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul.
Polling: Debat Pertama Capres AS Mengecewakan
Sebuah polling yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat AS terhadap sesi pertama debat calon presiden AS menunjukkan tingginya kekecewaan mereka terhadap penyelenggaraan acara tersebut.
Sebanyak 69 persen responden yang mengikuti polling mengungkapkan bahwa debat antara Donald Trump dan Joe Biden mengecewakan dan tidak sesuai dengan harapan mereka.
Kebanyakan media dan para analis politik memandang debat pertama piplres AS yang berlangsung di Ohio tidak bernilai bagi masa depan AS.
Sebagian besar jajak pendapat menunjukkan bahwa Biden berada di depan menyisihkan Trump dalam perolehan suara.
Kegagalan Trump menangani pandemi Covid-19, masalah asusila yang melilit presiden AS, juga pemberangusan aksi protes anti-rasialis menjadi faktor penyebab menurunnya popularitas Trump menjelang pilpres November mendatang.
Tangkap Tiga Mantan Pejabat Venezuela, AS Umumkan Hadiah 20 Juta Dolar
Menteri Luar Negeri AS kembali mengambil langkah konfrontatifnya terhadap Caracas dengan mengumumkan hadiah sebesar 20 juta dolar untuk siapa saja yang bisa menangkap tiga mantan pejabat Venezuela.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dalam statemennya hari Selasa (29/9/2020) mengklaim ketiga mantan pejabat Venezuela tersebut terlibat dalam perdagangan narkotika.
Berdasarkan pernyataan menteri luar negeri AS, hadiah sebesar 10 juta dolar ditetapkan bagi orang yang bisa menangkap salah satu dari ketiga mantan pejabat Venezuela tersebut, sedangkan dua orang lainnya masing-masing akann dihadiahi lima juta dolar bagi yang bisa menangkapnya.
Elliott Abrams, Utusan Khusus AS Urusan Venezuela baru-baru ini menyatakan bahwa pemerintahan Donald Trump meningkatkan tekanan maksimum terhadap Caracas dengan tujuan untuk menggulingkan Nicolas Maduro.
Selama beberapa bulan terakhir, AS melancarkan berbagai tekanan dan sanksi ekonomi yang sangat ketat terhadap Venezuela untuk melumpuhkan pemerintahan kiri di kawasan Amerika Latin ini, tapi hingga kini tidak pernah berhasil.(PH)