Nasib Pilpres AS yang Semakin Suram
-
debat capres Amerika pertama pilpres 2020
Seiring dengan dilarikannya Presiden Amerika Serikat ke rumah sakit setelah dinyatakan positif Corona, ketidakpastian penyelenggaraan pemilu presiden di Amerika semakin meningkat dari sebelumnya.
Tepat 30 hari lagi menjelang pilpres Amerika, salah satu kandidat calon presiden negara ini yang merupakan presiden petahana, dikabarkan terinfeksi virus mematikan Covid-19.
Berita positifnya hasil tes Corona, Presiden Amerika yang turut menyebabkan anjloknya indeks harga saham Amerika, memaksa Gedung Putih mengumumkan penghentian aktivitas pemilu Donald Trump, atau dilanjutkan tapi secara virtual.
Meskipun demikian, tidak jelas apakah untuk debat presiden sesi kedua Trump diizinkan tampil melawan rivalnya Joe Biden atau tidak.
Debat capres hanya satu dari sekian banyak permasalahan yang mendera proses pemilu di Amerika. Jika kondisi kesehatan Trump terus memburuk, dan keselamatan jiwanya terancam, maka nasib penyelenggaraan pilpres Amerika, 3 November 2020 mendatang, semakin tidak jelas.
Kalau hal itu sampai terjadi, Kongres Amerika akan ditekan untuk memutuskan penangguhan waktu pilpres, dan hal ini diprediksi akan memicu kakacauan politik di Amerika, mengingat pertentangan tajam kubu Demokrat, dan Republik.
Situasi ini akan semakin buruk saat pengganti Trump ditentukan, yaitu jika terjadi sesuatu yang tak terduga terhadap kesehatan kandidat dari Republik itu.
Sepanjang sejarah Amerika belum pernah terjadi seorang kandidat capres utama mundur dari kontestasi menjelang penyelenggaraan pemilu dengan alasan apapun.
Tapi jika kemungkinan itu benar-benar terjadi, maka anggota komite nasional Partai Republik harus memutuskan apakah akan menyerahkan posisi kandidat capres pemilu 2020 kepada Mike Pence, wakilnya Trump, atau mengajukan nama lain untuk menyaingi Joe Biden.
Richard L. Hasen, profesor hukum dan ilmu politik dari University of California, Irvine, Amerika mengatakan, jika salah satu kandidat capres Amerika dalam rentang waktu yang tidak lama lagi menuju pilpres ini, meninggal dunia, maka tahap berikutnya akan penuh ketidakpastian, dan kekacauan. Dengan memperhatikan aturan tidak jelas, dan ambigu di Electoral College, maka ruang untuk permaian politik akan semakin terbuka.
Akan tetapi sekalipun Trump berhasil sembuh dari Corona, ia akan kehilangan minimal dua minggu waktu berharganya dalam kampanye pemilu. Dalam rentang waktu ini, Joe Biden memiliki kesempatan yang baik untuk menggalang pendukung sebanyak mungkin.
Sejak beberapa bulan lalu pemilu presiden Amerika memang sudah berada dalam kondisi krisis. Dari satu sisi penyebaran wabah virus Corona, ditambah tiga krisis lain yaitu, kesehatan, pengangguran dan rasisme, sehingga membuat Amerika berhadapan dengan situasi khusus.
Di sisi lain, perang politik antara kubu Republik, dan Demokrat membuat banyak pihak mempertanyakan secara serius krebilitas pemilu Amerika.
Sebelum Trump dinyatakan positif Covid-19, pemilu presiden 2020, dikarenakan penggunaan luas metode pemungutan suara non-fisik melalui pos, disebut sebagai pemilu curang. Sekarang saat salah satu kandidat capres dilarikan ke rumah sakit karena terpapar Corona, maka kesempatan rivalnya untuk kampanye, bertambah besar.
Beberapa kalangan memprediksikan Trump dan timnya akan meningkatkan protesnya. Namun tim kampanye Joe Biden mengumumkan selama Trump belum pulih, propaganda negatif terhadap presiden petahana itu akan dihentikan.
Akan tetapi kecil kemungkinan kubu Republik, terutama pribadi Trump akan menarik klaimnya terkait kecurangan pemilu, dan menerima kekalahan dalam pemilu presiden kali ini. (HS)