Dunia Sambut Kekalahan Trump dalam Pilpres AS
-
Donald Trump
Pengumuman hasil perolehan suara pemilu presiden Amerika, November 2020, dan kemenangan Joe Biden calon dari Partai Demokrat dengan perolehan 290 electoral votes, di hadapan 214 electoral votes yang diraih Donald Trump, presiden petahana, menimbulkan reaksi positif di arena internasional.
Meski Trump tidak mengakui kekalahannya dalam pilpres kali ini, namun mulai saat ini suara-suara keras protes atas kebijakan-kebijakannya mulai terdengar.
Terutama pejabat tinggi Eropa baik di Uni Eropa, maupun di beberapa negara penting benua ini, mereka mereaksi peristiwa terbaru di Amerika, dan selain menyambut kemenangan Joe Biden, juga memprotes kebijakan-kebiakan Trump.
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas menanggapi kemenangan Joe Biden dalam pilpres Amerika, ia memprotes pemerintah Trump, dan kinerjanya. Ia mengatakan, kinerja Presiden Amerika di level internasional telah membawa banyak masalah bagi kami, Trump tahu sekarang waktunya untuk pergi.
Hal ini merujuk pada masalah-masalah besar yang dhasilkan kebijakan-kebijakan unilateralisme di masa Trump dalam kerangka slogan America First. Masalah-masalah ini memiliki banyak dimensi mulai dari perdagangan, ekonomi, militer dan keamanan, sampai politik.
Trump selalu mengedepankan strategi tuntutan terhadap Eropa, dan menuduh negara-negara penting terutama Jerman memanfaatkan Amerika untuk kepentingan pribadinya. Trump sejak awal berkuasa membuat masalah di NATO, dan ingin negara-negara Eropa anggota NATO menambah anggarannya, dan untuk menekan Jerman, ia menarik sebagian pasukan Amerika dari negara itu.
Di bidang perdagangan, dan ekonomi, Trump melancarkan kebijakan perang ekonomi bukan hanya dengan rivalnya seperti Cina, bahkan terjun ke dalam perang luas, dan berkelanjutan dengan sekutu Eropanya sendiri, dan sampai sekarangpun masih berlangsung.
Di sisi lain, Trump dengan keluar dari berbagai perjanjian internasional terutama yang dianggap sangat penting oleh Eropa seperti perjanjian iklim Paris, kesepakatan nuklir JCPOA, dan perjanjian kontrol senjata seperti Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah, INF, secara praktis telah membahayakan secara serius keamanan Eropa dan dunia.
Pada saat yang sama, Trump selalu memandang rendah negara lain termasuk Eropa sendiri, dan berulangkali menggunakan diksi menghina, dan merendahkan kepada petinggi negara Eropa seperti Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Kinerja Trump yang menyebabkan terkucilnya Amerika di dunia, memaksa Joe Biden mengakui bahwa Trump telah menghilangkan kehormatan Amerika.
Bukan hanya Eropa yang gembira dengan kekalahan Trump, para politisi, negara dan rival Amerika juga menunjukkan reaksi positif atas kejadian ini. Cina mengumumkan, Vaksin Corona tidak lama lagi akan dipasarkan, dan ini adalah bentuk perlawanan atas tuduhan Trump terhadap keterlibatan Beijing dalam wabah Covid-19 di dunia.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang di masa Trump mengalami sanksi dan tekanan terberat oleh Amerika, mengumumkan kesiapan untuk melakukan perundingan dengan pemerintah baru Washington. Di sisi lain tokoh-tokoh anti-imperialisme dunia juga senang dengan kekalahan Trump.
Mantan presiden Bolivia, Evo Morales saat menanggapi kemenangan Joe Biden mengatakan, kami gembira Trump fasis, dan rasis, kalah. Akan tetapi kami tidak senang Biden menang, kegembiraan kami karena kekalahan Trump.
Sikap ini menunjukkan bahwa kemenangan Biden tidak perlu terlalu disambut baik, pasalnya siapapun presidennya dari Demokrat atau Republik, kebijakan jangka panjang Amerika terutama menjajah dunia, melawan rival, dan penggunaan kekerasan, semi keras seperti sanksi, perang propaganda, selalu menjadi inti kebijakan Gedung Putih, dan sekarang hanya taktiknya yang berubah. (HS)