Reaksi Rusia terhadap Intervensi Barat di Belarus
https://parstoday.ir/id/news/world-i87680-reaksi_rusia_terhadap_intervensi_barat_di_belarus
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menuduh negara-negara Barat mencampuri urusan dalam negeri Rusia dan Belarus dalam bentuk sanksi sepihak dan provokasi terhadap rakyat untuk menyulut kerusuhan.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 27, 2020 13:28 Asia/Jakarta
  • Menlu Rusia,Sergei Lavrov
    Menlu Rusia,Sergei Lavrov

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menuduh negara-negara Barat mencampuri urusan dalam negeri Rusia dan Belarus dalam bentuk sanksi sepihak dan provokasi terhadap rakyat untuk menyulut kerusuhan.

"Negara-negara Barat menggunakan teknologi untuk mengorganisir pemberontakan massal di Rusia dan Belarus. Para diplomat serta media mereka menetapkan tenggat waktu bagi kami. Mereka mencoba memengaruhi proses internal di negara kami," ujar Menlu Rusia.

Lavrov menilai berkelanjutan aksi Barat yang dipimpin AS dalam periode pasca-Perang Dingin bertujuan untuk melemahkan Rusia dan membuat perubahan politik di negara-negara sekitarnya dengan mencampuri urusan dalam negeri mereka.

Mengenai masalah ini, Pakar politik Rusia, Sergey Kogmiyakin mengatakan, "Berlawanan dengan retorika propaganda tentang kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia, tujuan utama sistem kapitalis global adalah ekspansionisme. Perebutan pasar baru dan penggulingan pemerintah yang tidak kompatibel dengan sistem mereka demi menjaga kelangsungan hidupnya,".

Pasca Perang Dingin, Rusia selalu menghadapi intervensi Barat dalam urusan dalam negeri berupa operasi kudeta lunak. Masalah ini semakin meningkat setelah pecahnya krisis Ukraina pada tahun 2014 dan eskalasi konfrontasi Moskow dan NATO di Eropa Timur serta penerapan berbagai sanksi terhadap Rusia oleh Amerika Serikat dan Eropa.

Para pejabat senior Rusia menilai di balik gelombang protes di Rusia dan Belarus baru-baru ini ada upaya negara-negara Barat yang berambisi membangun pemerintahan pro-Barat di kedua negara itu melalui pemberontakan massal.

 

Aksi protes di Belarus

 

Selama beberapa tahun terakhir, pihak Barat, terutama Amerika Serikat telah mengintensifkan upayanya untuk mengintervensi urusan dalam negeri Rusia dengan tujuan menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan protes, dan pada akhirnya membuka jalan bagi pembentukan revolusi warna di Rusia. Salah satu langkah terpenting dalam hal ini adalah meningkatkan bantuan keuangan, serta dukungan media yang komprehensif bagi pihak oposisi, dan menciptakan atmosfir negatif di dalam negeri Rusia.

Kegagalan langkah oposisi untuk melemahkan pemerintah Rusia, mendorong sanksi AS bekerja sama dengan Uni Eropa untuk Rusia, termasuk yang berada di bawah aturan CAATSA, yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow dan menciptakan ketidakpuasan di tengah rakyat Rusia.

Menyikapi pendekatan agresif Eropa dan Amerika Serikat terhadap Moskow, Lavrov mengatakan, "Barat tidak bermain secara sah dengan menjatuhkan sanksi sepihak tanpa bukti yang kuat,".

Pada saat yang sama, Moskow prihatin dengan upaya berkelanjutan Barat, terutama Amerika Serikat bersama Uni Eropa untuk meluncurkan revolusi warna di negara-negara sekitar Rusia. Hal ini telah dilakukan di Georgia, Ukraina dan Kyrgyzstan. Kini, dijalankan di Belarus yang selama ini menjadi salah satu sekutu utama Rusia.

Faktanya, dari sudut pandang Rusia, tren ekspansi NATO ke kawasan timur Eropa dan terjadinya revolusi warna pada akhirnya akan mengarah pada pengepungan terhadap Rusia. Moskow percaya bahwa Barat, terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat, mengejar rencana serupa untuk Belarus dengan meningkatkan tekanan politik, dan secara terbuka mendukung para pengunjuk rasa, juga menjatuhkan sanksi yang ekstensif terhadap pada pejabat senior Belarus.(PH)