Mimpi Turki Menghidupkan Imperium Ottoman
https://parstoday.ir/id/news/world-i93222-mimpi_turki_menghidupkan_imperium_ottoman
Pemerintah Turki mengabaikan tuntutan pemerintah negara-negara kawasan dan dunia agar mengakhiri pendudukan Suriah dan Irak, dan terus mempertahankan pasukannya di kedua negara tersebut.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Mar 15, 2021 10:04 Asia/Jakarta
  • Konvoi pasukan Turki di Suriah.
    Konvoi pasukan Turki di Suriah.

Pemerintah Turki mengabaikan tuntutan pemerintah negara-negara kawasan dan dunia agar mengakhiri pendudukan Suriah dan Irak, dan terus mempertahankan pasukannya di kedua negara tersebut.

Satu hari setelah Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang menyerukan penarikan pasukan Turki dari Suriah, Ankara justru mengerahkan peralatan militer dan logistik tambahan ke Provinsi Idlib, Suriah. Ini adalah konvoi militer ketiga Turki yang tiba di Idlib dalam dua pekan terakhir.

Secara bersamaan, jet-jet tempur Turki kembali menggempur milisi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak Utara. Pemerintah Baghdad berulang kali mengecam serangan sepihak itu dan menganggapnya melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Irak.

Meskipun ada protes dari pemerintah dan rakyat Suriah dan Irak, namun Turki tetap melakukan operasi militer di Irak dan menduduki wilayah Suriah. Anehnya, Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan mengumumkan, “Ankara melakukan operasi militer di Suriah Utara untuk melawan kelompok teroris yang mengancam keselamatan rakyat Suriah dan Turki, berdasarkan hak membela diri yang diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB.”

Para pengamat memandang justifikasi yang dilakukan oleh Turki, tidak rasional dan tidak mendasar. Mereka percaya bahwa para pejabat Ankara sedang mengejar kepentingan tertentu yang selaras dengan upaya menghidupkan kembali Imperium Ottoman.

Sejak pecahnya krisis di Suriah, Turki berharap kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh mampu menggulingkan pemerintah Damaskus, dan mereka bahkan menyediakan dukungan logistik untuk teroris. Akan tetapi, Turki terpaksa mengubah strateginya setelah tentara Suriah berhasil membebaskan daerah-daerah yang diduduki dan mengalahkan teroris.

Pasukan Turki memasuki wilayah Irak.

Militer Turki akhirnya memilih intervensi langsung dan menduduki sebagian wilayah Suriah setelah selama ini memanfaatkan kelompok-kelompok proksi khususnya Brigade Turkmen dan Tentara Pembebasan Suriah, di samping kelompok takfiri dan teroris.

Keputusan militer Turki menduduki sebagian wilayah Suriah menunjukkan bahwa pemerintah Ankara telah menetapkan tujuan jangka panjang di negara Arab itu. Sejak lima tahun lalu, ketika Presiden Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan perintah serangan ke Suriah, militer Turki telah melancarkan tiga operasi besar di negara tersebut.

Operasi pertama yang disebut “Perisai Eufrat” diluncurkan oleh militer Turki pada Agustus 2016 di Suriah Utara. Kemudian dilakukan operasi “Ranting Zaitun” pada awal 2018 yang menyebabkan pendudukan wilayah Afrin. Militer Turki pada tahun 2019 meluncurkan “Operasi Mata Air Damai” yang berbeda dengan dua operasi militer sebelumnya.

Operasi Mata Air Damai mencakup area seluas 460 kilometer dari tepi barat Sungai Eufrat hingga ke wilayah perbatasan bersama Suriah-Irak. Operasi ini diklaim untuk menciptakan zona penyangga seluas 30 kilometer di daerah Suriah.

Pasukan Turki sejauh ini telah mendirikan 77 pos pemeriksaan dan pangkalan militer di Provinsi Idlib dan jumlah tersebut akan ditingkatkan. Meski demikian, pemerintah Turki belum mencapai tujuannya di Suriah dan Irak. Kebijakan agresif ini hanya menyebabkan kematian ratusan ribu warga sipil dan membuat jutaan warga Suriah dan Irak terlantar. (RM)