Amerika Tinjauan dari Dalam, 19 Juni 2021
https://parstoday.ir/id/news/world-i99470-amerika_tinjauan_dari_dalam_19_juni_2021
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai pertemuan Presiden AS dan Rusia.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 19, 2021 14:33 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Biden dan Putin
    Pertemuan Biden dan Putin

Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai pertemuan Presiden AS dan Rusia.

Isu lain tentang program Pentagon membangun pangkalan laut untuk menghadapi Cina, aktivitas militer AS dan NATO menjadi pemicu pemanasan global, laporan WSJ bahwa AS akan menarik ratusan tentara, pesawat dan rudal dari timteng; dan CENTCOM mengancam akan menduduki kembali Afghanistan jika AS diserang.

 

 

Biden dan Putin Bertemu di Jenewa

Akhirnya, Presiden AS dan Rusia bertemu pada Rabu, 16 Juni di Jenewa, Swiss bertemu dua kali selama empat setengah jam. Pada awal pertemuan bilateral antara Vladimir Putin dan Joe Biden, kedua pihak menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Rusia memiliki kepentingan bersama dalam masalah program nuklir Iran.

Sebelumnya, Moskow berulang kali mengutuk penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir JCPOA selama pemerintahan Trump dan pengenaan sanksi sepihak terhadap Iran, dan sekarang menyerukan agar sanksi Washington terhadap Tehran dicabut, dan AS  kembali ke JCPOA tanpa syarat.

Berbeda dengan Amerika Serikat, Moskow juga menekankan hak Iran untuk menggunakan teknologi dan energi nuklir secara damai, sementara Amerika Serikat berusaha untuk memberlakukan lebih banyak pembatasan pada kegiatan nuklir damai Iran.

Di akhir pertemuan pertama, Presiden Rusia dan Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan bersama yang menekankan dimulainya dialog bilateral strategis lainnya tentang pengendalian senjata dalam waktu dekat. Namun, Biden menolak untuk mengadakan konferensi pers bersama dengan rekannya dari Rusia.

Terlepas dari langkah Biden, yang merupakan tanda pandangan negatif dan langkah yang tidak bersahabat Biden terhadap Putin, tapi Putin menggambarkan pembicaraannya dengan Biden sebagai  momentum "baik" pada konferensi pers setelah pertemuan tersebut. Dia juga mengumumkan bahwa Biden setuju untuk memperpanjang perjanjian senjata New START.

Mengenai sanksi sepihak AS terhadap Rusia, Putin menyatakan bahwa kerugian Washington dari sanksi sepihak yang dijatuhkan terhadap Rusia tidak kurang dari Moskow. Pernyataan Putin tersebut mengindikasikan berlanjutnya hubungan tidak bersahabat antara kedua negara, terutama pengenaan sanksi timbal balik.

Sementara itu, Biden dalam konferensi pers  dan akan terus mengangkat masalah hak asasi manusia yang mendasar, dengan mengungkapkan, "Saya katakan kepada Putin bahwa kami tidak menerima pelanggaran kedaulatan AS,".

Pertemuan antara presiden AS dan Rusia pada dasarnya lebih merupakan tawaran bagi Biden untuk mengangkat masalah dan memperingatkan Putin daripada kerangka kerja sama untuk menyelesaikan perbedaan atau kesepakatan baru.

 

 

Pentagon akan Bangun Pangkalan Laut untuk Hadapi Cina

Pejabat Amerika Serikat mengabarkan rencana Departemen Pertahanan negara itu untuk membangun sebuah pangkalan laut di Samudra Pasifik untuk menghadapi kemungkinan pertempuran dengan Cina.

Dikutip Politico, Selasa (15/6/2021), dua pejabat AS mengatakan, Pentagon bermaksud membangun sebuah pangkalan laut untuk menghadapi Cina, dan sekarang sedang berusaha mendapatkan anggaran untuk proyek ini.

Salah seorang pejabat AS menuturkan, “Saat ini kami sedang mengkaji sejumlah usulan di India dan Samudra Pasifik, serta seluruh wilayah ini sehingga aktivitas-aktivitas kami lebih terkoodinasi. Sekarang waktunya untuk bekerja, namun detail masalah masih belum final.”

Pejabat AS yang lain mengatakan, pembangunan pangkalan laut ini seperti pangkalan laut NATO di Eropa di masa Perang Dingin.

 

 

Aktivitas Militer AS dan NATO Jadi Pemicu Pemanasan Global

Sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa jika militer AS adalah sebuah negara merdeka, maka mereka akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ke-47 di dunia.

Dilansir Reuters, Minggu (13/6/2021), studi yang dilakukan Universitas Lancaster dan Universitas Durham di Inggris hanya memperhitungkan emisi dari penggunaan bahan bakar, namun kajian ini menunjukkan kontribusi besar angkatan bersenjata di seluruh dunia terhadap perubahan iklim.

Dalam upaya mengatasi pemanasan global, NATO untuk pertama kalinya menjadikan isu ini sebagai fokus utama perencanaan dan strategi mereka.

Para pemimpin NATO bertemu pada Senin di Brussels untuk menyepakati sebuah Rencana Aksi Iklim sehingga angkatan bersenjata mereka bisa bebas gas karbon pada tahun 2050 dan beradaptasi dengan ancaman yang ditimbulkan oleh pemanasan global.

 

Pasukan AS

 

WSJ: AS akan Tarik Ratusan Tentara, Pesawat dan Rudal dari Timteng

Amerika Serikat bermaksud menarik ratusan pasukan, pesawat dan rudalnya dari negara-negara di Asia Barat (Timur Tengah).

The Wall Street Journal, Jumat (18/6/2021) menulis, Menteri Pertahanan AS sudah menyampaikan rencana penarikan pasukan dan peralatan tempur negara itu dari kawasan, kepada Putra Mahkota Arab Saudi pada 2 Juni 2021 lalu.

Pemerintah Presiden Joe Biden bermaksud mengurangi sistem pertahanan rudal AS di Timur Tengah untuk lebih memusatkan konsentrasi pada Rusia dan Cina.

Menurut Departemen Pertahanan AS, Pentagon, delapan sistem pertahanan rudal Patriot akan ditarik dari Irak, Kuwait, Yordania, dan Arab Saudi, dan sebuah sistem pertahanan udara THAAD juga akan ditarik dari Saudi.

WSJ mengatakan, ketegangan AS dan Iran mulai menurun seiring dimulainya perundingn nuklir, dan sistem pertahanan udara yang akan ditarik AS dari Saudi, sudah ditempatkan di negara itu selama dua tahun.

 

CENTCOM

 

CENTCOM Ancam Duduki Kembali Afghanistan Jika AS Diserang

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengancam akan ada invasi baru ke Afghanistan jika serangan ke AS kembali terjadi.

Komandan pasukan teroris CENTCOM di Asia Barat, Jenderal Kenneth McKenzie hari Minggu (13/6/2021) mengatakan jika terjadi serangan ke AS dari Afghanistan, ada kemungkinan kami kembali melakukan invasi militer di negara itu.

Departemen Pertahanan AS belum lama ini mengumumkan bahwa proses penarikan pasukan dari Afghanistan mencapai lebih dari 50 persen dan diharapkan akan selesai pada 11 September 2021.

AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan pada tahun 2001 dengan alasan memerangi terorisme dan menciptakan keamanan di Afghanistan. Aksi ini telah memicu perang yang berkepanjangan, konflik, dan kehancuran infrastruktur ekonomi Afghanistan, serta meningkatkan ketidakamanan dan terorisme.

Para pejabat Afghanistan berulang kali mendesak penarikan pasukan asing dari negara mereka.

 

 

FBI dan Pentagon Dinilai Mengabaikan Ancaman Serangan ke Capitol

Perusahaan media sosial Amerika, Parler menyatakan bahwa FBI dan Pentagon telah mengabaikan lusinan pesan yang berisi ancaman serangan ke Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.

Beberapa hari sebelum serangan ke Capitol, perusahaan media sosial Parler telah menandai lusinan pesan yang mengkhawatirkan untuk FBI, sebuah peringatan yang tampaknya diabaikan.

“Jangan kaget jika kita mengambil alih Capitol,” tulis sebuah postingan di media sosial Parler. “Trump membutuhkan kita untuk memicu kekacauan untuk memberlakukan Undang-Undang Pemberontakan,” tambahnya.

Komite Pengawas DPR AS pada hari Selasa, memeriksa puluhan pesan serupa yang dikirim oleh Parler ke FBI dan Pentagon, empat hari sebelum serangan ke Capitol terjadi.

Direktur FBI Christopher Wray mengatakan lembaganya sekarang sedang meninjau apakah informasi tersebut ditangani dengan tepat.

Wray dan FBI bukan satu-satunya yang ditekan oleh anggota DPR tentang sinyal peringatan yang diabaikan dan respons yang salah terhadap serangan oleh para pendukung Donald Trump. Kurangnya kesiapan dari unit darurat Pentagon dan Polisi Capitol juga mendapat kecaman.

Ketua Pengawas DPR AS Carolyn Maloney, mengatakan Pentagon membutuhkan waktu terlalu lama untuk bertindak meskipun ada tanda peringatan dan permohonan dari para pemimpin penegak hukum lainnya hari itu.

“Ini adalah kegagalan yang mengejutkan,” tegasnya.

Pada 6 Januari, ribuan pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol untuk mencegah pengesahan kemenangan Joe Biden dalam pemilu presiden AS oleh Kongres.(PH)