Menelisik Hubungan Iran-Indonesia 1
Oleh: Purkon Hidayat Iran dan Indonesia adalah dua negara besar dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di tingkat dunia Islam, hubungan kedua negara sangat penting dalam posisinya sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim. Indonesia memiliki populasi penganut mazhab Sunni terbesar di dunia, sedangkan Iran adalah negara yang mayoritas penduduknya menganut mazhab Syiah. Iran dan Indonesia termasuk negara anggota OKI yang memiliki pengaruh di organisasi negara-negara Muslim tersebut.
Hubungan diplomatik Iran dan Indonesia telah dimulai sejak tahun 1950. Sejak itu, Indonesia memiliki kedutaan di Tehran, dan Iran juga memiliki kedutaan besar di Jakarta. Di tingkat global, kedua negara adalah anggota penuh Gerakan Non-Blok (GNB), dan Kelompok D-8.
Selama ini hubungan diplomatik kedua negara berjalan baik dan erat. Bahkan pemerintah Iran dan Indonesia terus meningkatkan hubungan bilateral demi kepentingannya masing-masing. Selain diikat oleh berbagai faktor yang menjadi kesamaan kedua negara, Tehran dan Jakarta terus mengembangkan dan memperkuat faktor kolektif yang menjadi unsur perekat hubungan Iran dan Indonesia.
Saling kunjung antarpejabat tinggi kedua negara juga mengalami peningkatan dari sebelumnya. Kunjungan terbaru dilakukan ketua MPR-RI dan wakilnya beserta rombongan ke Iran. Delegasi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia dipimpin oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hassan mengunjungi Iran untuk memenuhi undangan resmi ketua Parlemen Iran, Ali Larijani.
Ketua parlemen Iran memandang Tehran dan Jakarta dapat lebih mengembangkan kerja sama di segala bidang, baik budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ali Larijani dalam pertemuan dengan Zulkifli Hasan hari Senin (5/12/2016) menyampaikan kesiapannya untuk alih teknologi dengan Indonesia, dan juga peningkatan kerjasama di bidang politik. Selain itu, Larijani secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan Indonesia kepada Iran melalui penolakan terhadap resolusi Dewan HAM yang memiliki dampak negatif terhadap Tehran.
"Di bidang politik, kedua parlemen diharapkan dapat lebih mempererat kerja sama,” ujar Larijani hari Senin, 5 Desember 2016.
Ketua parlemen Iran dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Jakarta menyebut Indonesia sebagai negara paling berpengaruh di dunia Islam. Ia juga mengajak Indonesia untuk bekerja sama dalam penyelesaian konflik negara-negara di Timur Tengah melalui dialog politik, terutama terkait konflik Palestina, Rohingya.
Dalam pertemuan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan Ketua Parlemen Iran Ali Larijani di Kantor Parlemen Iran di Tehran, Senin (5/12), Iran dan Indonesia sepakat bekerja sama meningkatkan peran aktif untuk mempercepat kemerdekaan Palestina serta mengupayakan perlindungan bagi komunitas Rohingya di Myanmar.
"Isu Rohingya dan Palestina harus mendapat perhatian khusus dari saudara-saudaranya sesama Muslim. Parlemen Indonesia dan Iran sepakat terlibat aktif upayakan kemerdekaan Palestina dan perlindungan untuk Rohingya," kata Zulkifli di Tehran.
Zulkifli juga menyampaikan itikad baik Indonesia untuk terlibat aktif menciptakan perdamaian di Timur Tengah, yang sampai saat ini dilanda konflik berkepanjangan. Ketua MPR-RI bersyukur itikad baik Indonesia disambut baik Parlemen Iran.
"Semoga dengan kerjasama Indonesia-Iran ini, Timur Tengah yang damai, aman dan stabil bisa terwujud," tutur Zulkifli.
Terkait hal ini, simak petikan wawancara dengan ketua MPR-RI, Zulkifli Hasan di wisma Duta Besar Indonesia di Tehran hari Minggu malam (4/12):
wawancara
Iran dan Indonesia selama ini memiliki kedekatan pandangan dalam menyikapi berbagai isu regional dan internasional. Masalah tersebut ditegaskan berulangkali oleh para pejabat tinggi Iran dan Indonesia. Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani dalam pertemuan dengan wakil presiden Republik Indonesia, Jusuf kalla di sela-sela KTT ke-17 GNB di Margarita Island, Venezuela, Ahad (18/9/2016) mengatakan, Tehran dan Jakarta memiliki pandangan sangat dekat dalam menyikapi isu-isu politik.
Presiden Iran menegaskan bahwa Iran dan Indonesia, sebagai dua negara Muslim besar, memiliki tanggung jawab berat untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas internasional, terutama dunia Islam. Selain itu, Rohani juga menekankan pentingnya memperkuat persatuan di antara negara-negara Muslim.
Sebelumnya, dalam pertemuan dengan menteri luar negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi di Tehran, Rabu (14/10/2015), presiden Rohani mengungkapkan, Iran dan Indonesia sebagai dua negara besar dan berpengaruh di Timur Tengah dan Asia Tenggara mampu berperan aktif dalam penyelesaikan persoalan regional dan dunia Islam melalui konsultasi dan kerjasama.
Sementara itu, Menlu Indonesia dalam pertemuan tersebut menegaskan komitmen negaranya untuk memperkuat hubungan dengan Iran di semua bidang. Menlu Indonesia menjelaskan bahwa dewasa ini semua negara Muslim harus tetap menjaga Islam sebagai agama rahmat bagi masyarakat dunia dan mempromosikan toleransi dan sikap moderat.
"Indonesia selalu menyuarakan solusi politik dan diplomatik untuk menyelesaikan persoalan regional," tegasnya.
Menurut Menlu Retno, Indonesia merasa yakin bahwa pendekatan soft power harus diutamakan. Karena ini, yang akan membawa penyelesaian yang lebih sustainable.
Berkaitan dengan kesepakatan nuklir Iran , Indonesia menyambut baik kesepakatan yang dicapai antara Iran dan kelompok 5+1. Indonesia mengharapkan agar implementasi dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) itu dilakukan secara penuh. Sebab, akan memberikan harapan baru bagi masyarakat Iran, sehingga ekonominya menjadi semakin terbuka dan juga sekaligus dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dunia. Menurut menlu Retno, kesepakatan ini juga akan membawa perdamaian dunia.
Terkait hal ini, simak petikan wawancara pernyataan Menlu Indonesia, Retno Marsudi berikut ini:
wawancara
Peningkatan kerja sama Iran dan Indonesia di berbagai bidang menjadi perhatian pemerintah kedua negara, bahkan hingga tingkat ketua MPR dan presiden. Sebagian bagian dari upaya tersebut, presiden Republik Indonesia, Joko Widodo akan mengunjungi Iran pada 13 hingga 15 Desember 2016. sebelumnya, presiden Iran, Hassan Rohani telah mengunjungi Indonesia untuk menghadiri peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 pada April 2015 lalu.