Menelisik Hubungan Iran-Indonesia 2
https://parstoday.ir/id/radio/indonesia-i28009-menelisik_hubungan_iran_indonesia_2
Oleh:Purkon Hidayat. Selain bidang politik, Iran dan Indonesia juga meningkatkan hubungan di berbagai sektor lain. Selama ini, pemerintah Iran dan Indonesia telah menjalin kerja sama erat di bidang budaya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 11, 2016 16:16 Asia/Jakarta

Oleh:Purkon Hidayat. Selain bidang politik, Iran dan Indonesia juga meningkatkan hubungan di berbagai sektor lain. Selama ini, pemerintah Iran dan Indonesia telah menjalin kerja sama erat di bidang budaya.

Hubungan Iran dan Indonesia tidak hanya terbatas sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik sekitar 66 tahun silam. Tapi ikatan budaya kedua bangsa sudah terjalin jauh sebelumnya, bahkan telah melewati ribuan tahun. Setidaknya sudah satu milenium silam.

Hubungan budaya Iran dan Indonesia yang terjalin 1.000 tahun lebih didukung dengan berbagai fakta ilmiah. Arkeolog Indonesia, Bambang Budi Utomo, Senin (24/9/2013) mengungkapkan hubungan erat di bidang perdagangan dan budaya antara kerajaan Persia dan salah satu kerajaan di Nusantara, yaitu Sriwijaya yang telah berlangsung  sejak abad pertama Hijriah.

Arkeolog senior kelahiran 7 Agustus 1954 ini mengatakan batu nisan Sultan Malik as-Saleh menunjukkan fakta pengaruh kebudayaan Persia di Nusantara. Aksara yang dipahat pada batu nisan tersebut merupakan aksara Shulus yang cirinya berbentuk segitiga pada bagian ujung. Gaya aksara jenis ini berkembang di Persia sebagai karya seni kaligrafi.

Selain itu, arkeolog Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Indonesia mengemukakan fakta jejak kebudayaan Persia di Indonesia pada batu nisan Na'ina Husam al-Din berupa kutipan syair dari penyair terkemuka Persia, Syeikh Muslim al-Din Saa'di (1193-1292 M), yang ditulis dalam bahasa Parsi.

Batu nisan yang ditemukan di Barus, Sumatera ini dihiasi ornamen hiasan pohon yang distilir dengan kaligrafi yang berisi kutipan syair Persia dan ayat al-Quran.  Pengaruh Persia juga ditemukan di berbagai artefak kebudayaan Islam di Indonesia, seperti hiasan ubin masjid bermotif “balah Kacang” yang berkembang di abad ke-14.

Sebelum Islam masuk ke wilayah Nusantara, bangsa Indonesia telah menjalin hubungan perdagangan dan budaya dengan Iran. Berbagai literatur termasuk sumber catatan orang-orang Cina, Arab dan Persia menunjukkan kehadiran orang-orang Iran di bandar-bandar sepanjang tepian selata Malaka. Saudagar Cina menyebut orang-orang Persia sebagai Po-sse yang dikenal sebagai saudagar dan pelaut ulung.

Bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan kehadiran pedagang Persia di Nusantara di antaranya penemuan artefak dari gelas dan kaca berbentuk vas, botol dan jambangan di situs Barus, Pantai barat Sumatera Utara, dan pantai timur Jambi, yaitu wilayah Muara Jambi, Muara Sabak, dan Lambur.

Hubungan perdagangan dan budaya antara Persia dan Nusantara di era kerajaan Sriwijaya telah berlangsung sekitar abad ke-7 Masehi. Para arkeolog memandang hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia dan Sriwijaya dibarengi dengan hubungan persahabatan di antara kerajaan-kerajaan yang menjalin mitra dagang.

Para saudagar Persia membawa komoditas perdagangan berupa barang-barang yang terbuat dari kaca atau gelas yang dikenal dengan sebutan gelas Persia berbentuk vas, piala dan mangkuk. Sedangkan dari Sriwijaya, dengan salah satu pelabuhannya Barus, para saudagar Persia dan Timur Tengah membawa kapur barus, kemenyan, dan getah damar yang digemari sebagai bahan wewangian.

Masuknya Islam ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran bangsa Persia. Terkait hal ini, Prof.Abdul Hadi W.M mengatakan, agama Islam datang ke Indonesia sekitar akhir abad ke-7 Masehi, atau selambat-lambatnya awal abad ke-8 Masehi. Dosen Universitas Paramadina Jakarta ini menilai ajaran Islam dibawa masuk oleh pedagang Arab dan Persia.

Prof. Wan Husein Azmi menengarai kedatangan Muslim Persia ke wilayah Nusantara sekitar abad kesepuluh. Setidaknya, ada tiga keluarga Persia yang datang ke berbagai wilayah di Indonesia dan membentuk klan di tanah Air. Peneliti dan akademisi Malaysia ini menilai kedatangan Muslim Persia menjadi salah satu faktor penting bagi meluasnya masyarakat Islam di kawasan Nusantara.

Pertama, keluarga Lor atau Lur, yang tinggal di Jawa Timur. Mereka mendirikan permukiman Lor yang dikenal dengan nama Lorin, yang berarti orang-orang Lor. Mereka diperkirakan tiba di era kerajaan Nasiruddin Ibn Badr yang memerintah wilayah Lor, Iran sekitar tahun 912 Masehi atau 300 Hijriah.

Kedua, keluarga Jawani tinggal di Pasai, Aceh. Keluarga inilah yang menyusun khat Jawi yang artinya tulisan Jawi yang dinisbatkan kepada Jawani. Mereka pernah memerintah di Iran sekitar tahun tahun 913 Masehi atau 301 Hijriah.

Ketiga, keluarga Syiah yang mendirikan perkampungan yang dikenal dengan nama “Siak”, lalu berkembang menjadi Nagari Siak, yang diberi nama “Siak Seri Inderapura”. Diperkirakan mereka datang di era pemerintahan Ruknuddaulah Ibn Hasan Ibn Buwaih Al-Dailami sekitar tahun 969 Masehi.

Pengaruh karya sastra Persia dalam kesusasteraan Indonesia ditegaskan Prof Abdul Hadi WM. Sastrawan Indonesia ini merujuk berbagai penelitian yang mengungkapkan banyaknya perkataan Melayu yang diserap dari bahasa Parsi seperti Pahlavan, saudagar, tahta dan lain-lain.

Penyair Indonesia yang menguasai sastra klasik Persia ini menilai pengaruh lainnya juga bisa dilacak dari penulisan kitab keagamaan. Misalnya risalah-risalah tasawuf Hamzah Fansuri seperti Syarab al-Asyiqin, Asrar al-Arifin dan Muntahi yang mengambil rujukan dari teks-teks dan syair tasawuf penulis Persia seperti Attar, Rumi, Jami dan lain-lain. Bahkan menurut Abdul Hadi Senin (23/9/2013), pengaruh lain yang tidak kalah menonjol dari kebudayaan Persia terhadap Nusantara berupa penyusunan kitab perundangan-undangan seperti undang-undang Malaka dan Undang-undang Adat Aceh.

Sementara itu, arkeolog Bambang Budi Utomo memandang karya-karya sastra berbentuk prosa dari Persia berpengaruh signifikan terhadap kesusasteraan Indonesia. Misalnya kitab Menak yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa diadaptasi dari cerita Persia. Dalam bahasa Melayu menjadi Hikayat Amir Hamzah. Cerita-cerita Menak biasanya ditampilkan  dalam bentuk wayang golek yang konon diciptakan oleh Sunan Kudus, dan wayang kulit yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, dan wayang gedog oleh Sunan Giri.

Langkah untuk mempererat hubungan kebudayaan antara kedua negara terus dipacu oleh pemerintah Iran dan Indonesia. Salah satu yang ditempuh dengan memperkenalkan kebudayaannya masing-masing melalui pameran dan berbagai even kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia tiga tahun lalu di Tehran.

Kini, hubungan kebudayaan antara kedua terus diperbaharui dan ditingkatkan. Tiga tahun lalu, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan kementerian luar negeri Indonesia menggelar pekan kebudayaan di Iran. Even ini mengusung tema “1.000 tahun Hubungan Budaya Iran dan Indonesia” yang berlangsung dari 19 hingga 25 September 2013.

Festival kebudayaan Indonesia ini menampilkan beberapa koleksi dari Museum Nasional Indonesia, Museum Tekstil, dan bazar beragam produk Indonesia yang berlangsung di Milad Tower, Tehran. Selain itu digelar Festival Film Indonesia yang diadakan di Andisheh Cultural Center. Pagelaran seni seperti angklung dan tarian daerah Indonesia ikut memeriahkan festival seni Indonesia di Tehran.

Sebelumnya, digelar Pekan Budaya Iran di Jakarta yang berlangsung Maret 2012. Festival kebudayaan Iran ini mengusung tema, "Iran dan Indonesia, Menjembatani antara Timur dan Barat Dunia Islam". Selain momentum tersebut digelar berbagai even budaya dengan melibatkan partisipasi aktif berbagai instansi terkait di tingkat pemerintah dan masyarakat kedua negara seperti pemeran al-Quran, MTQ dan lainnya yang terus berlanjut setiap tahun hingga kini.