Mengenal Buku Arafat Al-Ashiqin, Warisan Baru di UNESCO
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i15115-mengenal_buku_arafat_al_ashiqin_warisan_baru_di_unesco
Manuskrip buku Arafat al-Ashiqin wa Arasat al-Arifin dicatat di list regional program warisan budaya dunia UNESCO. Sidang UNESCO digelar pada 18-20 Mei 2016 di kota Hue, Vietnam, dari 16 karya yang diusulkan negara-negara Asia-Pasifik, 14 di antaranya dimasukkan dalam list organisasi dunia ini serta buku Arafat al-Ashiqin dari Iran termasuk salah satu karya tersebut.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 20, 2016 10:46 Asia/Jakarta

Manuskrip buku Arafat al-Ashiqin wa Arasat al-Arifin dicatat di list regional program warisan budaya dunia UNESCO. Sidang UNESCO digelar pada 18-20 Mei 2016 di kota Hue, Vietnam, dari 16 karya yang diusulkan negara-negara Asia-Pasifik, 14 di antaranya dimasukkan dalam list organisasi dunia ini serta buku Arafat al-Ashiqin dari Iran termasuk salah satu karya tersebut.

Sebelumnya empat karya Iran juga tercatat di list kawasan Asia-Pasifik UNESCO mencakup al-Masalik wa al-Mamalik, Vendidat, film dokumentar Jan va Marjan serta dokumentar Karbala yang digarap bareng Iran dan Irak. Sampai saat ini, terdapat sembilan karya dan warisan bersejarah Iran yang dicatat UNESCO di antaranya Baysonghor Shahnameh, waqf name Rabe Rashidi, kumpulan dokumen administrasi era Savawi di kompleks Imam Ridha Mashhad, buku al-tafhim Liawail Sinaati al-Tanjim, Panj Ganj-e Nezami, lukisan bersejarah era Qajar, Zakhire Kharazmshahi, Masalik wa Mamalik, dan kulliyat-e Saadi.

 

Manuskrip buku Arafat al-Ashiqin wa Arasat al-Arifin karya Taqiuddin Awhadi salah satu karya biografi irfan terbesar Persia di abad 11 Hijriah dan disimpan di Musium Nasional Malik di Iran. Karya ini berkaitan dengan isu irfan, biografi para ahli irfan serta jalan penyucian diri.

 

Abad ke-11 Hijriah merupakan era penulisan biografi terperinci dalam bahasa Persia. Tazkirah atau biografi adalah penjelasan kehidupan para penyair dan pujangga. Tazkirah tidak menyebutkan kehidupan ulama lain selain penyair. Penulisan buku seperti ini tidak populer sebelum era Safawi. Hanya ada beberapa karya saat itu berkaitan dengan tazkirah seperti Lubabul al-Bab Aoufi, dan Tazkirah al-Syuara Daulatshah.

 

Era Safawiyah dapat disebut sebagai era keemasan penulisan biografi dalam bentuk tazkirah di Iran serta khususnya di India. Di era yang berbarengan dengan puncak kuasaan Dinasti Timurid di India dan Akbar Shah, mengingat kecenderungan besar raja ini terhadap bahasa Persia, banyak penyair dan pujangga Iran berhijrah ke India. Para pujangga ini kesulitan melakukan aktivitasnya di Iran mengingat fanatisme Raja Tahamasp dan setelah mereka mendengar berita kecenderungan besar raja dinasti Timurid terhadap bahasa Persia, kemudian mereka berbondong-bondong menuju India.

 

Para pujangga Iran ini bukan saja mendapat posisi tinggi di istana raja, namun di berbagai pemerintahan daerah dan instansi pemerintah lainnya pun meraih posisi cukup tinggi. Taqiuddin Awhadi merupakan salah satu musafir bersama sahabat-sahabatnya berhijrah ke India dan menghabiskan sisa umurnya di sana.

 

Selama era ini ada tiga tazkirah terperinci yang menceritakan para pujangga Persia. Karya tersebut bukan saja tiada bandingannya, bahkan hingga ditulisnya Otashkade Ozari dan Majma al-Fusaha Hidayat, karya ini masih tetap memiliki karakteristik unggulnya tersendiri. Ketiga tazkirah tersebut adalah Khulasa al-Asha'ar karya Taqiuddin Kashi, Arafat al-Ashiqin tulisan Taqiuddin Awhadi dan Suhufi Ibrahim yang menceritakan biografi lebih dari tiga ribu penyair.

 

Arafat al-Ashiqin sebuah karya besar serta menceritakan biografi para pujangga secara detail. Dapat pula dikatakan bahwa saat itu, buku Arafat al-Ashiqin tercatat buku biografi penyair paling lengkap. Buku ini memuat lebih dari tiga ribu biografi penyair dan seperti buku tazkirah lainnya terdiri dari tiga pasal, biografi penyair, syair-syair pilihan dan daftar abjad. Sejumlah peneliti termasuk Dr, Fattuhi menyebut buku Arafat al-Ashiqin sebagai buku sejarah sastra, karena penulis menyebutkan para penyair berdasarkan urutan tahun dan sejarahnya. Di buku Arafat al-Ashiqin ada tiga kategori penyair, pendahulu, pertengahan dan penyair terakhir. Namun begitu ada pula penyair di zaman pertengahan dan terakhir ditempatkan di kelompok pendahulu.

 

Salah satu poin unggul Arafat al-Ashiqin adalah informasi sejarah, sastra dan sosial, karena tiga hal ini jarang ditemukan di karya tazkirah lainnya. Di buku-buku sejarah biasanya dapat ditemukan kondisi sosial para pujangga dan masyarakat sastra seperti elit pujangga, organisasi pendukung para sastrawan serta profesi para penyair. Hal-hal di atas menjadi perhatian para sejarawan sastra dan ini pula yang diharapkan dari para sejarawan sastra.

 

Di antara karakteristik buku sejarah sastra adalah kajian tentang gaya, individualitas sastrawan, dan realisme kontemporer. Karakteristik ini dapat pula disaksikan di Arafat al-Ashiqin. Titik unggul Arafat al-Ashiqin adalah poin bahwa ia sangat dekat dengan lokasi sejarah sastra. Misalnya di buku tazkirah lainnya bisa jadi di bawah nama seorang penyair, biografinya tidak sangat jelas ditulis, namun jika kita ingin mendapatkan informasi mengenai Baba Faghani Shirazi dan karyanya setelah kematiannya, sekitar sebelas kali tazkirah ini menyebutkan tentang Baba Faghani.

 

Arafat al-Ashiqin banyak memberi iformasi kepada kita mengenai Baba Faghani yang meninggal tahun 925 H, khususnya antara tahun 990-1000 H terkait kota-kota yang marak membahas karya besarnya, siapa saja yang membacakan divan Baba Faghani serta berapa kali divannya dijadikan teladan bagi pujangga lainnya.

 

Salah satu karakteristik Arafat al-Ashiqin wa Arasat al-Arifin yang membuatnya unggul dari tazkirah lainnya adalah kajian tentang gaya penyair. Informasi yang diberikan penulis mengenai gaya setiap penyair dapat disebut sebagai yang terbaik. Misalnya penilaian Taqi Awhadi terakit Abul-Mahāsin Abu Bakr Zaynuddin Azraqi dan Kamaluddin Ismail Isfahani menujukkan bahwa biasanya seorang sejarawan sastra mengkaji sejarah dari sudut pandang yang berkembang di zamannya, artinya setiap generasi menulis literatur khususnya.

 

Namun ketika kita mencermati Arzaqi dari sudut pandang Taqi Awhadi, syair Arzaqi memiliki posisi istimewa, karena daya hayal di puisi Arzaqi sesuai dengan era Awhadi. Atau Kamaluddin Ismail Isfahani atau bahkan karya sulit di puisi Khaqani. Di tahun-tahun ini, cerita satir dan sindiran cukup marak dan Taqi Awhadi mencatumkan lebih dari 40 pujangga yang ia klaim sebagai pelawak serta banyak pula ia memberi contoh penyair-penyair lainnya. Seperti Suzani Samarqandi yang banyak mendapat perhatian dari Awhadi dan hampir sepuluh halaman buku Arafat al-Ashiqin membahas penyair ini.

 

Karakteristik lainnya buku Tazkirah Arafat al-Ashiqin adalah realisme kontemporer. Menurut keyakinan mayoritas peneliti buku ini, Arafat al-Ashiqin memberikan perhatian lebih kepada peyair kontemporer (mutakhirin) bila dibanding dengan penyair awal atau pertengahan. Ada bukti yang mengindikasikan bahwa penulis selama masih hidup terus merevisi karyanya. Ia juga terlibat penerbitan dan penyusunan karyanya bersama rekan-rekan sezamannya serta menyebutkan kecenderungan dan gaya mereka. Ia juga mengkaji gaya pribadi di zamannya yang mencakup gaya kelompok atau publik serta perkembangan gaya setiap penyair seperti Muhtasham Kashani atau yang lainnya.

 

Kritikan penulis Arafat al-Ashiqin di karyanya termasuk karakteristik unggul yang membuat buku ini berbeda dengan tazkirah lainnya. Penulis secara transparan berani mengkritik penyair atau pun karya mereka. Dr Mahmoud Fattuhi terakit hal ini mengatakan, "Saya mencatat lebih dari 900 istilah kritik sastra dari Arafat al-Ashiqin. Istilah ini kemudian marak dipakai di karya tazkirah lainnya. Jika kita membaca karya tazkirah sebelum karya Awhadi seperti Haft Eqlim yang ditulis 20 tahun sebelum buku ini atau Khulasah al-Asha'ar, maka kita tidak akan menemukan istilah ini. Istilah kunci kritik sastra ini kemungkinan diambil dari gaya sastra India."