Kudeta 28 Mordad, Dokumen Makar AS di Iran
Kudeta Amerika Serikat terhadap pemerintahan konstitusional Iran pada tahun 1953 atau yang dikenal Kudeta 28 Mordad 1332, dilakukan pada fase sensitif gerakan besar nasionalisasi industri minyak di Iran. Kudeta – yang menumbangkan pemerintahan Iran waktu itu (pemerintah Mosaddegh) – merupakan sebuah pukulan besar bagi kepentingan politik dan ekonomi Iran.
Dokumen kudeta itu selama bertahun-tahun menyandang status rahasia milik Dinas Intelijen Pusat AS (CIA) dan Dinas Intelijen Inggris. Dokumen yang sudah dirilis ini menunjukkan Amerika secara langsung terlibat dalam aksi makar itu. Peristiwa ini semakin menyingkap wajah asli Negeri Paman Sam bagi bangsa Iran dan tercatat sebagai sebuah titik balik dari intervensi asing dalam sejarah Iran.
Kudeta Amerika-Inggris pada Agustus 1953 di Iran mengingatkan sebuah era pahit dari sejarah politik Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam. Peristiwa pahit ini juga menyimpan banyak pelajaran berharga. Amerika sejak bertahun-tahun menganggap intervensi di Iran sebagai hak legalnya dan menentang gagasan kemandirian bangsa Iran. Ketika Revolusi Islam mencapai kemenangan di Iran dan AS kehilangan panggung di negeri ini, Washington memulai babak baru kejahatan dan konspirasi terhadap Tehran sehingga sistem Republik Islam menghadapi gangguan serius.
Bangsa Iran – dengan melakukan kebangkitan pada masa-masa genting seperti perang yang dipaksakan – mampu menggagalkan konspirasi Amerika. Republik Islam Iran meskipun menghadapi sanksi dan gangguan dari Barat, berhasil mencapai kemajuan serta mempertahankan kemandirian dan nilai-nilai revolusi. Ini merupakan sebuah jawaban yang pantas terhadap musuh.
Masa-masa setelah kemenangan Revolusi Islam, Republik Islam Iran mampu melawan konspirasi kekuatan-kekuatan arogan dan membuktikan bahwa sikap konsisten pada prinsip dan cita-cita Revolusi Islam, dapat menggagalkan ambisi hegemonik kekuatan global. Selama masa itu, bangsa Iran menekankan tuntutan legalnya dan tidak membiarkan musuh memaksa bangsa ini untuk tunduk di hadapan mereka.
Iran sekarang berada di antara negara-negara yang tidak hanya membuktikan independensi politiknya, tetapi juga membuktikan kepada kekuatan arogan bahwa bangsa-bangsa dunia – dengan rasa percaya diri dan persatuan – mampu meraih kemandirian dan mencapai kemajuan di semua bidang. Ketahanan dan gerakan kontinyu ini telah menghadirkan optimisme tentang masa depan di tengah bangsa-bangsa yang ingin mandiri dan menjadi motivasi bagi mereka untuk melawan kekuatan-kekuatan global yang arogan.
Realitas hari ini adalah Amerika mengakui kekuatan bangsa Iran dan mengetahui bahwa era untuk kudeta dan kebijakan intervensif telah berakhir. Revolusi Islam dengan kekuatan lunaknya mampu mengubah perimbangan politik kekuatan arogan serta menciptakan tantangan serius bagi kelanjutan kebijakan hegemoni dan imperialisme global.
AS sekarang menyaksikan kesuksesan Iran di semua bidang termasuk dalam masalah nuklir. Fakta yang tak terbantahkan ini mengundang kemarahan sistem hegemoni dunia. Oleh karena itu, kekuatan-kekuatan arogan khususnya Amerika mencoba untuk memperlemah bangsa Iran dan mencegah revolusi ini menjadi sebuah model anti-arogansi di dunia. Washington aktif melancarkan permusuhan terhadap Tehran lewat berbagai cara selama enam dekade terakhir.
Permusuhan ini kadang ditampilkan dalam bentuk kudeta untuk mendukung rezim Shah di Iran dan setelah kemenangan Revolusi Islam, AS mengadopsi tindakan makar untuk menggulingkan pemerintahan sah Iran seperti, agresi militer selama peristiwa Tabas, melakukan mata-mata lewat kedutaan, merancang kudeta Nojeh, mendukung rezim Saddam selama perang yang dipaksakan, dan mendukung kelompok-kelompok teroris dan kubu anti-sistem Republik Islam.
Pasca kemenangan Revolusi Islam, AS menggunakan kekuatan keras dan lunak dalam aspek militer dan ekonomi terhadap Iran, namun mereka gagal melunturkan nilai-nilai revolusi ini, karena bangsa Iran telah mengenal dengan baik esensi dan konspirasi Washington. Mereka dengan tegas menolak tekanan dan sanksi AS yang bertujuan merusak perekonomian Iran. Ini adalah jawaban yang paling jitu dan cara bangsa Iran menjawab arogansi Amerika selama bertahun-tahun.
Landasan perlawanan ini dibangun pada era Kudeta 28 Mordad dan munculnya gerakan revolusi rakyat Iran. Melalui arahan dan bimbingan Imam Khomeini ra untuk mengenal esensi musuh, bangsa Iran akhirnya memilih jalan perlawanan yang benar. Gerakan progresif bangsa Iran pasca Kudeta 28 Mordad dan perjuangan mereka selama Kebangkitan 15 Mordad 1342 (Juni 1963) sampai kemenangan Revolusi Islam pada Februari 1979, merupakan buah dari persatuan dan perlawanan rakyat terhadap tekanan AS dan rezim despotik Shah.
Pada akhirnya, partisipasi luas rakyat telah melahirkan Revolusi Islam dan mimpi-mimpi Amerika – yang dibangun di atas reruntuhan Kudeta 28 Mordad – sirna ditelan masa dan konspirasi mereka gagal total.
Gebrakan dan terobosan bangsa Iran pasca kemenangan Revolusi Islam telah merusak kalkulasi kekuatan-kekuatan besar. Para pejabat Washington sekarang lebih memilih melupakan masa lalu, namun memori sejarah sama sekali tidak bisa dihapus. Permusuhan masa lalu dan perilaku hari ini menjadi tolok ukur bangsa Iran dalam mempercayai AS. Realitas saat ini menunjukkan bahwa setelah selesainya masalah nuklir Iran dan lahirnya perjanjian nuklir, AS bahkan tidak mengubah perilakunya dan tetap melancarkan konspirasi terhadap bangsa Iran.
AS mencoba mengesankan perilakunya berbeda dengan masa lalu dan menyembunyikan karakter aslinya, tetapi dalam prakteknya tidak ada yang berubah. Bangsa Iran kini sudah lebih cerdas dan sistem Republik Islam juga sudah lebih stabil dari sebelumnya. Republik Islam memiliki posisi yang kuat dengan tiga prinsip dasar yaitu, menuntut kebebasan, menuntut kemandirian, dan melawan arogansi. Dukungan rakyat juga menjadi sumber kekuatan pemerintahan Islam.
Di tengah situasi yang genting ini – mulai dari isu terorisme, perang, dan kekacauan di Timur Tengah – Amerika ingin meningkatkan tekanan, ancaman, dan sanksi untuk membuat bangsa Iran frustasi. Namun, konspirasi itu justru memperkuat spirit perlawanan, rasa percaya diri, dan kearifan revolusioner bangsa Iran.
Bangsa Iran telah melawan kekuatan-kekuatan arogan selama bertahun-tahun dan perlawanan ini muncul dari persatuan dan partisipasi aktif rakyat di lapangan. Mereka membuktikan bahwa Iran memiliki kapasitas yang sangat besar, di mana ancaman dan sanksi dapat dirubah menjadi peluang untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan besar.
Sebelum lahirnya perjanjian nuklir, sebagian analis percaya bahwa setelah ditutupnya berkas rekayasa Amerika terhadap Iran dengan dalih program nuklir selama satu dekade, maka akan tercipta ruang untuk merekonstruksi hubungan yang sudah hancur antara Tehran dan Washington. Namun, prediksi ini meleset dan Amerika sama sekali tidak bersikap jujur di hadapan Iran. Dengan melihat kembali sejarah permusuhan AS terhadap Iran, maka dapat dimengerti mengapa rakyat Iran tidak memiliki pandangan positif terhadap pemerintah AS dan tidak bisa mempercayai mereka.
Masa-masa kelam seperti peristiwa Kudeta 28 Mordad tidak akan pernah lekang dari memori rakyat Iran. Peristiwa itu tercatat sebagai sebuah noktah hitam dalam sejarah hubungan Iran dan Amerika.