Setahun Pacsa JCPOA (2, Habis)
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i31783-setahun_pacsa_jcpoa_(2_habis)
24 November 2013, diambil langkah-langkah pertama penuh keragu-raguan untuk menggapai kesepakatan bersejarah antara Iran dan enam negara besar dunia yang tergabung dalam Kelompok 5+1. Yaitu lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman. Kesepakatan yang dinamakan dengan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) itu, membuktikan kepada dunia soal transparansi program nuklir Iran dan agar Amerika Serikat menghentikan seluruh interferensinya.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 26, 2017 13:52 Asia/Jakarta

24 November 2013, diambil langkah-langkah pertama penuh keragu-raguan untuk menggapai kesepakatan bersejarah antara Iran dan enam negara besar dunia yang tergabung dalam Kelompok 5+1. Yaitu lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman. Kesepakatan yang dinamakan dengan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) itu, membuktikan kepada dunia soal transparansi program nuklir Iran dan agar Amerika Serikat menghentikan seluruh interferensinya.

Kini setahun telah berlalu sejak JCPOA diberlakukan. Pernyataanya, apakah semuanya berjalan seperti yang telah ditetapkan?

 

Langkah yang diambil di Jenewa untuk menggapai kesepakatan nuklir, akhirnya berujung pada perundingan antara Iran dan Kelompok 5+1. Peristiwa ini memiliki beberapa poin penting. Pertama bahwa gejolak selama 12 tahun dengan alasan kekhawatiran atas aktivitas nuklir Iran dapat diakhiri, dan pondasinya adalah sebuah kesepakatan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik.

 

Kesepakatan tersebut membuktikan kapasitas besar politik Iran dalam interaksi di panggung global dan oleh karena itu nama Iran kembali dikenal di tingkat global. Hasil kongkret dari kesepakatan Jenewa adalah pengumuman pencabutan sebagian sanksi internasional terhadap Tehran sebagai imbalan dari langkah-langkah mewujudkan kepercayaan di sektor nuklir Republik Islam. Dengan demikian Iran dan Kelompok 5+1 setelah berulangkali membentur jalan buntu dalam perundingan, akhirnya mampu menyelesaikan marathon dialog di Wina.

 

Perundingan yang berlangsung di Wina mengalami fluktuasi yang berujung pada kesepakatan 14 Juli. Hasil dari kesepakatan tersebut adalah Rencana Aksi Bersama Komprehensif atau JCPOA, yang sekaligus mengakhiri atmosfer beracun di masa lalu.

 

Sekarang banyak pihak yang berasumsi bahwa dengan dimulainya masa pemerintahan Presiden terpilih AS, Donald Trump, akan terjadi perubahan dalam JCPOA. Di saat JCPOA telah membuktikan transparansi Iran dalam program nuklirnya dan juga itikad baik dalam berinteraksi dengan masyarakat internasional, namun Amerika Serikat alih-alih melaksanakan komitmennya, justru berusaha mengelabuhi dunia. Ernest Moniz, Menteri Energi Amerika Serikat menepis pernyataan Trump soal JCPOA dan berpendapat bahwa kepentingan AS bersama sekutunya ada dalam komitmen terhadap JCPOA.

 

Dalam wawancaranya dengan Bloomberg beberapa waktu lalu mereaksi pernyataan Trump untuk melakukan perundingan ulang dengan Iran, Moniz mengatakan, “Seperti yang dikemukakan Brent Scowcroft (penasehat keamanan George Bush), jika kita keluar dari kesepakatan, maka kita akan sendirian.” Ditambahkannya, “… adalah menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya agar menjaga Iran tetap berkomitmen pada kesepakatan nuklir dan kita juga melaksanakan komitmen kita dalam kerangka JCPOA.”

 

Sebagian analis berpendapat bahwa sikap Trump sedemikian rupa sehingga meningkatkan kekhawatiran soal komitmen AS terhadap kesepakatan nuklir. Trump yang dikenal publik sebagai sosok kontroversional, merupakan salah satu penentang utama JCPOA. Menurutnya, “Kesepakatan ini bahkan tidak mewajibkan Iran mengurai seluruh kapasitas nuklirnya… dalam JCPOA, pembatasan terhadap program nuklir Iran hanya berlaku beberapa tahun dan ketika masa itu berakhir, Iran akan memiliki kapasitas nuklir militer di tingkat industri.”

 

Donald Trump pada salah satu kampanyenya di Komite Hubungan Publik Amerika-Israel (AIPAC) memaparkan strateginya terhadap Iran dan mengatakan, “Kita harus melaksanakan poin-poin dalam kesepakatan sebelumnya sehingga kita dapat menjaga Iran tetap bertanggungjawab.” Padahal sebelumnya, Trump menyatakan akan mengoyak kesepakatan JCPOA.

 

Dalam sebuah dialog dengan MSNBC, Trump mengatakan bahwa pembatalan kesepakatan nuklir Iran bukan langkah logis dan rasional serta sebaliknya harus memperbaikinya. Dalam perkembangan terbaru, Tillerson, calon unggulan Trump untuk menjabat sebagai menlu, dalam sidang dengar pendapat mengatakan, “… jika saya disetujui sebagai menlu, saya mengusulkan revisi kesepakatan nuklir dan berbagai kesepakatan lainnya. Tidak boleh ada pengayaan uranium dan simpanan bahan nuklir di Iran.” Tillerson juga menjelaskan bahwa kesepakatan nuklir akan menghentikan penggapaian senjata nuklir Iran akan tetapi tidak memusnahkannya.

 

Sekarang setahun telah berlalu sejak pelaksanaan JCPOA, para pejabat Amerika Serikat terus menyatakan bahwa JCPOA hanya menjauhkan Iran dari penggapaian senjata nuklir dan Obama dalam pernyataannya sebelum meninggalkan Gedung Putih, menilai JCPOA sebagai sebuah keberhasilan untuk mengamankan dunia.

 

Semua kontroversi ini terjadi di saat masalah kekhawatiran terhadap program nuklir Iran sama sekali tidak didasarkan pada fakta. Wendy Sherman, mantan wakil menlu AS yang sebelumnya juga termasuk anggota tim perundingan nuklir, pasca penandatanganan JCPOA, dalam sebuah wawancara mengakui bahwa Iran sama sekali tidak berniat memproduksi senjata nuklir.

 

Sebelum penandatanganan JCPOA setahun lalu, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, menjawab surat Presiden Iran, Hassan Rouhani terkait JCPOA dan menekankan tidak dapat dipercayanya beberapa di antara enam pemerintah dalam Kelompok 5+1 dan mengatakan, “Penting sekali untuk memperhatikan dengan teliti teks yang tersusun dan meletakkannya di jalur hukum yang telah ditetapkan, dan kemudian jika disetujui, harus diwaspadai pengingkaran janji dari pihak seberang, dan celahnya ditutup…”

 

Rahbar berulangkali menegaskan bahwa esensi Amerika Serikat sekarang ini adalah esensi Amerika Serikat era Ronald Reagan dan tidak ada perbedaan antara Demokrat atau Republik.

 

Beliau dalam pertemuan dengan para pejabat tinggi negara menyinggung beberapa poin ambigu dalam teks JCPOA yang dapat dijadikan celah penyalahgunaan oleh pihak seberang. “Republik Islam Iran tidak akan mengawali pelanggaran JCPOA, karena menepati janji adalah peirntah Al-Quran, akan tetapi jika ancaman para calon presiden Amerika Serikat untuk menyobek JCPOA benar-benar dilakukan, Republik Islam Iran akan membakar JCPOA di mana ini juga merupakan perintah Al-Quran terkait pelanggaran janji pihak seberang…”