Revolusi Iran, Revolusi yang Tak Tertandingi 1
Revolusi Islam Iran, kebangkitan besar, luar biasa dan berpengaruh, namun seperti yang dijelaskan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, “Revolusi ini di seluruh dunia tak mungkin dikenal tanpa nama Khomeini.” Realitanya juga demikian bahwa peran Imam Khomeini dalam memimpin kebangkitan agung rakyat Iran sangat menonjol, di mana kemenangan kebangkitan ini tak dapat dipisahkan dari bimbingan dan arahan futuristik serta cerdas beliau.
Oleh karena itu, peristiwa yang berkaitan dengan Imam Khomeini ra menjadi bagian penting dalam sejarah Revolusi islam, khususnya peristiwa seperti penangkapan dan pengasingan beliau di tahun 1964 serta kepulangan beliau ke Iran dari pengasingan di Paris pada 1 Februari 1979 ( 12 Bahman 1357 Hs). Kepulangan Imam Khomeini dari Paris memberikan pengaruh besar bagi kemenangan Revolusi Islam selama sepuluh hari dari kemenangan final kebangkitan ini pada 11 Februari (22 Bahman).
Setelah 37 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran terbukti bahwa kebangkitan besar ini menjadi peristiwa paling berpengaruh di sejarah kontemporer dunia, di mana peristiwa ini bukannya meredup namun dari hari ke hari pesonanya semakin gemilang. Oleh karena itu, sosok yang mampu memimpin gerakan ini hingga mencapai kemenangan dan terus memimpinnya setelah kemenangannya adalah sosok unggul. Imam Khomeini memiliki karakteristik unggul ini dan dalam prakteknya beliau juga membuktikan dirinya sebagai pemimpin besar dan tanpa tanding bagi kebangkitan Islam rakyat Iran.
Karakteristik utama Imam Khomeini ra yang membedakan beliau dari pemimpin revolusi lainnya di dunia adalah sisi spiritual dan keyakinan mendalam beliau terhadap Islam sebagai agama pembebas. Para prinsipnya Imam Khomeini adalah ulama terkemuka dan memiliki pengetahuan luas di bidang fikih, akhlak, irfan dan filsafat Islam. Oleh karena itu, rakyat Iran komitmen mengikuti sosok ulama mumpuni ini.
Posisi Imam Khomeini ra sebagai ulama terkemuka bukan satu-satunya faktor yang menarik bagi rakyat, namun mereka menilai Imam sebagai sosok yang benar-benar mengamalkan ajaran agama. Pendiri Republik Islam Iran secara mendalam menyakini ajaran Islam dan juga sejumlah pemimpin revolusi lainnya tidak menjadikan agama sebagai sarana mencapai kemenangan. Iman kokoh kepada Tuhan yang dimiliki Imam Khomeini mendoronya senantiasa merasa di hadapan Tuhan serta meraih ketenangan. Seperti dijelaskan Allah Swt di Surat ar-Raad ayat (28), “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Ketenangan dan ketenteraman ini sangat berpengaruh dan menentukan selama menghadapi berbagai peristiwa dan kendala. Misalnya, ketika Imam Khomeini setelah 14 tahun pengasingan dan jauh dari tanah air, beliau memutuskan untuk kembali ke Iran pada tanggal 22 Bahman. Ketika itu, rezim Shah Pahlevi mengancam akan menembak jatuh pesawat yang ditumpangi Imam Khomeini. Namun Imam dengan bertawakkal kepada Allah Swt tidak mengindahkan ancaman tersebut dan tetap memutuskan untuk kembali. Uniknya mereka yang menyertai Imam Khomeini menyaksikan kondisi psikologis Imam saat itu sepenuhnya tenang dan wajar tanpa ada tanda-tanda rasa takut atau khawatir.
Oleh karena itu, tawakkal Imam Khomeini kepada Tuhan selama perjuangan dan pasca kemenangan Revolusi Islam, selain memberikan ketenangan spiritual juga memberikan keberanian luar biasa kepada beliau. Imam Khomeini sejatinya tidak pernah takut kepada negara dan kekuatan manapun, beliau hanya takut kepada Allah Swt. Ini merupakan manifestasi dari Surat Fussilat ayat 30 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Sementara itu, banyak para pemimpin revolusi di dunia memilih berdamai dengan musuh karena takut atau berhati-hati serta melupakan cita-cita revolusi yang mereka pimpin. Namun Imam Khomeini bukan saja tidak memiliki sifat seperti ini, namun melalui kinerja dan pidatonya yang berani, beliau mampu membuat musuh Revolusi Islam dan Iran ketakutan.
Banyak contoh dari keberanian Imam Khomeini yang juga berimbas pada keberanian rakyat serta pejabat negara. Beliau tidak pernah takut kepada rezim Pahlevi dan pidatonya memberikan rasa percaya diri kepada rakyat selama proses perjuangan melawan rezim diktator Shah Pahlevi. Terkait penangkapan dirinya tahun 1964 (1343 Hs) Imam Khomeini berkata, “Demi Allah! Selama hidupku, aku tidak takut. Malam itu, ketika antek-antek Shah menangkapku, mereka ketakutan. Aku justru yang menenangkan mereka.”
Imam tidak takut kepada rezim Shah Pahlevi, bahkan terhadap tuan rezim ini yakni Amerika Serikat, Imam tidak merasa takut dan berulang kali menghina pemerintah imperialis tersebut. Imam menyebut Amerika sebagai syaitan besar dan menyeru bangsa yang ditindas oleh tirani ini untuk bangkit melawan. Terkait hal ini Imam Khomeini dengan tegas mengatakan, “Kita telah memulai perjuangan berat dan penuh resiko melawan Amerika dan kami berharap generasi kami dengan bebas mampu mengibarkan bendera tauhid di dunia. Kami yakin jika kita benar-benar melanjutkan kewajiban kita –melawan kejahatan Amerika- maka anak-anak kita akan mencicipi manisnya madu kemenangan.”
Ketika Revolusi Islam meraih kemenangan, revolusi dan transformasi politik serta sosial di berbagai negara hanya memiliki dua pilihan, sistem komunis atau kapitalis. Namun Imam Khomeini melalui pandangan jauh kedepannya dan sebagai ulama terkemuka, mengusulkan Republik Islam kepada rakyat dan rakyat pun menerimanya dengan tangan terbuka. Imam terkait Republik Islam mengatakan, “Kami menghendaki pemerintahan Republik Islam. Republik membentuk format pemerintahan dan Islam yakni isi dari format tersebut berupa hukum Ilahi.”
Dengan demikian Islam menurut perspektif Imam Khomeini tidak terbatas pada ibadah, namun sebuah agama universal yang masuk di seluruh sendi-sendi kehidupan indivudi dan sosial manusia termasuk pemerintahan. Islam seperti ini disebut Imam Khomeini sebagai Islam Muhammadi yang murni. Sebaliknya beliau menilai interpretasi menyimpang terkait Islam dengan menilainya sebagai agama yang mengurusi ibadah dan masalah individu serta mengabaikan perlawanan terhadap kubu penindas sebagai Islam Amerika.
Kesederhanaan hidup Imam Khomeini juga termasuk karakteristik penting lain pendiri Republik Islam ini. Sifat ini merupakan manifestasi dari pemahaman beliau terhadap ajaran Islam. Ketika para pemimpin dan elit politik dunia hidup glamour dan berfoya-foya, beliau dengan mengikuti sirah Rasulullah Saw dan Ahlul Bait memilih hidup sangat sederhana. Bahkan para pemimpin dunia yang sempat bertemu dengan Imam Khomeini, sangat takjub dengan kehidupan pemimpin revolusi terbesar di abad ini. Kesederhanaan hidup ini membuat rakyat merasa semakin dekat dengan Imam Khomeini dan rasa cinta antara pemimpin revolusi ini dan warga semakin kuat.
Banyak para pemimpin dan elit politik dunia yang memuji rakyat di pidato mereka, namun dalam prakteknya mereka hanya mencari kepentingan pribadi dan partainya. Namun Imam Khomeini sejak awal kebangkitan Islam di Iran memiliki perhatian khusus kepada rakyat. Beliau menilai bahwa revolusi hanya mungkin melalui pencerahan dan membangunkan rakyat, dan hanya rakyat yang mempu membawa kemenangan bagi revolui ini. Sebaliknya rakyat memiliki kecintaan besar kepada Imam dan oleh karena itu, mereka dengan penuh keyakinan mengikuti setiap instruksi dan arahan beliau.
Salah satu contoh ketaatan ini dapat ditemukan di pengorbanan rakyat untuk membawa kemenangan bagi revolusi yang dipimpin oleh Imam Khomeini serta partisipasi luas warga selama perang delapan tahun pertahanan suci melawn agresi Saddam Hussein. Imam Khomeini dengan sikap merendah dan tidak congkak menilai dirinya sebagai pelayan rakyat dan menekankan kepada pejabat negara untuk senantiasa melayani rakyat. Beliau berkata, “Jika rakyat menjadi pendukung sebuah pemerintahan, pemerintahan ini tidak akan pernah tumbang. Jika rakyat menjadi pendukung sebuah rezim, maka rezim ini tidak akan runtuh.”
Wawasan dan pandangan jauh kedepan merupakan karakteristik lain Imam Khomeini. Beliau sangat memperhatikan transformasi dalam dan luar negeri. Kecakapan beliau dalam hal ini melebihi orang lain. Selama beberapa tahun sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, beliau memulai perjuangannya dan mulai mencerahkan rakyat serta mendidik tokoh-tokoh pejuang serta revolusioner. Pasca revolusi, kecermatan dan pandangan jauh kedepan Imam, Iran berulang kali berhasil terbebas dari beragam ancaman. Nasehat dan arahan Imam kepada orang-orang terdekat beliau untuk mengangkap Ayatullah Khamenei sebagai penggantinya termasuk pandangan jauh kedepan pendiri Republik Islam ini.
Kini pasca 27 tahun kepemimpinan Rahbar Imam Ali Khamenei, dapat dipahami sejauh mana kecermatan dan pandangan jauh kedepan Imam Khomeini atas kemampuan murid tercintanya ini dan kebijaksanaan Rahbar di pentas politik dan agama khususnya menjaga Revolusi Islam. Murid ini tidak pernah melupakan cita-cita dan ajaran guru tercintanya.