Revolusi Iran; Revolusi yang Tak Tertandingi 3
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i32213-revolusi_iran_revolusi_yang_tak_tertandingi_3
Peringatan ke 38 kemenangan Revolusi Islam Iran telah tiba dan kebangkitan ini masih tetap menjadi pusat perhatian serta memberi pengaruh pada konstelasi politik baik di kawasan maupun dunia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 02, 2017 12:07 Asia/Jakarta

Peringatan ke 38 kemenangan Revolusi Islam Iran telah tiba dan kebangkitan ini masih tetap menjadi pusat perhatian serta memberi pengaruh pada konstelasi politik baik di kawasan maupun dunia.

Revolusi Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini menuai kemenangan. Kebangkitan ini dari satu sisi berhasil merusak sistem dua kutub di dunia dan dari sisi lain sebuah rezim yang mendapat dukungan dari kekuatan besar dunia berhasil dimusnahkan. Apalagi rezim ini di negara seperti Iran yang posisinya sangat strategis dan memiliki nilai besar di bidang ekonomi serta politik.

 

Revolusi Islam yang mencul di antara bangsa muslim dunia melalui kesadaran mendalam mereka khususnya di negara-negara Muslim telah membuka peluang transformasi politik yang berakar dan kecenderungan serta pergerakan politik. Kebangkitan ini kembali mengenalkan Islam sebagai sebuah kekuatan yang menentukan di dunia. Esensi ideologi, kepemimpinan yang kuat dan kedalaman transformasi yang diakibatkan Revolusi Islam mendorong banyak pengamat politik  mengevaluasi kembali teori revolusi.

 

Peringatan hari kemenangan Revolusi Islam Iran merupakan peluang untuk membaca ulang mekanisme kemenangan kebangkitan ini, karena mengingat pengaruh mendalam revolusi ini terhadap Iran dan dunia, masih banyak rahasia yang belum terungkap khususnya bagi generasi muda.

 

Kepemimpinan revolusi ini berada di tangan Imam Khomeini, seorang ulama dan marji besar. Imam Khomeini di kebangkitan Islam dibantu oleh pilar-pilar utama sehingga mampu membawa revolusi ini ke gerbang kemenangan. Pilar ini memainkan peran penting di kemenangan revolusi Islam dan pengokohan pemerintahan Republik Islam Iran. Seluruh pilar dan tokoh ini selama perjuangan melawan rezim despotik Shah Pahlevi adalah orang-orang yang diburu, dijebloskan ke penjara atau diasingkan.

 

Salah satu faktor partisipasi seluruh lapisan masyarakat baik di kota atau pedesaan di revolusi ini adalah kebencian mereka terhadap rezim Pahlevi yang melakukan banyak kejahatan dalam menumpas tuntutan kebebasan serta atmosfer mencekik yang diciptakan oleh rezim boneka kekuatan imperialis dunia ini. Membaca ulang memori tokoh-tokoh yang membantu perjuangan Imam Khomeini terkait pengalaman mereka selama di penjara dan siksaan yang mereka alami akan menunjukkan atmosfer mencekik saat itu.

 

Salah satu tokoh dan pembantu utama Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran adalah Ayatullah Hashemi Rafsanjani yang baru saja menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah bertahun-tahun dan tak kenal henti berjuang, baik sebelum revolusi maupun setelah kemenangan kebangkitan Islam ini.

 

Saat menceritakan pengalamannya selama di penjara rezim Pahlevi dan siksaan yang dialaminya, Ayatullah Rafsanjani mengatakan, “Siksaan pedih dan pukulan cambuk dibarengi dengan caci maki serta penghinaan. Ketika salah satu agen Savak mencambuk, yang lain mengatakan jangan pukul. Terkadang Aku sendiri yang mengatakan, acara penyiksaan akan dimulai kembali. Tapi mereka tetap tidak puas dan kembali melakukan penyiksaan....Terkadang mereka menempelkanku ke tembok dan meletakkan pisau di tenggorokanku. Kemudian mereka berkata, akan kami potong lehermu. Saat itu, tenggorokanku terluka...”

 

Ayatullah Rafsanjani menambahkan, “...Sekali mereka berusaha menghinaku dengan menelanjangiku. Perlakuan ini berlanjuan hingga pukul empat pagi. Pukulan cambuk mengoyak dagingku dan terkadang sampai menembus tulang. Sebagian tulang pun patah. Setelah interogasi, beberapa hari kemudian dengan mata tertutup dan pakaian penyamaran, mereka membawaku ke rumah sakit militer.”

 

Hossein Shariatmadari, redaktur Koran Kayhan memiliki pengalaman selama di penjara bersama Ayatullah Hashemi Rafsanjani. Di memorialnya, Shariatmadari mengatakan, “Saat berada di ruang interogasi, sekali Saya berpura-pura pingsan dengan harapan para sipir berhenti menyiksaku. Saat itu, Aku menyadari bahwa Ayatullah Rafsanjani dibawa masuk ke ruang interogasi. Sebelumnya Aku melihat beliau di ruang pertemuan dan mengenalnya. Saat itu, sebuah alat penyiksaan dipasang di leher Ayatullah Rafsanjani dan mulai memelintir leher beliau. Dengan mataku sendiri, aku menyaksikan penyiksaan tersebut. Alat tersebut diputar sedemikian rupa sehingga Ayatullah Rafsanjani tercekik. Siksaan tersebut dibarengi dengan kata-kata kotor.”

 

Shariatmadari menambahkan, “Kemudian agen Savak berkata kepada Ayatullah Rafsanjani, mengapa kamu melakukan kampanye dan propaganda bagi Imam Khomeini. Azghandi (Manouchehri) salah satu agen Savak yang paling buas kemudian mengencangkan alat penyiksaan di leher Ayatullah Rafsanjani dan berkata, jangan ulangi lagi perbuatanmu dan kemudian ia melonggarkan alat tersebut. Namun jawaban Ayatullah Rafasanjani adalah, Aku akan tetap melakukannya.”

 

Tidak ada perbedaan bagi rezim Shah Pahlevi apakah para oposisi itu laki-laki, perempuan atau remaja. Mereka yang menentang rezim pasti mengalami siksaan paling sadis. Salah satu perempuan pejuang anti Shah Pahlevi yang mengalami siksaan berat adalah Marzieh Hadidchi Dabagh. Marzieh Dabagh pejuang perempuan yang menyertai Ayatullah Javadi Amoli di lawatan ke Moskow untuk memberikan surat bersejarah Imam Khomeini kepada Mikhail Gorbachev, presiden Uni Soviet.

 

Bercerita tentang pengalamannya selama disiksa oleh agan Savak, Marzieh Dabagh berkata, “Penyiksaan dimulai dengan tamparan, hinaan dan kemudian berkembang dengan cambukan dan pukulan tongkat. Beberapa kali mereka mengikat tangan dan kakiku di kursi. Mereka memakaikan baju besi dan helm besi di kepalaku, kemudian mereka mulai mengalirkan listrik tegangan tinggi ke badanku hingga badanku terguncang. Cambuk dan pentungan adalah makanan sehari-hari kami, terkadang hal ini menjadi sebuah kebiasaan...”

 

Ia menambahkan, “...Aksi penyiksaan ini berjalan sangat profesional. Pukulan cambuk di kakiku sangat keras hingga aku pingsan. Mereka kemudian menuangkan air di kepalaku hingga aku tersadar. Mereka memaksaku untuk berjalan supaya kakiku tidak bengkak. Rasa sakit akibat penyiksaan beruntun ini sangat berat.”

 

Marzieh Dabagh memiliki kenangan sangat buruk terkait bentuk penyiksaan Savak. Di bagian lain pengalamannya, ia mengatakan, “Sekali mereka mengikat tangan dan kakiku di ranjang. Ketika sang algojo memasuki ruang penyiksaan, sambil menghisap rokok, kemudian ia mematikannya di atas tanganku. Bersamaan dengan teriakanku, ia mulai menghina dan berkata, Oh, rokokku mati. Kemudian ia menyalakan rokok lainnya dan kemudian mematikannya dengan menempelkan di atas anggota badanku yang lain.”

 

Para interogator dan algojo Savak menggunakan beragam siksaan untuk mamatahkan semangat para pejuang. Salah satu metode mereka adalah menangkap dan menyiksa anak serta keluarga para pejuang yang dipenjara atau buron. Marzieh Dabagh mengalami siksaan pedih melalui metode ini. Agen Savak menangkap putri Marzieh Dabagh yang baru berusia 14 tahun dan menyiksanya untuk mendapat informasi para pejuang lainnya melalui mulut ibunya.

 

Sejumlah pejuang dan pembantu Imam Khomeini ra gugur syahid di bawah penyiksaan Savak. Di antara pejuang terkemuka adalah Ayatullah Ghafari dan Ayatullah Saeedi. Savak di aksinya memiliki beragam metode penyiksaan untuk menurunkan mental dan semangat pejuang. Di antaranya adalah mengikat tahanan di tangga. Tahanan akan dibiarkan dalam kondisi seperti ini hingga beberapa lama sehingga merasakan kesakitan luar biasa.

 

Memukul dan mencambuk tempat-tempat tertentu dan sensitif tubuh tahanan juga termasuk metode penyiksaan Savak. Menelanjangi tahanan, mengikat mereka di ranjang dan cambukan adalah metode biasa agen Pahlevi ini. Savak tak segan-segan menelanjangi tahanan dan menidurkan mereka di ranjang yang dingin tanpa kasur serta mengikat tangan dan kaki mereka, kemudian mulai memukulinya dari kepala hingga kaki.