Peringatan Hari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i36214-peringatan_hari_angkatan_bersenjata_republik_islam_iran
Tanggal 29 Farvardin atau 18 April di Iran diperingati sebagai Hari Angkatan Bersenjata. Pembahasan singkat ini akan mengulas seputar peran dan posisi Angkatan Bersenjata Republik Islam di dalam mewujudkan stabilitas dan keamanan Iran serta kawasan. 
(last modified 2026-04-18T09:26:41+00:00 )
Apr 18, 2017 07:13 Asia/Jakarta

Tanggal 29 Farvardin atau 18 April di Iran diperingati sebagai Hari Angkatan Bersenjata. Pembahasan singkat ini akan mengulas seputar peran dan posisi Angkatan Bersenjata Republik Islam di dalam mewujudkan stabilitas dan keamanan Iran serta kawasan. 

Republik Islam Iran dalam kerangka prinsip strategisnya dalam menjaga keamanan, selain menekankan upaya menjaga kesiapan pertahanan dan kekuatan pencegahan, selalu mendambakan perdamaian dan keamanan global. Iran percaya bahwa segala bentuk strategi militer di kawasan harus didesain untuk menciptakan keamanan, stabilitas yang kokoh dan kepercayaan timbal balik.

 

Terkait hal ini, Angkatan Bersenjata Iran di era perang yang dipaksakan rezim Irak, memainkan peran efektif dalam membela dan melindungi Iran dari serangan militer, dan hari ini dengan seluruh kemampuan, Angkatan Bersenjata Iran siap membela perbatasan-perbatasan negara dengan segenap kekuatan dan sebagai bentuk kekuatan pencegahan, Angkatan Bersenjata Iran juga akan menumpas musuh di luar perbatasan.

 

Di sisi lain, Amerika Serikat mengklaim, kekuatan pertahanan Iran adalah ancaman bagi keamanan regional dan intensitas "cipta kondisi" ini terus meningkat seiring dengan kunjungan pejabat-pejabat Amerika dan Inggris ke kawasan. Amerika mengaku cemas dengan program rudal Iran, padahal dirinya sendiri saat ini tengah melakukan manuver-manuver militer gabungan untuk mempersiapkan serangan rudal di kawasan. 

 

Surat kabar Washington Post beberapa waktu lalu menulis, Pentagon selain menandatangani kontrak penjualan senjata ke Arab Saudi senilai 60 milyar dolar, juga melakukan negosiasi dengan petinggi Riyadh untuk mempersenjatai militer negara itu dengan sistem rudal senilai puluhan milyar. Kebijakan yang menampilkan Iran seolah-olah ancaman, hingga kini terus diterapkan oleh pejabat pemerintah Amerika. Sebagian dari manuver ini dijabarkan dalam sebuah pembagian tugas oleh Kementerian Luar Negeri Amerika dan dikelola oleh lembaga itu. Sementara bagian yang lainnya terangkum dalam kerangka langkah-langkah Kongres Amerika. 

 

Republik Islam Iran, dengan memperhatikan level ancaman dan prasyarat pertahanan dan prioritas-prioritas yang ada, menyusun strategi pertahanannya berlandaskan prinsip peningkatan kekuatan pencegahan. Strategi ini diambil dalam rangka meningkatkan stabilitas dan keamanan kawasan serta mencegah serangan dan petualangan-petualangan militer potensial oleh setiap agresor di kawasan.

 

Selain itu, Iran juga berulang kali, di berbagai even internasional mengumumkan bahwa negara ini percaya kepada prinsip konvergensi dalam menjaga keamanan regional. Dari sini, kekuatan pertahanan Iran selain bukan merupakan ancaman bagi kawasan, bahkan prasyarat yang dibutuhkan dalam interaksi regional guna memperkuat stabilitas dan keamanan. Amerika dalam dua dekade terakhir mengerahkan seluruh upayanya untuk mengubah arah transformasi regional dan internasional dengan menyalahgunakan isu keamanan dan perang melawan terorisme yang dimunculkannya sendiri di kawasan.

 

Dalam hal ini, Amerika melakuan sejumlah langkah preventif. Di lebih dari 236 negara dunia Amerika secara praktis terbukti melakukan intervensi militer dengan mendirikan pangkalan-pangkalan militernya. Intervensi Amerika tersebut semakin terlihat nyata dengan pendudukan langsung negara itu atas Afghanistan dan Irak pada tahun 2001 dan 2003 dengan dalih membalas serangan teroris ke gedung kembar WTC di New York yang terjadi pada 11 September 2001.

 

Langkah itu menunjukkan bahwa Amerika dengan menggunakan kekuatan militer, berusaha meningkatkan pengaruhnya di negara-negara kawasan dan bukti terbaru adalah serangan rudal negara itu ke Suriah. Buah dari kebijakan interventif Amerika tersebut adalah pecahnya perang yang dipaksakan, terciptanya krisis dan meluasnya instabilitas di negara-negara kawasan. Inilah kebijakan berbiaya tinggi yang dipaksakan untuk masyarakat kawasan.

 

Kebijakan interventif Amerika dari sudut pandang diplomasi Iran, jelas-jelas tertolak. Republik Islam Iran menentang langkah-langkah pemaksaan dan dominasi, dan dengan menekankan prinsip anti-intervensi, berusaha mengajak negara-negara kawasan bekerjasama menyelesaikan masalah-masalah regional dengan partisipasi seluruh pihak berdasarkan pada solusi lokal. Akan tetapi pemerintah Amerika justru terus mengulang tuduhan bahwa Iran telah mengintervensi urusan dalam negeri negara-negara kawasan seperti Saudi yang melancarkan perang mematikan di Yaman. Tujuan kebijakan semacam ini adalah untuk memperlamah peran di kawasan.

 

Tujuan yang sama pernah diupayakan Amerika di awal kemenangan Revolusi Islam Iran dengan mendukung Saddam Hussein dalam agresi terhadap Iran dan berusaha mewujudkan mimpi menundukkan Republik Islam Iran. Jika dikaji alasan-alasan di balik agresi militer Irak ke Iran, akan terungkap tiga tujuan yang melandasi agresi militer tersebut. Tujuan pertama, menggulingkan secara langsung pemerintahan Republik Islam Iran lewat peperangan, dan ini dilakukan Amerika. Tujuan kedua, mengubah perimbangan militer di kawasan. Peran Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam selalu dalam kerangka menjaga kepentingan Amerika di kawasan. Namun seiring dengan dicapainya kemenangan Revolusi Islam di Iran, hal itu berubah.

 

Rezim Saddam pada kenyataannya atas provokasi Amerika ingin menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran sehingga bisa menggantikan posisi Iran sebagai salah satu kekuatan militer regional. Tujuan ketiga dikenal dengan teori "Bulan Sabit Syiah" dan dalam kerangka proyek penyebarluasan Iranfobia. Amerika dalam 38 tahun terakhir dengan menggunakan seluruh opsi yang ada, secara langsung maupun tidak langsung, dibantu rezim Zionis Israel, bonekanya di kawasan, berusaha mewujudkan mimpi menundukkan rakyat Iran.

 

Akan tetapi tidak satupun langkah Amerika itu yang berhasil mengubah sikap Iran sehingga menguntungkannya. Meski era perang yang dipaksakan terhadap Iran sudah berakhir, namun ancaman-ancaman terhadap Iran belum usai dan Amerika tetap akan menggunakan opsi-opsi yang sama. Dari sini, dimilikinya kesiapan pertahanan merupakan sebuah urgensitas bagi Iran. Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, beberapa waktu lalu dalam sebuah kunjungan, menyinggung teknologi canggih, dalam negeri dan berbasis ilmu pengetahuan dari industri-industri militer Iran.

 

Pada kesempatan itu Rahbar mengatakan, di dalam sebuah dunia dimana kekuatan-kekuatan arogan, penjajah dan minim nilai moral, nurani dan kemanusiaan, berkuasa, dan tidak ragu melakukan serangan terhadap negara dan membunuh manusia tidak bersalah, pengembangan industri pertahanan dan ofensif, sepenuhnya merupakan hal lumrah, karena kekuatan-kekuatan arogan itu tidak akan membiarkan sebuah negara aman, selama belum menyadari kekuatan negara itu.

 

Realitasnya adalah Iran selalu berada di bawah ancaman Amerika dan sekutu-sekutunya di kawasan. Ancaman-ancaman tersebut bukan saja tidak menurun, bahkan terus meningkat dan semakin beragam bentuknya. Oleh karena itu Republik Islam Iran dalam kerangka doktrin pertahanannya, merancang dan menjalankan proyek-proyek efektif yang sepadan dengan ancaman-ancaman tersebut. Iran selama bertahun-tahun pasca berakhirnya perang yang dipaksakan Irak terhadap negara ini, berhasil meningkatkan kemampuan pertahanannya dengan memanfaatkan pengalaman perang Pertahanan Suci dan bersandar kepada potensi dalam negeri.

 

Doktrin pertahanan Republik Islam Iran berlandaskan tujuan-tujuan strategis, bertumpu pada dua prinsip penting, produksi alat kekuatan untuk pencegahan dan pertahanan efektif. Dalam kerangka ini, kemampuan Iran di berbagai arena perang darat, laut dan antariksa, sesuai dengan standar terkini dunia dan berlandaskan pada prinsip pencegahan.

 

Saat ini Republik Islam Iran dengan semua teknologi canggih yang dimilikinya dan kemandirian dalam memproduksi berbagai jenis rudal balistik, tercatat sebagai satu dari sedikit negara yang berhasil menguasai teknologi ini. Di zona bawah laut dan pertahanan maritim, armada-armada tempur Angkatan Laut Iran juga mampu melaksanakan tugas-tugas besar di Teluk Persia dan Selat Hormuz hingga menjangkau samudra-samudra lepas dan perairan internasional.

 

Prestasi-prestasi yang diraih Iran ini secara umum membuktikan bahwa hari ini Angkatan Bersenjata Iran, sesuai dengan perubahan struktur dan strategi, berada dalam kesiapan penuh untuk menghadapi segala bentuk ancaman di setiap medan dengan kekuatan penuh. Iran juga tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, namun dalam praktiknya selalu menunjukkan akan selalu bertindak jika diancam dan akan membalas setiap serangan. Iran punya kapasitas untuk menghadapi semua gerakan-gerakan yang mengancam keamanannya dengan bersandar pada kemampuan militer dan pertahanannya sendiri.