Imam Khomeini Dalam Penuturan Agha Hani Afsariyan (1)
-
Imam Khomeini ra
Saya adalah pembantu saudara Imam Khomeini, yakni Agha Pasandideh dan bertahun-tahun saya punya hubungan dengan keluarga Imam Khomeini.
Saya mengenal Imam Khomeini dan keluarganya ketika masa muda, pada masa permulaan wajib militer pemerintahan Reza Shah [Pahlevi], ketika Imam Khomeini baru saja menikah dengan putrinya Agha Saghavi. Tentunya saudara tua saya jauh sebelumnya di rumah ayah Imam Khomeini sebagai tukang masak.
Almarhum Haj Agha Ruhullah tinggal di Khomein sampai usia 13-14 tahunan. Kemudian pergi belajar ke hauzah Arak. Beliau tinggal di sana selama 10-12 tahunan. Kemudian pergi ke Qum dan belajar di sana. Sejak saat itu, karena beliau tinggal di Qum, saya sering menemui beliau untuk mengantarkan bahan makanan seperti kacang-kacangan dan gula. Saudara tua Imam Khomeini, Agha Pasandideh, dalam sekali dalam beberapa waktu mengutus saya untuk mengantarkan bahan makanan ke Qum dan saya bisa menjumpai beliau dari dekat dan menyampaikan kehormatan. Imam Khomeini berbicara dengan saya dengan penuh kasih sayang dan wajah yang ramah dan bertanya:
Haji Hani! Berapa biayanya? Katakan, untuk saya bayar.”
Saya pun mengatakan, “Agha! Haji Pasandideh sudah membayar uangnya. Anda jangan repot-repot. Saya sendiri tidak mengeluarkan biaya.” Imam Khomeini benear-benar penuh kasih sayang, sederhana dan ramah.
Suatu hari, di Qum saya menemui Imam Khomeini karena mengantarkan bahan makanan yang diberikan oleh Agha Pasandideh. Imam bertanya:
“Hani! Apa yang kau bawa ini?”
Saya katakan, “Agha! Saya bawakan bahan makanan dari Khomein.” Beliau bertanya:
“Berapa biaya yang kau keluarkan?”
Saya katakan, “Berapapun biayanya akan saya hitung dengan Agha Pasandideh.” Kemudian saya berkata, “Agha, berikan kepada saya dua Qiran.” Beliau berkata:
“Dua Qiran mau engkau apakan?”
Saya katakan, “Saya ingin menjadikannya sebagai modal untuk ke Mekah.” Beliau berkata:
“Katakan berapa saja, akan aku berikan.”
Saya katakan, “Dua Qiran itu saja sudah cukup.” Kesimpulannya, saya telah mengambil dua Qiran itu saja dari Imam Khomeini sebagai tabarruk dan saya jadikan sebagai modal kerja. Setelah beberapa lama biaya untuk pergi ke Mekah sudah terkumpulkan karena berkat uang ini.
Saya juga punya kenangan ketika Imam Khomeini diasingkan. Ketika para pasukan Shah Pahlevi menyerbu rumah Imam Khomeini, beliau berada di rumah tetangganya. Para pasukan SAVAK dan polisi kota menyerbu rumah Imam untuk menangkap beliau. Karena mereka tidak mendapati Imam Khomeini, pertama mereka menendangi dan memukuli dua orang yang ada di rumah dengan senjatanya dan menanyakan tentang Imam Khomeini kepada mereka. Kedua orang itu tidak berkata apa-apa. Pada saat itu, karena mendengar suara ribut-ribut, Imam Khomeini datang ke rumah dan berkata kepada para pasukan Shah:
“Ada apa ini? Mengapa kalian merusak dinding? Mengapa kalian memukuli masyarakat?
Para pezalim ini berkata, “Anda harus datang ke Tehran bersama kami.” Imam Khomeini berkata:
“Aku siap.”
Kemudian beliau pergi bersama mereka dengan mobil Volkswagen (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Agha Hani Afsariyan; Pembantu Agha Pasandideh, saudarnya Imam Khomeini
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh