Perlawanan Suci Membela Tanah Air
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i44923-perlawanan_suci_membela_tanah_air
Pada 22 September 1980, perang yang dipaksakan pecah setelah Angkatan Udara Irak melancarkan agresi sepihak terhadap 10 bandara militer dan sipil di wilayah Iran. Rezim Saddam berpikir bahwa militer Iran tidak siap untuk mempertahankan perbatasan negara, dan tidak sulit untuk menaklukkan Iran. Pada awal agresi, Saddam Hussein mengklaim bahwa ia dapat membawa perdamaian dengan memerangi dan mengalahkan Republik Islam Iran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 26, 2017 07:47 Asia/Jakarta

Pada 22 September 1980, perang yang dipaksakan pecah setelah Angkatan Udara Irak melancarkan agresi sepihak terhadap 10 bandara militer dan sipil di wilayah Iran. Rezim Saddam berpikir bahwa militer Iran tidak siap untuk mempertahankan perbatasan negara, dan tidak sulit untuk menaklukkan Iran. Pada awal agresi, Saddam Hussein mengklaim bahwa ia dapat membawa perdamaian dengan memerangi dan mengalahkan Republik Islam Iran.

Kota Khorramshahr benar-benar sangat penting karena lokasinya di persimpangan Sungai Arvand dan Karun yang bermuara ke laut, memiliki banyak pelabuhan dan dermaga, dan jaraknya yang dekat dengan kota strategis Abadan. Irak – dengan akses terbatas ke laut lepas – selalu berhasrat menduduki Khorramshahr dan Abadan serta daerah-daerah penghasil minyak di sekitarnya. Oleh karena itu, pendudukan atas kedua kota itu merupakan tujuan prioritas rezim Ba'ath Irak.

Saddam dan Partai Ba'ath, yang menyadari persoalan yang sedang dihadapi Iran pasca revolusi, menjanjikan waktu satu hari untuk menaklukkan Khorramshahr dan tiga hari untuk Ahvaz.

Mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) selama Perang Pertahanan Suci, Mohsen Rezaei mengatakan, "Tentara Irak berada di puncak kejayaannya ketika menyerang Iran. Para arsiteknya tetap eksis mulai dari kolonel sampai jenderal, semua masih aktif. Mereka menerima pelatihan berat tentang perang. Di Uni Soviet dan kadang-kadang di Perancis, mereka menerima banyak pelatihan. Namun, para arsitek militer Iran mulai dari kolonel ke atas, telah melarikan diri karena dampak revolusi atau mereka meninggalkan Iran dengan alasan tertentu."

Ketika militer Irak menggempur Khorramshahr, pasukan Angkatan Darat Iran merupakan satu-satunya unit militer yang hadir di perbatasan Khorramshahr. Tapi poros perlawanan terbentuk dengan penambahan batalyon sniper angkatan laut, penduduk asli Khorramshahr, dan pasukan Pasdaran Khorramshahr yang dikomandani oleh Mohammad Jahan Ara.

Salah satu tentara yang ikut dalam operasi pembebasan Khorramshahr menuturkan, "Ini adalah langkah terakhir yang kami lakukan dari satu sisi sungai menuju ke sisi lain, saya akan menggambarkan situasi ini secara singkat. Semua kepala menoleh ke belakang ke arah Khorramshahr tanpa kecuali, saya bisa katakan bahwa 99 persen dari kami menangis. Jika ada yang tidak meneteskan air mata, tapi batin mereka tetap menangis. Semua mata mereka tertuju ke Khorramshahr. Batalyon sniper bahkan berjanji kepada diri mereka sendiri bahwa kami tidak akan kembali sampai membebaskan Khorramshahr. Mereka berdoa, 'Ya Allah, berilah kami kesempatan untuk memenuhi janji kami.'"

Para pembela Khorramshahr dengan perlawanan dari lorong ke lorong dan rumah ke rumah, mampu bertahan selama 34 hari dalam menghadapi 12 divisi pasukan Saddam, di mana tujuh divisi dari mereka adalah unit lapis baja dan mekanik dan mereka juga memperoleh dukungan dari udara.

Setelah agresi militer Irak, pasukan Iran melakukan banyak operasi untuk mengalahkan musuh, di mana kebanyakan dari operasi ini populer di dunia dari segi perencanaan, kerumitan, dan tingkat kesuksesan. Dalam waktu kurang dari 10 jam dari agresi Irak ke Iran, Angkatan Udara Iran merespon serangan itu dengan tegas dan keras.

Pada dini hari 23 September 1980, Operasi Kaman-99 digelar dengan melibatkan 140 pembom tempur, Phantom F-4 dan Tiger F-5, dan sekitar 60 pesawat tanker dan pencegat, dan secara total melibatkan sekitar 200 pesawat. Target-target strategis di Irak digempur termasuk pangkalan udara, pusat radar dan telekomunikasi, kilang utama minyak dan daerah-daerah strategis di negara tersebut.

Operasi Kaman-99 adalah sebuah operasi besar-besaran dan itu cukup sukses bagi tentara Iran. Kerugian yang diderita oleh Angkatan Udara Irak cukup besar sehingga dengan operasi ini, mereka kehilangan 55 persen dari kekuatannya. Pangkalan Udara al-Rasheed di dekat Baghdad – sebagai salah satu pangkalan utama Irak – kehilangan kapasitas operasionalnya selama 69 hari. Ini bukan satu-satunya operasi Iran yang berhasil selama Perang Pertahanan Suci.

Pada 28 November 1980, angkatan laut militer Iran bersama angkatan udara berhasil menghancurkan pelabuhan strategis Umm al-Qasr, di pantai barat Sungai Arvand, dan juga menghancurkan dua anjungan besar minyak yang disebut al-Bakr dan al-Amaya. Operasi yang bersandi Morvarid ini, benar-benar telah memutus ekspor minyak Irak melalui jalur laut setelah terminal-terminal minyak mereka hancur. Pergerakan kapal kargo dan minyak yang memanfaatkan rute tersebut menjadi terhenti, padahal ia memainkan peran fundamental selama masa perang.

Angkatan Laut Irak telah lumpuh total setelah Operasi Morvarid dan tidak mampu memainkan peran sampai berakhirnya perang. Pembebasan Khorramshahr juga merupakan salah satu operasi yang meruntuhkan kedigdayaan militer Irak.

Dezful, Nasr, Tawakkol, Samen al-Aimeh, Tariq al-Qods, Fath al-Mobin, Baitul Maqdis, Ramadan, Valfajr, Valfajr-1, Valfajr-4, Khayber, Badr, Qader, Valfajr-8, Karbala-1, Karbala-4, Karbala-5, Karbala-6, Karbala-10, Baitul Maqdis-2, Baitul Maqdis-7, Labbaika Ya Khomeini, Valfajr-10, dan Mersad, adalah sebagian dari operasi sukses Iran selama delapan tahun Perang Pertahanan Suci.

Selama era perang yang dipaksakan rezim Irak atas Republik Islam Iran, negara-negara Barat dan Eropa dengan berbagai cara mendukung Irak. Agresi ini menewaskan dan melukai ratusan ribu orang dan menyebabkan ribuan miliar dolar kerugian finansial. Blok Timur dan Barat dan sekutu mereka sama-sama mendukung rezim agresor Irak.

Mantan Duta Besar AS untuk Irak, David Newton menuturkan, "Kami tetap mengkhawatirkan senjata kimia, tapi kekhawatiran yang lebih besar terkait dengan kekalahan Irak dalam perang."

Beberapa dokumen baru yang dirilis di Amerika Serikat menunjukkan bahwa selama perang delapan tahun tersebut, AS menyediakan informasi intelijen tentang pergerakan pasukan Iran, gudang logistik, amunisi, dan lain-lain. David Christopher, Penasihat Menteri Pertahanan AS mengatakan, "Pada musim dingin tahun 1985, orang-orang Iran bersiap untuk mematahkan pertahanan di Basrah. AS mengetahui hal ini melalui citra satelit dan Saddam juga mengerti bahaya apa yang mengintainya. Dalam sebuah serangan, pasukan Iran dipukul mundur dan 20.000 orang Iran meninggal dunia dalam waktu dua bulan."

Keimanan dan keyakinan kuat para pejuang Iran tentang kebenaran Revolusi Islam dan partisipasi luas rakyat untuk membela tanah airnya, merupakan modal terbesar revolusi dan negara dan memainkan peran utama dalam menghentikan mesin perang Irak.

Dalam mengkaji faktor-faktor di balik kegagalan Irak mencapai tujuan-tujuan yang sudah diumumkan, selain keimanan dan keyakinan para pejuang Iran, faktor-faktor lain seperti pesimisme para pendukung Saddam mengenai kekalahan Republik Islam, partisipasi seluruh masyarakat Iran, dan pada akhirnya penerimaan resolusi 598 Dewan Keamanan PBB oleh Iran, juga berpengaruh pada kegagalan tersebut. Akhirnya, Irak tetap berada di titik yang sama setelah delapan tahun mengobarkan perang.

Setelah kunjungan Sekjen PBB waktu itu, Javier Perez de Cuellar ke Tehran pada September 1987 dan pernyataannya yang menerima kebenaran sikap Iran. Kemudian pidato Presiden Iran di Majelis Umum PBB untuk menjelaskan posisi Tehran soal resolusi-resolusi PBB mulai dari awal perang hingga perilisan resolusi 598 Dewan Keamanan. Akhirnya dalam sebuah surat tertanggal 17 Juli 1988, resolusi tersebut diterima oleh Republik Islam Iran.

Imam Khomeini ra tetap mempertahankan pendiriannya dengan mengatakan, "Kami berada dalam kondisi yang sama seperti yang kami katakan sejak awal, kami masih memegang ini bahwa seluruh tentara Irak dan jet-jet tempur mereka harus ditarik dari wilayah kami tanpa pra-syarat. Tidak ada pra-syarat apapun dalam masalah ini. Pelaku kejahatan juga harus diperkenalkan siapa dia?"

Resolusi 598 Dewan Keamanan untuk pertama kalinya dan setelah hampir delapan tahun sejak pecahnya perang, PBB mengakui adanya pelanggaran terhadap perdamaian dalam perang Irak-Iran. Dewan Keamanan secara jelas mengatakan bahwa mereka akan bertindak sesuai dengan Pasal 39 dan 41 Piagam PBB. Dewan untuk pertama kalinya menerima pandangan Iran dan meminta Sekjen PBB untuk menunjuk sebuah tim independen dengan berkonsultasi dengan Iran dan Irak guna menyelidiki penanggung jawab perang tersebut.

Mohsen Rezaei mengatakan, "Alasan utamanya adalah bahwa resolusi tersebut telah menerima sejumlah besar tuntutan Iran. Misalnya, ia mengakui batas-batas internasional, membentuk komite untuk mencari pelaku serangan, dan komite penetapan ganti rugi, padahal resolusi-resolusi sebelumnya tidak menerima satu pun dari tuntutan Iran."

Pada akhirnya, Iran menerima resolusi PBB dalam kondisi militernya berada pada tingkat yang lebih unggul dari pasukan agresor, dan menunjukkan bahwa setelah delapan tahun Perang Pertahanan Suci, Iran tetap memiliki kemampuan mengelola medan tempur dan mengambil inisiatif pada tingkat nasional, regional, dan internasional dengan menetralisir semua agenda dan skenario, yang ingin mengeksploitasi perkembangan yang terjadi selama masa perang.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam khutbah Jumat di Tehran mengatakan, "Rezim yang sejak awal sampai sekarang memiliki kelicikan ini telah memulai perang, mengintensifkan perang, mengotori perang dengan kejahatan perang, membuat perang menjadi sangat pahit bagi kota-kota. Dan kemudian setelah munculnya wacana perundingan, perdamaian, dan gencatan senjata, rezim itu tetap membuat pernyataan yang keliru dan tidak rasional dalam perundingan."

"Kami tidak menolak kemungkinan bahwa rezim ini kembali memutuskan untuk mematahkan garis perbatasan dan merusak gencatan senjata. Kita harus siap untuk pertahanan. Saya dengan tegas mengatakan; rakyat Iran, para pejabat, angkatan bersenjata, tentara, Pasdaran dan Basiji, harus berada dalam kesiapan yang sempurna. Jika sewaktu-waktu rezim Irak ingin melakukan kegilaan dan merusak garis perbatasan, semua harus tampil kuat untuk mengalahkan agresor," tegas Ayatullah Khamenei.