Kemajuan Iran dan Tekanan AS
Pasca kemenangan Repubik Islam, Iran menjadi sasaran bertubi-tubi kekuatan adidaya semacam AS yang tidak menghendaki negara ini independen dan keluar dari cengkeraman tangannya.
Selama empat dekade, AS terus-menerus melakukan berbagai cara untuk menjegal kemajuan Iran. Tapi Republik Islam Iran tetap tegar berdiri hingga kini dan berhasil melalui masa-masa sulit tekanan AS sampai meraih kemajuan dengan caranya sendiri.
Kepala Database Sitasi Sains Dunia Islam (ISC), Mohammad Javad Dehghani mengatakan, Republik Islam Iran mencatat tingkat pertumbuhan produksi ilmu pengetahuan tercepat di dunia selama 20 tahun terakhir.
Deghani menjelaskan Laporan Nature Index pada 24 Januari 2018 yang menunjukkan bahwa Iran telah melakukan lompatan terbesar di bidang sains dan teknologi dengan pertumbuhan tahunan 22 persen, dan mampu menduduki peringkat pertama dunia.
Di tahun 2017, tujuh negara Muslim berada di antara 50 negara teratas produsen ilmu pengetahuan di dunia. Sementara Iran dan Turki berada di antara 20 negara teratas di dunia, dan masing-masing menempati peringkat ke-16 dan 18.
Kontribusi Iran dalam produksi ilmu pengetahuan pada 1997 sebesar 0,75 persen, sedangkan di tahun 2017 mencapai 1,83 persen, dan posisi Iran bergeser dari peringkat ke-54 dunia naik ke posisi 16.
Lembaga-lembaga sains internasional mengakui kemajuan cepat Iran di bidang ilmu pengetahuan pasca Revolusi Islam. Iran telah melakukan investasi di bidang teknologi strategis, termasuk bio-teknologi, teknologi nano, kedokteran, tanaman obat, dan energi terbarukan.
Di bidang medis, Ketua Asosiasi Genetika Iran, Mahmoud Tolaie menjelaskan mengenai percepatan kemajuan Iran di bidang ilmu genetika. Tolaie mengatakan, Iran berada di posisi pertama di Timur Tengah, dan menempati ranking 14 hingga 17 di dunia dalam bidang genetika.
Di bidang teknologi pertahanan, Iran juga menorehkan prestasi gemilang dari peralatan elektronik militer hingga rudal di tengah derasnya tekanan terhadap Iran.
Sekitar dua bulan lalu, pasukan Pasdaran berhasil melepaskan dua rudal balistik Qadr-H dan Qadr-F mengenai target yang sudah ditentukan dengan akurasi tinggi dalam jangkauan 1.400 kilometer. Kini, kemampuan rudal Republik Islam Iran menduduki peringkat pertama di kawasan, dan termasuk bagian dari negara-negara terdepan di dunia.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khemenei menilai permusuhan AS yang terus-menerus, mendalam dan subversif, bukan permusuhan terhadap pribadi beliau atau pejabat negara lainnya, tapi permusuhan terhadap pemerintahan Islam, rakyat yang memilihnya, dan yang bergerak di jalan ini.
Rahbar menyebut alasan utama permusuhan sengit ini adalah kemenangan Revolusi Islam Iran dan terbentuknya Republik Islam serta terputusnya tangan AS dari Iran.
Ayatullah Khamenei menambahkan, mereka ingin menggulingkan pemerintahan Islam dan kembali menguasai Iran yang memiliki cadangan sumber daya alam melimpah dan posisi strategis. AS menggunakan orang-orangnya dengan berbagai cara untuk melawan Republik Islam Iran yang independen sejak 40 tahun lalu.
Beberapa tahun lalu, AS memusatkan strateginya terhadap JCPOA, hubungan regional dan internasional Iran khususnya dengan Uni Eropa. Presiden AS, Donald Trump dengan seluruh langkah yang dilakukannya, menunjukkan bahwa dirinya tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kondisi AS di masa lalu dan sekarang.
Realitasnya, masalah utama dan pemicu konflik AS terhadap Iran adalah posisi kuat Tehran di kawasan yang telah menutup jalan imperialisme mereka dan selalu menggagalkan konspirasi segitiga AS, rezim Zionis Israel dan Arab Saudi untuk meraih ambisinya. Pastinya, substansi AS sebagai negara penjajah, sudah diketahui oleh rakyat Iran.
Peran independen Iran yang berada di luar cengkeraman AS di kawasan strategis Asia Barat memiliki kaitan dengan keputusan terbaru Donald Trump menarik keluar negaranya dari kesepakatan nuklir JCPOA.
Kekuatan rudal pertahanan Iran dan pengaruh regionalnya menjadi dua variabel penting kemajuan politik dan militer di samping kemajuan di bidang ilmu pengetahun dan teknologi.
Permusuhan Trump terhadap Iran bisa ditelisik dari masalah tersebut. Oleh karena itu, tujuan utama AS menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran demi menjegal kemajuan Republik Islam.
Kebijakan tersebut sudah dijalankan Gedung Putih saat menerima JCPOA. Kini, ketika AS keluar dari kesepakatan tersebut memiliki tujuan yang sama. Indikasi ini bisa dilihat dari langkah pertama yang diambil AS di hari pertama pengumuman keluarnya negara ini dari kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1 adalah menjatuhkan sanksi terhadap Iran.
Washington menjatuhkan sanksi terhadap tiga perusahaan dan enam individu Iran dengan alasan memiliki hubungan dengan Sepah Pasdaran. Sejatinya, sanksi ini mengincar pelemahan program rudal Iran dan pengaruh negara ini di kawasan.
Ayatullah Khamenei menyinggung alasan AS mengenai dua isu tersebut dan surat Trump beberapa hari lalu kepada para penguasa negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC).
Rahbar mengatakan, "Presiden AS dalam suratnya kepada negara-negara ini menginstruksikan melakukan ini dan itu. Mereka juga menginginkan pemerintahan Islam [Iran] bertindak demikian, tapi tidak bisa. Sebab Republik Islam tidak mau menukar harga diri dan independensinya, sebagaimana di era Qajar dan Pahlevi dahulu. [Bangsa Iran] tidak bersedia untuk mengorbankan kepentingan nasionalnya,".
Permusuhan AS terhadap Iran tidak berhubungan dengan capaian Revolusi Islam dalam masalah JCPOA, maupun keputusan Donald Trump keluar dari kesepakatan internasional itu.
JCPOA ditandatangani oleh Iran dan kelompok 5+1 ketika Iran berada di puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir. Kini dengan keluarnya AS dari JCPOA, pengetahuan nuklir tersebut tidak bisa direbut dari Iran, sebab memiliki akar kuat di negara ini.
Dinamika Republik Islam selama empat dekade menunjukkan berbagai prestasi yang diraih Iran di tengah derasnya tekanan dan sanksi yang dilancarkan dari berbagai arah.
Sejatinya, keluar atau tidaknya AS dari JCPOA tidak akan mempengaruhi kemajuan Iran, sekaligus tidak mengubah permusuhan Washington terhadap Tehran yang tetap berlanjut. Sebab akar masalah utama permusuhan AS adalah Republik Islam. Tapi, dengan jalannya sendiri, Iran terus mengibarkan kemajuannya.