Intervensi Asing, Separatisme dan Aksi Terorisme di Ahvaz
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i62355-intervensi_asing_separatisme_dan_aksi_terorisme_di_ahvaz
Beberapa hari lalu sekelompok orang bersenjata yang menyamar dengan memakai baju tentara berhasil menyusup ke acara parade militer Republik Islam Iran di kota Ahvaz untuk melancarkan aksi teror. Mereka membabi buta memberondong tentara dan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak pada acara parade militer yang berlangsung Sabtu pagi, 22 September 2018.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Sep 27, 2018 12:57 Asia/Jakarta
  • anak-anak juga menajdi sasaran serangan teroris
    anak-anak juga menajdi sasaran serangan teroris

Beberapa hari lalu sekelompok orang bersenjata yang menyamar dengan memakai baju tentara berhasil menyusup ke acara parade militer Republik Islam Iran di kota Ahvaz untuk melancarkan aksi teror. Mereka membabi buta memberondong tentara dan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak pada acara parade militer yang berlangsung Sabtu pagi, 22 September 2018.

Parade militer ini digelar bertepatan dengan peringatan Pekan Pertahanan Suci di Ahvaz. Laporan awal menyebutkan bahwa 24 orang meninggal dunia dan lebih dari 60 orang terluka dalam insiden tersebut.

Anggota parlemen Iran, Kamal Deghani mengatakan bahwa AS dan Israel bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada di balik aksi teror tersebut. Wakil Ketua Komisi Kemanan Nasional Parlemen Iran ini mengungkapkan bahwa mereka selama beberapa tahun melancarkan berbagai plot untuk menyulut pertumpahan darah di Iran dan menyeret perang saudara di negara ini.

Analis politik Timur Tengah, Hassan Hanizadeh mengatakan, rezim Al Saud mendukung finansial dan senjata kelompok teroris Al-Ahwaziya dan kelompok teroris takfiri lainnya.

Serangan terbaru di Ahvaz dilakukan dengan instruksi dari Riyadh yang bertujuan untuk menciptakan ketakutan di kalangan warga Iran. Oleh karena itu, warga sipil menjadi target serangan mereka.

 

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Heshmatollah Falahatpishe, Senin (24/9) menjelaskan tentang upaya media beberapa negara untuk membersihkan nama kelompok teroris Al Ahwaziya. Ia menegaskan keterlibatan kelompok teroris Daesh dalam serangan teror Ahvaz. Menurutnya, rakyat Iran mengetahui siapa pelaku serangan teror ini dan dari negara mana.

Keterlibatan negara lain dalam aksi teror terbaru di Ahvaz ditegaskan oleh analis politik Rusia. Seorang pengamat politik Rusia mengatakan, besar kemungkinan unit operasi khusus pasukan Amerika Serikat, rezim Zionis Israel dan Arab Saudi berada di balik serangan teror di selatan Iran.

Kantor berita Itar Tass (23/9/2018) melaporkan, pengamat politik di Institut Studi Oriental, Akademi Sains Rusia, Boris Dolgov menuturkan, dengan memperhatikan langkah yang dilakukan Amerika dan Israel baru-baru ini terhadap Iran, maka serangan teror hari Sabtu (22/9) di selatan Iran tidak bisa dianggap sebagai aksi spontan, tapi sistematis dan terorganisir.

Dolgov menjelaskan, meningkatnya sanksi Amerika terhadap Iran, keluarnya Washington dari kesepakatan nuklir, JCPOA dan ancaman permanen Gedung Putih terhadap Tehran, begitu juga permusuhan Arab Saudi dan Israel atas Iran, maka keterlibatan ketiga pemain ini dalam serangan teror Ahvaz tidak dapat disingkirkan begitu saja.

Salah satu pakar di lembaga riset strategi Rusia menilai peran pasukan elit asing dalam serangan teror Ahvaz hari Sabtu tidak bisa diabaikan.

Arab Saudi menggunakan kelompok teroris sebagai alat untuk menyulut kerusuhan dan menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat Iran. Aksi destruktif rezim Al Saud tersebut dilakukan dengan dukungan penuh AS dan rezim Zionis bersama sekutunya di Timur Tengah.

Segitiga pangkal bencana yang dipimpin AS ini membidani kelahiran kelompok-kelompok teroris takfiri yang beroperasi di negara-negara kawasan, termasuk Iran dengan target memecah belah negara-negara tersebut. Skenario besarnya adalah mewujudkan "Timur Tengah Baru" yang dicanangkan Washington.

Kelompok teroris takfiri semacam Daesh dan Al-Ahwaziya dirancang untuk mewujudkan kepentingan negara donaturnya. Al Ahwaziya merupakan nama sebuah kelompok teroris yang menghendaki pemisahan Khozestan dari Iran.

Kelompok separatis ini menggunakan sentimen etnis Arab untuk mewujudkan ambisinya mendirikan negara Khozestan yang terpisah dari Iran. Kelompok pemberontak yang berdiri 1925 ini menggunakan propaganda bohong dengan menggunakan klaim sektarian yang memecah belah kehidupan harmonis antaretnis di Iran.

Kelompok teroris Al Ahwaziya menggunakan klaim bohong dengan menyebut daerah Ahwaz dikuasai oleh etnis Farsi, dan mereka datang untuk merebut wilayah tersebut. Propaganda bohong yang mereka lakukan dengan bersandar pada penyimpangan sejarah tentang penambahan wilayah Ahvaz ke dalam wilayah teritorial Iran.

Kelompok teroris Al-Ahvaziya memiliki sayap militer bernama brigade Muhyiddin Al Nasir. Mereka memiliki keyakinan bahwa perlawanan bersenjata akan terus berlanjut, termasuk dengan melancarkan berbagai aksi teror selama daerah Arab di Iran yaitu provinsi Khozestan, Busher, Hormozgan dan pulau di sekitar Teluk Persia belum  lepas dari wilayah Iran. Mereka meyakini tiga pulau yaitu Abu Mousa, dan Tomb Besar dan Tomb Kecil sebagai bagian dari wilayah Arab, bukan Iran.

Meskipun kelompok teroris Al-Ahvaziya gencar melancarkan propaganda bohongnya, terutama di media sosial, tapi tidak mendapat dukungan besar dari warga Iran di wilayah tersebut. Bahkan orang-orang etnis Arab sendiri memandang mereka sebagai teroris dan pemberontak yang menumpahkan darah dengan dukungan kekuatan asing.

Warga Iran mengiringi acara pemakaman korban serangan teroris di Ahvaz

 

Selama puluhan tahun, Republik Islam Iran berdiri tegar menghadapi berbagai serangan dan tekanan, termasuk plot separatisme yang dilancarkan pihak tertentu, seperti aksi kelompok teroris Al Ahvaziya yang mengusung isu sektarian. Tapi aksi mereka senantiasa gagal, dan kali ini pun tidak berhasil mewujudkan tujuannya.

Warga provinsi Khozestan dari berbagai lapisan masyarakat dan etnis beraneka ragam, termasuk suku Arab, Bakhtiar, Farsi dan lainnya menghadiri acara pemakaman para syuhada korban serangan teroris di acara parade militer peringatan perang pertahanan suci.

Suku Arab di Khozestan hadir di acara pemakaman para syuhada dan mengecam aksi para teroris. Mereka tidak akan pernah membiarkan kelompok teroris menggunakan sentimen etnis untuk menyulut kerusuhan dan mewujukan ambisinya memecah belah Republik Islam Iran.(PH)