Tiga Dekade Kepergian Sang Pelopor Republik Islam
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i70699-tiga_dekade_kepergian_sang_pelopor_republik_islam
Tiga puluh tahun kepergiannya tetap dikenang hingga kini. Hari kematiannya diabadikan dalam kalender nasional Iran sebagai hari wafatnya Pendiri Republik Islam Iran.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Jun 01, 2019 14:29 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini
    Imam Khomeini

Tiga puluh tahun kepergiannya tetap dikenang hingga kini. Hari kematiannya diabadikan dalam kalender nasional Iran sebagai hari wafatnya Pendiri Republik Islam Iran.

Pada tanggal 14 Khordad 1368 Hs  yang saat itu bertepatan dengan 3 Juni 1989, Ayatullah Ruhullah Mousavi Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran meninggal dunia. Imam Khomeini dilahirkan pada tahun 1903 di kota Khomein, Iran tengah. Sejak kecil, beliau telah mengenal perjuangan melawan kezaliman, karena ayah beliau juga merupakan seorang ulama yang gigih berjuang melawan penguasa yang zalim dan akhirnya  gugur syahid dibunuh penguasa.

Imam Khomeini adalah seorang pejuang sekaligus ulama terkemuka Iran yang memiliki pengetahuan luas dalam berbagai masalah Iran dan dunia Islam. Kedalaman pemikirannya tersebut menyebabkan pemikirannya tetap lestari hingga kini, meskipun telah melewati tiga dekade setelah kematiannya. Pemikirannya mengenai masalah keagamaan, sosial, dan budaya menjadi lentera yang menerangi di tengah silang sengkarut masalah yang terjadi dewasa ini.

"Terjadinya Revolusi Islam" tidak diragukan lagi menjadi peristiwa terbesar abad kedua puluh. Sebagaimana disebutkan sosiolog terkemuka dunia, Anthony Giddens yang menulis, "Revolusi Islam menarik perhatian dunia dari Marxisme dan Liberalisme menuju Islam".

 

Bendera Iran di monumen bundaran "Revolusi" di Tehran 

Kebangkitan Islam dan umat Islam bersama identitas agama dipandang sebagai pencapaian paling mendasar dan  penting dari Revolusi Islam yang diusung Imam Khomeini.

Imam Khomeini dengan kegigihannya menghadapi rezim Shah yang korup dan otoriter di Iran, tidak pernah takut menghadapi penindasan dan kezaliman, karena ia meyakini konsep sejati menjadi revolusioner.

Pemikirannya menjadi dasar perubahan Iran dari monarki menuju Republik Islam. Dinamika Iran tersebut menyebabkan Amerika Serikat berupaya terus-menerus untuk memusuhi Iran sejak awal revolusi dengan melancarkan berbagai konspirasi hingga menjatuhkan sanksi.

Imam Khomeini dalam wasiat politiknya menyampaikan pandangannya mengenai masa depan Iran yang cerah:

"Saya menyampaikan wasiat kepada semua mengenai pentingnya mengingat Allah swt, penyucian diri dan kemandirian serta kemerdekaan di semua lini. Tentu saja tangan Tuhan ada bersama Anda, jika Anda melayani-Nya dan melanjutkan langkah dengan spirit bekerja sama dan berkorban demi kemajuan Republik Islam. "

Imam Khomeini mengandalkan dua prinsip penting yaitu tidak tunduk terhadap intimidasi dan ancaman, dan kedua kebangkitan besar melawan imperialisme.

 

Imam Khomeini ketika kembali ke Iran dari Paris

 

Salah satu karya besar dari perubahan ini adalah kebangkitan spiritualitas di dunia. Ketika pemikiran timur dan barat bertarung untuk memperebutkan dominasinya di dunia, tiba-tiba matahari revolusioner muncul dan membuat dunia berpikir tentang pemikiran alternatif yang diusung Imam Khomeini.

Imam Khomeini memperjuangkan "keadilan" sebagai tuntutan utama bangsa Iran yang berujung kemenangan Revolusi Islam. Kemenangan tersebut menjadi sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat dunia yang didominasi pemikiran Liberalisme. 

Ayatullah Khamenei, selama tiga puluh tahun ini, memimpin kepemimpinan untuk melanjutkan jalan bangga menuju Revolusi Islam. Pemimpin Tertinggi, terlepas dari semua kesulitan, plot asing dan masalah internal, membuka jalan bagi tujuan dan cita-cita revolusi, dan sekarang tahun lima puluhan revolusi dan langkah kedua revolusi telah dimulai dengan melihat masa depan yang cerah.

Keyakinan bangsa Iran adalah bahwa satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yang bermartabat, percaya diri, dan berusaha adalah melalui persatuan dan solidaritas.

 

Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam acara pelantikan Presiden Iran ke-12, mengatakan, ".. selama bertahun-tahun, sebagian kalangan, seperti pejabat Amerika Serikat saat ini secara langsung menentang bangsa Iran, dan plot sejumlah pihak sebagaimana tangan tersembunyi di balik sarung tangan beludru. Tetapi semua konspirasi ini justru meningkatkan kepercayaan diri rakyat dan pihak berwenang dalam melumpuhkan plot musuh. "

Hari ini, bangsa Iran yang memperingati hari wafatnya Imam Khomeini sebagai arsitek besar Revolusi Islam dan pendiri Republik Islam Iran melanjutkan pembangunan dengan jalannnya sendiri, sebagaimaan ditegaskan Pemimpin Besar Revolusi Iran sebagai "perang kehendak", langkah kedua revolusi di jalan yang penuh dengan kebanggaan demi meraih masa depan yang lebih cerah.(PH)