15 Khordad, Lembaran Baru Sejarah Rakyat Iran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i70709-15_khordad_lembaran_baru_sejarah_rakyat_iran
Setiap kebangkitan dan revolusi memiliki sebuah permulaan dan pendahuluan. Percikan api Revolusi Islam Iran juga sudah muncul pada 1963 atau 15 tahun sebelum kemenangan revolusi.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 01, 2019 16:54 Asia/Jakarta
  • Aksi protes 15 Khordad
    Aksi protes 15 Khordad

Setiap kebangkitan dan revolusi memiliki sebuah permulaan dan pendahuluan. Percikan api Revolusi Islam Iran juga sudah muncul pada 1963 atau 15 tahun sebelum kemenangan revolusi.

Meski riak gerakan revolusi Imam Khomeini ra telah dimulai sebelum masa itu, namun kebangkitan pada Juni 1963 mampu mengangkat nama Imam Khomeini sebagai pemimpin Kebangkitan Islam Iran.

Pada masa itu rakyat Iran bangkit melawan rezim despotik Shah Pahlevi. Dalam sejarah perjuangan Imam Khomeini ra melawan rezim Shah, Kebangkitan 15 Khordad 1342 Hijriyah Syamsiah dianggap sebagai sebuah titik balik. Dengan kata lain, Revolusi Islam Iran dipandang sebagai kelanjutan dari Kebangkitan 15 Khordad (Juni 1963).

Kebangkitan ini merupakan sebuah perjuangan yang dibangun atas tiga unsur penting yaitu Islam, Imam Khomeini dan rakyat. Kebangkitan 15 Khordad meski ditumpas oleh rezim dan setahun kemudian Imam Khomeini ra juga diasingkan ke Turki dan selanjutnya ke Irak, namun setelah peristiwa itu kalangan ulama Iran memperluas gerakannya untuk melawan rezim despotik Mohammad Reza Pahlevi dan pendukungnya Amerika Serikat.

 

Imam Khomeini berbicara di hadapan massa

Sebenarnya, faktor-faktor yang melatari lahirnya Kebangkitan 15 Khordad harus ditelusuri di luar wilayah Iran.Pemilu Presiden AS pada 1960 mengantarkan kandidat Demokrat, John F. Kennedy ke Gedung Putih dan melahirkan serangkaian perubahan dalam kebijakan luar negeri AS.

Kennedy – berbeda dengan gaya kubu Republikan – percaya pada kebijakan yang lebih fleksibel untuk menghadapi krisis di negara-negara boneka AS di dunia ketiga. Dia lebih memilih mengincar kesepakatan ekonomi daripada militer, mengoptimalkan sektor keamanan dan intelijen ketimbang mengedepankan kekuatan militer, memperkuat program-program budaya termasuk pasukan perdamaian, dan mengkampanyekan demokrasi di negara-negara yang berkiblat ke Washington. Menciptakan pemerintahan boneka non-militer termasuk instrumen Kennedy untuk mencapai tujuan itu.

Reza Pahlevi berada di bawah kendali penuh AS menyusul kudeta bersama yang dilakukan Washington dan London terhadap pemerintahan konstitusional Doktor Musaddeq pada Agustus 1953. Demi mempertahankan kelangsungan tahtanya dan memperoleh restu Gedung Putih, Reza Pahlevi tidak punya jalan lain kecuali menjalankan kebijakan-kebijakan Kennedy dan melaksanakan reformasi lahiriyah.

Reformasi Shah-Amerika (Revolusi Putih) memiliki agenda untuk memerangi Islam dan memperkuat nilai-nilai budaya Barat di Iran. Imam Khomeini ra mengingatkan masyarakat tentang bahaya program anti-Islam yang diusung Shah dan berusaha menyadarkan mereka terkait sepak terjang rezim penguasa.

Imam Khomeini ra secara aktif menentang agenda reformasi Shah-Amerika dan mengajak para marji' dan hauzah-hauzah ilmiah serta masyarakat untuk bangkit melawan. Puncak perjuangan itu terjadi ketika pasukan rezim Shah menyerang Madrasah Feiziah, Qom yang mengakibatkan para santri dan ulama yang berada di sana cidera dan gugur syahid. Mereaksi perbuatan terkutuk rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra pada hari Asyura tahun 1342 HS menyampaikan pidato historis menentang rezim Shah Pahlevi dan Israel.

Imam Khomeini ra dalam pidatonya itu membongkar kedok hubungan terselubung, perjanjian, dan persahabatan Shah Pahlevi dengan Israel. Pada tengah malam 14 Khordad, rumah Imam Khomeini ra dikepung oleh pasukan komando. Mendekati subuh pemimpin Revolusi Islam itu ditangkap dan dibawa ke Tehran.

Kebangkitan 15 Khordad sejatinya adalah titik puncak dukungan rakyat kepada gerakan Imam Khomeini. Suara teriakan "Mati atau Khomeini" menggema di seluruh kota Qom, Tehran dan kota-kota lain di Iran.Kabar penahanan Imam Khomeini ra dengan cepat menyebar di Qom, Tehran dan setelah itu di seluruh penjuru Iran.

Menyaksikan kemarahan rakyat atas penahanan pemimpin revolusi, rezim Shah kemudian dengan bantuan AS pada 15 Khordad, membantai warga Qom, Tehran, Shiraz, Mashad, Tabriz dan daerah-daerah lainnya. Tidak ada angka yang pasti mengenai berapa jumlah sebenarnya warga yang syahid akibat pembantaian itu, tapi diperkirakan antara 5 hingga 15 ribu orang.

Rezim Shah mengira aksinya itu akan meredam gejolak di tengah masyarakat, tapi perubahan sama sekali tidak terjadi, Imam Khomeini ra tidak mengubah sikapnya, kecintaan rakyat terhadap beliau juga tidak berkurang, dan rakyat pantang mundur dalam memperjuangkan revolusi.

Kebangkitan 15 Khordad dan pengasingan Imam Khomeini ra menyumbang pengaruh besar di tengah rakyat Iran. Perlawanan mereka terhadap rezim Pahlevi kian mengakar dan terorganisir dengan baik. Penjara-penjara rezim penguasa telah dipenuhi oleh para tahanan politik, namun fenomena ini tidak mengendurkan nyali rakyat Iran.

Tekad rakyat Iran semakin membaja dan mereka bersumpah akan meneruskan perjuangan sampai tumbangnya rezim despotik Shah Pahlevi. Kemenangan Revolusi Islam Iran pada Februari 1979 merupakan sebuah transformasi dalam sistem pemerintahan dunia, khususnya di dunia Islam.

Setelah beberapa tahun dari kemenangan Revolusi Islam, Imam Khomeini ra dalam satu pidatonya berkata, “Kebangkitan 15 Khordad menjelaskan sebuah realitas bahwa jika sebuah bangsa menghadapi penindasan oleh kekuatan-kekuatan arogan dan diktator, maka hanya tekad mereka yang dapat menghadang kezaliman dan penindasan itu serta menentukan masa depan nasib mereka. 15 Khordad adalah hari penentuan nasib yang penuh berkah meski harus dibayar dengan darah suci para pemuda negara ini. Akan tetapi, ia merupakan awal sebuah transformasi besar di bidang kehidupan politik dan sosial masyarakat.”

Bapak Pendiri Republik Islam Iran ini menambahkan, “Poin penting dari Kebangkitan 15 Khordad adalah kehancuran wibawa rapuh rezim Shah, di mana dengan ilusi dan khayalan ia menganggap dirinya sebagai penguasa rakyat. Namun dengan sebuah gerakan terkoordinir, dengan sebuah persatuan dan kesolidan nasional, semua kemegahan dan kedigdayaan rezim Shah runtuh dan lenyap seketika.”

Kebangkitan 15 Khordad memperjelas perbedaan antara gerakan Islam yang benar-benar memerangi rezim Shah dengan gerakan politik yang berpura-pura bermusuhan dengan penguasa. Peristiwa ini merupakan batu loncatan dimulainya kebangkitan di tengah rakyat Iran yang sepenuhnya Islami.

Dimensi Islam gerakan itu terlihat jelas dalam kepribadian pemimpinnya; seorang marji’ taklid dan ulama besar di Hauzah Ilmiah Qom. Di bawah komando Imam Khomeini ra, konspirasi pemisahan agama dari politik yang sejak dulu disuarakan oleh rezim Shah sepenuhnya dapat digagalkan dan rakyat Iran melangkahkan kakinya dalam sebuah perlawanan yang wajib untuk dipertahankan.

 

Basis ideologi dan konsep perlawanan tersebut adalah Islam dan prinsip-prinsipnya, yang diadopsi dari al-Quran dan sunnah Nabi Saw dan Ahlul Bait as. Ciri khas lain Kebangkitan 15 Khordad adalah menonjolnya peran Imam Khomeini ra sebagai pemimpin gerakan Islam dalam memerangi rezim Shah. Kepemimpinan beliau telah mengakhiri wacana pemisahan agama dari politik untuk selamanya.

Motivasi perjuangan Imam Khomeini ra sama sekali tidak ada kemiripan dengan motivasi-motivasi para pejuang Sayap Kiri dan kubu anti-imperialis dunia. Kebangkitan 15 Khordad merupakan sebuah gerakan agamis yang berangkat dari panggilan jiwa dan untuk menunaikan kewajiban syariat.

Kebangkitan 15 Khordad juga bersifat merakyat dan tidak dimiliki oleh golongan tertentu. Semua lapisan masyarakat memiliki peran dalam gerakan tersebut dan mereka berjuang bersama-sama atas nama Islam. Imam Khomeini dan para ulama membangun hubungan dengan semua lapisan masyarakat dan interaksi itu terjadi di masjid-masjid, pusat pengajian, dan tempat-tempat suci lainnya.

Karakteristik lain Kebangkitan 15 Khordad adalah menentang kepemimpinan dan intervensi asing di Iran. Imam Khomeini ra sejak awal kebangkitan memperkenalkan AS, Inggris, dan Uni Soviet sebagai pemicu kesengsaraan rakyat Iran dan beliau memulai perlawanan terhadap intervensi asing.

Rakyat Iran menyaksikan puncak perwujudan independensi politik dalam pribadi Imam Khomeini. Faktor ini telah melahirkan Kebangkitan 15 Khordad,menciptakan Kemenangan Revolusi Islam,dan menorehkan kemajuan untuk Republik Islam Iran.

Aspek keislaman, aspek kerakyatan, dan dukungan terhadap pemimpin termasuk di antara faktor utama kesuksesan Republik Islam Iran dalam menghadapi sikap konfrontatif AS dan sekutu-sekutunya selama lebih dari 30 tahun. Dengan ciri khas itu pula, Revolusi Islam Iran menjadi cermin bagi bangsa-bangsa regional dan gerakan kebangkitan untuk melawan rezim diktator dan boneka AS. Mereka mengusung nilai-nilai Islami yang menentang penindasan dan menolak seluruh paham liberal.