Kekalahan Aliansi Musuh Melawan Iran (1)
https://parstoday.ir/id/radio/other-i73846-kekalahan_aliansi_musuh_melawan_iran_(1)
Perang yang dipaksakan disulut untuk meraih beberapa tujuan, termasuk menumbangkan sistem Republik Islam yang baru berdiri dan menduduki daerah tertentu milik Iran, tetapi musuh gagal mencapai ambisinya dan perang berjalan di luar rencana mereka.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 17, 2019 12:29 Asia/Jakarta
  • Pekan Perang Pertahahan Suci.
    Pekan Perang Pertahahan Suci.

Perang yang dipaksakan disulut untuk meraih beberapa tujuan, termasuk menumbangkan sistem Republik Islam yang baru berdiri dan menduduki daerah tertentu milik Iran, tetapi musuh gagal mencapai ambisinya dan perang berjalan di luar rencana mereka.

Agresi sepihak ini telah mengobarkan semangat pemuda Iran sehingga mereka dengan keberanian dan kekuatan, bangkit melawan musuh dan mereka tidak takut terhadap kekuatan mana pun.

Rezim Saddam menikmati dukungan Timur dan Barat dalam agresinya ke Iran serta memperoleh senjata pemusnah massal dan bahkan senjata kimia. Banyak kota-kota Iran menjadi target serangan Saddam dan ribuan warga sipil terbunuh. Namun kekuatan agresor akhirnya terusir dari wilayah Iran.

Rakyat Iran – selama delapan tahun perang yang dipaksakan – memperkuat persatuan untuk melawan musuh dan mempertontonkan heroisme terbesar, keberanian, dan pengorbanan. Perlawanan ini membawa kemenangan bagi Iran termasuk pembebasan kota Khorramshahr dari pendudukan musuh.

Surat kabar Liberation Prancis dalam sebuah analisanya menulis, "Setelah rakyat Iran merebut kembali Khorramshahr, Amerika Serikat, Eropa, dan beberapa negara di wilayah Teluk Persia langsung mengambil inisiatif untuk mengakhiri perang ini dengan tujuan mencegah kejatuhan Saddam."

Kekalahan ini telah merusak semua perhitungan rezim Saddam dan sekutunya terkait perang tersebut. Sekutu rezim Ba'ath Irak yaitu Amerika, Arab Saudi, dan Kuwait memberikan dukungan finansial dan senjata kepada rezim Saddam, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa dalam menghadapi tekad rakyat Iran.

AS juga merangkul kekuatan-kekuatan lain termasuk anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk menggalang konsensus global dengan tujuan mengintensifkan tekanan terhadap Iran dan menyelamatkan sekutunya dari rawa perang.

Era perang pertahanan suci memberikan sebuah pengalaman yang berharga dan selalu dikenang untuk hari ini dan generasi mendatang. Pemimpin Besar Revolusi Islam sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pertemuan dengan para komandan angkatan bersenjata mengatakan, "Angkatan Bersenjata Iran membutuhkan sumber daya manusia terbaik dari segi pemikiran, profesionalisme, dan tekad sehingga dapat melindungi bangsa ini dari setiap ancaman musuh."

Donald Rumsfeld dan Saddam dalam pertemuan di Baghdad. (dok)

Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, "Selama pihak tertentu berbicara dengan bahasa ancaman dengan Iran, maka penguatan basis pertahanan Iran akan dilanjutkan dengan kekuatan."

Kemampuan pertahanan suatu negara adalah bagian dari komponen utama untuk melawan tindakan dan ancaman militer musuh. Setiap kelemahan di sektor perangkat keras militer dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

Kebijakan Republik Islam Iran adalah menghindari ketegangan dan konflik militer, tetapi mengirim pesan kepada musuh bahwa jika diperlukan, negara ini tidak hanya membela keamanannya, namun juga memiliki kemampuan untuk melawan anasir perusak stabilitas dan keamanan di kawasan.

Mengenai kekuatan sistem pertahanan udara Iran, wartawan surat kabar al-Rai, Elijah J. Magnier di akun Twitter-nya menulis, "Bagaimana rudal buatan Iran dengan harga sekitar 2500 dolar, mendeteksi dan menembak jatuh drone Global Hawk RQ-4A AS yang canggih dan bernilai sekitar 123 juta dolar?"

Majalah The National Interest dalam sebuah laporannya mengatakan, "Setelah drone AS ditembak jatuh, Trump mengaku memutuskan serangan militer ke Iran, tetapi membatalkan perintah serangan di menit-menit terakhir dan kemudian memperingatkan Iran bahwa opsi militer masih di atas meja. Dia mengatakan jika AS melakukan serangan ke Iran, mereka tidak akan mengerahkan pasukan darat dan sebagai gantinya, AS menggunakan kekuatan udara dan laut yang besar dalam perang. Trump seakan-akan tidak ragu sedikit pun dalam kemenangan militer negaranya."

Trump menegaskan perang ini tidak akan berlangsung lama dan Iran akan musnah.

Dalam menanggapi ancaman Trump, Komandan Pasukan Quds Iran, Brigadir Jenderal Qassem Soleimani mengatakan, "Memulai perang dengan Iran berarti kehancuran seluruh fasilitas AS dan kami akan menentukan akhir dari perang yang kalian mulai."

Mengacu pada kejahatan AS di Afghanistan, komandan korps elite Iran ini menerangkan, AS tidak bisa berbuat apa-apa ketika menyerang Taliban – sebagai sebuah organisasi rapuh dan minim fasilitas – dengan 110.000 pasukan, ribuan tank, dan kendaraan pengangkut pasukan, peralatan tempur, ratusan pesawat tempur, dan helikopter canggih.

Mayjen Soleimani lebih lanjut menjelaskan bahwa AS menderita kekalahan dalam mendukung rezim Zionis Israel pada perang 33 hari dengan Hizbullah Lebanon dan memulai perang Yaman dengan dukungan 2.000 miliar dolar bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

“AS mengancam Iran ketika mereka telah merusak keamanan Laut Merah dengan aksinya dan menyeret Arab Saudi – yang telah menjadi negara yang aman selama bertahun-tahun – di bawah bara api,” ujarnya.

“Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam dengan sendirinya siap meladeni Anda, dan tidak perlu melibatkan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran,” pungkas Mayjen Soleimani dalam pesan yang ditujukan kepada Trump.

"Di tempat yang tidak pernah Anda bayangkan, kami hadir di sana karena rakyat Iran adalah bangsa pencari mati syahid dan telah melewati masa-masa sulit,” pungkasnya.

Kota Khorramshahr berhasil dibebaskan dari pendudukan pasukan Saddam.

Republik Islam Iran tidak mengenal toleransi dalam masalah keamanannya dan oleh karena itu, meningkatkan kekuatan pertahanannya sesuai dengan ancaman yang dihadapi.

Menurut Ayatullah Khamenei, kebijakan kekuatan pertahanan Republik Islam bertujuan untuk mencegah musuh dari mimpi untuk menyerang Iran. "Musuh perlu tahu bahwa jika mereka merencanakan serangan ke Iran, mereka akan menghadapi respon yang tegas, mereka mungkin menjadi pihak yang memulai, tetapi akhir dari perang ini bukan di tangan mereka."

Hari ini, AS juga sedang mengulangi skenario yang sama yang pernah dijalankan selama era perang pertahanan suci terhadap Iran. Di masa lalu, AS dan negara-negara Eropa Barat mendorong Irak untuk melanjutkan perang, dan AS hari ini juga mengajak sekutunya untuk melawan Republik Islam.

Surat kabar The Wall Street Journal mengatakan, "Pemerintahan Trump sedang dalam pembicaraan dengan sekutu Arab untuk meminta mereka membentuk aliansi militer yang akan berbagi data intelijen dengan rezim Zionis Israel untuk membantu melawan musuh bersama mereka, Iran."

Aliansi itu atau NATO Arab akan mencakup negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab serta Mesir dan Yordania. Meski ini sebuah inisiatif baru yang diusulkan oleh pemerintah AS, tetapi pada dasarnya masih mengejar ambisi yang sama di masa lalu yaitu melawan Iran.

Dengan aliansi ini, AS ingin menciptakan krisis di kawasan atau memaksakan sebuah perang jika kondisi memungkinkan, dan pada akhirnya menawarkan senjatanya kepada negara-negara Arab di wilayah Teluk Persia.

Trump berulang kali mengatakan bahwa negara-negara Arab termasuk Saudi harus mengeluarkan biaya jika menginginkan keamanan. Sikap ini menunjukkan bahwa Trump ingin memperoleh uang dari penjualan senjata dan juga komersialisasi keamanan ala Amerika.

Beberapa media menyebut Trump seperti agen bisnis, ia menjual isu Iranphobia untuk memeras negara-negara Arab dan menyeret mereka dalam perang sektarian.

James Stavridis, pensiunan Laksamana Angkatan Laut AS mencatat bahwa Iran memiliki kemampuan perang asimetris yang sangat kuat di beberapa daerah. "(Serangan) siber, taktik kawanan kapal kecil, kapal selam diesel, pasukan khusus, dan rudal jelajah permukaan-ke-permukaan adalah semua aset tingkat tinggi," tambahnya.

Menurut Stavridis, Iran juga sangat berpengalaman dalam mengoperasikan peralatan tersebut di wilayah yang diperlukan di Asia Barat.

AS telah menjalankan beberapa skenario untuk memicu perang di kawasan termasuk, mengangkat isu ketidakamanan di Selat Hormoz, memasukkan nama Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam daftar organisasi teroris, merampas kapal tanker Iran dengan bantuan Inggris, dan membentuk aliansi maritim dengan dalih menjaga keamanan navigasi di Teluk Persia.

Republik Islam Iran mengawasi semua gerak-gerik AS dan negara ini tidak akan pernah memberikan peluang kepada Paman Sam untuk memicu krisis di kawasan. (RM)