HAM dan Kekhilafahan Manusia
https://parstoday.ir/id/radio/other-i83860-ham_dan_kekhilafahan_manusia
Hak asasi manusia, penjagaan terhadap martabat manusia serta mekanisme regional dan internasional untuk melestarikannya termasuk di antara keprihatinan global yang mendapat porsi besar dalam ajaran Islam.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Aug 02, 2020 13:32 Asia/Jakarta
  • HAM dan Kekhilafahan Manusia

Hak asasi manusia, penjagaan terhadap martabat manusia serta mekanisme regional dan internasional untuk melestarikannya termasuk di antara keprihatinan global yang mendapat porsi besar dalam ajaran Islam.

Kini, banyak negara dan organisasi internasional memandang diri mereka berkewajiban untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia, tapi tidak banyak yang mengetahui bahwa Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia mengambil inspirasi dari ajaran Islam, dan dalam banyak kasus masih terdapat kekurangannya. Oleh karena itu, dibutuhkan pandangan kritis terhadap masalah HAM.

 

Tanggal 5 Agustus 1990 dicanangkan sebagai "Hari Hak Asasi Manusia Islam dan Martabat Manusia" oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atas usulan Iran. Sejak itu, untuk pertama kalinya negara-negara Muslim mampu mengekspresikan pandangan Islam tentang hak asasi manusia dalam bentuk sebuah pernyataan atau deklarasi bersama di tingkat internasional.

Resolusi Organisasi Kerja Sama Islam menyatakan, berdasarkan syariat Islam, hak asasi manusia berasal dari martabat dan nilai kemanusiaan yang melekat di dalamnya. Resolusi tersebut membahas sejumlah masalah, termasuk kebutuhan untuk memperkuat kerja sama aktif dan koordinasi di antara negara-negara anggota OKI sebagai sarana penyebaran, promosi dan pelestarian ajaran dan nilai-nilai Islam dalam masalah HAM. Selain itu, untuk mendukung dan mempertahankan citra Islam yang sebenarnya dan memerangi penghinaan terhadap Islam dan mendorong dialog antar agama. Dengan demikian, "Hak Asasi Manusia Islam dan Hari Martabat Manusia" adalah kesempatan bagi umat Islam untuk memperkenalkan hak asasi manusia dalam perspektif Islam kepada masyarakat internasional.

 

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menyoroti masalah pelanggaran hak asasi manusia di Amerika Serikat, yang menunjukkan sebuah persoalan serius mengenai peradaban Barat yang selama ini kerap diterima secara taken for granted di dunia, termasuk di negara-negara Muslim. Padahal banyak sekali pelanggaran utama hak asasi manusia dan martabat manusia yang dilanggar AS, termasuk terhadap warganya sendiri.

Rahbar menilai langkah mengekspos kekurangan utama hak asasi manusia Amerika sebagai persyaratan masyarakat merdeka dan bebas dalam penegakkan HAM di tingkat dunia. Sebab AS kerap mempersoalkan penegakkan HAM di negara lain, tapi melupakan dirinya sendiri. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Saya menyerukan semua orang untuk berbicara tentang hak asasi manusia. AS tidak berhak mengklaim sebagai pemegang kebenaran dalam masalah HAM. Pemerintah AS adalah pelanggar hak asasi manusia terbesar di dunia. Bukan [hanya] kemarin, [bahkan] hari ini, sekarang. Mereka adalah orang-orang yang mendukung rezim Zionis  melakukan begitu banyak kejahatan di kawasan,".

Kini, tindakan respresif pemerintah dan polisi AS terhadap orang kulit hitam menjadi simbol pelanggaran hak asasi manusia di negara ini yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

 

 

Para pemimpin politik AS selama ini kerap memandang rendah warga negara kulit hitam dan berwana selain kulit putih. Jika kita mengkaji lebih dalam hubungan antara kekejaman yang dilakukan terhadap George Floyd dan sepak terjang brutal pemerintah AS terhadap negara lain, langkah polisi Amerika menekan leher warga kulit hitam berkorelasi dengan aksi hegemoni dan kolonialisme AS terhadap negara lain di dunia.

Saat ini, sebanyak 21 negara berada di bawah sanksi AS. Faktanya, klaim AS sebagai pengibar bendera hak asasi manusia hanyalah topeng untuk menutupi banyaknya kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya. Penggunaan narasi HAM sebagai alat politik menyerang negara lain yang tidak berkompromi dengan AS menunjukkan watak aslinya yang bersembunyi di balik topeng HAM.

 

 

Dengan berpijak pada ajaran Islam, Republik Islam Iran senantiasa menentang penindasan dan membela orang-orang yang tertindas di seluruh dunia, serta mendorong negara-negara Muslim bersama-sama melakukannya. Pada saat yang sama, Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, yang selalu melanggar hak asasi manusia di dunia, selama ini sering mengklaim sebagai pengibar bendera HAM sembari menyerang negara lain dengan klaim sepihaknya. 

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Begitu banyak pelanggaran hak asasi manusia di Amerika Serikat dan dilakukan negara ini terhadap negara lain di dunia. Tetapi mereka menuduh orang-orang di dunia, termasuk terhadap rakyat dan pemerintah Iran melanggar hak asasi manusia! Bendera hak asasi manusia dipegang oleh mereka yang sendiri sebagai pelanggar terbesar hak asasi manusia. Saya tidak melihat ada negara yang melanggar hak asasi manusia sebanyak AS."

 

 

Islam menempatkan manusia pada posisi tinggi dan mulia. Banyak ayat dalam Al-Quran menjelaskan masalah ini. Surat al-Isra ayat 70 mengungkapkan, "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan,". 

Ayat lain yang menunjukkan martabat manusia dan kedudukannya sebagai Khalifah Allah swt di muka bumi dalam surat Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". 

Di bagian lain surat Shad ayat 72-74, Allah swt berfirman mengenai malakait yang bersujud kepada Nabi Adam, kecuali Iblis, "Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, (73) kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir,".

 

 

Selain ayat-ayat Alquran yang solutif dan mencerahkan, Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya juga memberikan referensi penting tentang martabat dan keunggulan manusia daripada makhluk lain. Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw memperlakukan Bilal bil Rabbah dengan mengangkat derajatnya dari budak menjadi sahabat beliau yang sejajar dengan lain, bahkan menjadikannya sebagai muazin. 

Misal lainnya datang dari Imam Sadiq. Seseorang bertanya kepada Imam Sadiq, "Manakah yang lebih unggul; malaikat atau manusia? Beliau menjawab dengan mengutip pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib  "Tuhan menganugerahkan akal kepada malaikat. Nafsu kepada hewan, dan manusia diberi keduanya; akal dan nafsu. Manusia dapat mencapai status yang lebih tinggi daripada malaikat dengan akal dan mengendalikan nafsunya." Inilah sebabnya mengapa Imam Ali  mengatakan, "Menjaga kehormatan seorang Mukmin lebih utama daripada Kabah."

Semua kualitas dan karakteristik unik ini menunjukkan bahwa manusia layak menjadi khalifah Allah swt di bumi. Oleh karena itu, manusia yang menyadari posisi mulianya tidak akan menyerah menghadapi kezaliman, dan tidak memperbudak dirinya dengan nafsu maupun kesenangan dunia fana. Ayat-ayat Al-Quran maupun hadis Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya menjelaskan, meskipun manusia diberkahi kemampuan menjadi khalifah Allah, tapi ada orang-orang yang tidak dapat mencapai posisi ini, karena perbuatan dan perilakunya.Mereka bukan hanya tidak mencapai maqam kekhalifahan ilahi,bahkan jatuh  menjadi lebih rendah dari binatang.(PH)