Sep 25, 2021 06:47 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 25 September 2021

Uwais Al-Qarni Gugur Syahid

1406 tahun yang lalu, tanggal 18 Shafar 37 HQ, Uwais Al-Qarni, seorang sahabat besar Imam Ali as gugur syahid dalam perang Shiffin. Ia berasal dari Qarn, sebuah kawasan sekitar Yaman.

 

Uwais memeluk agama Islam pada masa Rasulullah masih hidup. Akan tetapi, ia tidak pernah bertemu dengan junjungannya itu karena harus menjaga ibundanya yang sakit keras. Meskipun tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, kecintaan Uwais terhadap Nabi yang mulia berikut ajaran suci yang dibawa Rasulullah sangatlah tinggi.

 

Rasulullah Saw juga berkali-kali menyebut Uwais sebagai seorang muslim yang sangat hebat. Uwais baru mendapatkan kesempatan untuk datang ke Madinah setelah Rasul wafat. Uwais kemudian bergabung dengan para sahabat Rasulullah yang setia dan memberikan kontribusi besar dalam penegakan agama Islam.

 

Ketika pecah perang Shiffin antara pasukan Imam Ali as dan Muawiyah, Uwais turut membela Imam Ali. Di perang inilah Uwais menjemput syahadah.

 

Hari Jadi Kota Bandung

 

211 tahun yang lalu, tanggal 25 September 1810, diperingati sebagai hari jadi kota Bandung.

 

Bandung (kota madya) merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota itu pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java (bahasa Belanda) atau Parisnya Jawa. Bandung terkenal akan Gedung Sate dan hawanya yang sejuk.

 

Tepat pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal ke-36 Hindia Belanda Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang. Sejak peristiwa tersebut, 25 September dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung dan RA Wiranatakusumah sebagai the founding father.

 

Kini nama tersebut diabadikan menggantikan Jalan Cipaganti, wilayah itu menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alun-alun sekarang.

 

Ghumam Hamedani Meninggal Dunia

 

700 tahun yang lalu, tanggal 3 Mehr 1321 HS, Mohammad Yusuf Zadeh, yang terkenal dengan nama Ghumam Hamedani, seorang sastrawan dan penyair Iran, meninggal dunia.

 

Mohammad Yusuf Zadeh amat manguasai bidang logika, filsafat Islam dan sastra Persia. Selain menggeluti bidang sastra, dia juga aktif dalam perjuangan Revolusi Konstitusional Iran. Namun, ketika akhirnya revolusi ini menyimpang dari tujuannya semula dan tokoh-tokoh despotik naik menjadi pemimpin, Hamedani memilih keluar dari aktivitas politik dan berkonsentrasi di bidang pendidikan sosial dan sastra.

 

Satu-satunya karya peninggalan Hamedani adalah Diwan-e Asy'ar yang hanya memuat kurang dari sepertiga karya-karya syair Hamedani sepanjang hidupnya.