Lintasan Sejarah 26 Februari 2017
Hari ini, Ahad tanggal 26 Februari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Jumadil Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 8 Isfand 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ali bin Abbas Baghdadi Meninggal Dunia
1255 tahun yang lalu, tanggal 28 Jumadil Awal 283 HQ, Ali bin Abbas Baghdadi meninggal dunia.
Ali bin Abbas bin Juraih al-Baghdadi yang dikenal dengan Ibnu Rumi atau Ibnu Juraih adalah seorang tokoh puisi Arab di akhir abad ke-3 Hq. Ia membaca puisi dengan penuh kefasihan. Semasa mudanya ia belajar ilmu-ilmu klasik di masanya dan ia telah memiliki kemampuan membaca puisi sejak kecil.
Ibnu Rumi memiliki cara pandang yang kritis terhadap pelbagai masalah sosial. Cara pandang ini disampaikan dalam syair-syairnya. Oleh karenanya, puisi Ibnu Rumi menjadi salah satu sumber tentang realita masyarakat di masanya.
Ibnu Rumi hidup di masa Mu’tadhid Billah, Khalifah ke-16 dari Bani Abbasiah. Ia diracun oleh menteri Mu’tadhid Billah. Ia dibunuh oleh menteri khalifah dikarenakan khawatir akan lisan Ibnu Rumi yang mengungkap kebobrokannya.
Robert Boyle Meninggal Dunia
326 tahun yang lalu, tanggal 26 Februari 1691, Robert Boyle, seorang fisikawan terkenal Irlandia, meninggal dunia.
Boyle dilahirkan pada tahun 1627 dalam sebuah keluarga Protestan asal Inggris yang menetap di Irlandia. Boyle menuntut ilmu di sebuah universitas di Oxford, Inggris dan kemudian melakukan berbagai penelitian di bidang fisika.
Boyle terkenal atas penemuan hukum tekanan gas yang kemudian disebut sebagai Hukum Boyle, yang berbunyi, "Bila gas dijaga dalam temperatur konstan, tekanannya berbanding terbalik dengan volume."
Mulla Ali Mirza Khalili Lahir
212 tahun yang lalu, tanggal 28 Jumadil Awal 1226 HQ, Haj Mulla Ali Mirza Khalili, seorang ahli fiqih Iran lahir ke dunia.
Mulla Mirza Khalili setelah menyelesaikan pendidikan dasar keagamaannya mempelajari ilmu-ilmu agama tingkat menengah kepada ulama besar seperti Mulla Karim Kermani dan Mulla Esmail Boroujerdi. Beliau memiliki keluasan ilmu di bidang fiqih, ushul fiqih dan matematika, sehingga tidak berapa lama belajar Mulla Mirza Khalili menjadi ahli fiqih dan matematika.
Mirza Khalili hingga meninggalnya tetap berusaha meneliti, belajar dan menulis. Beliau banyak meninggalkan banyak karya tulis seperti Khazain al-Ahkam. Akhirnya beliau pada 1297 Hq meninggal dunia dalam usia 71 tahun di Najaf al-Asyraf.
Tengku Amir Hamzah, Pahlawan Nasional Lahir
106 tahun yang lalu, tanggal 26 Februari 1911, Tengku Amir Hamzah dilahirkan di Binjai Sumatera Utara.
Waktu masih di kelas tertinggi AMS, Amir Hamzah menjadi Ketua Indonesia Muda Cabang Solo yang pertama. Di dalam Indonesia Muda (IM) menunjukan perhatiannya pada bidang seni drama. Dalam konggres bahasa Indonesia yang ke I di Solo pada tahun 1938 dengan gigih menganjurkan agar Bahasa Indonesia digunakan dalam percakapan sehari-hari di kalangan kaum terpelajar.
Pada jaman kemerdekaan oleh Pemerintah RI. Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen untuk daerah Langkat, sejak proklamasi beliau memang giat mempertahankan kemerdekaan. Pada masa pergolakan revolusi di Sumatera Timur, Amir Hamzah seorang republiken yang besar jasanya dalam kesusastraan dan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi korban apa yang disebut “Revolusi Sosial” di Sumatera Timur.
Pada tanggal 20 Maret 1946 di Kuala Begumit, beliau gugur terbunuh pada saat sedang berjuang ikut menyelenggarakan hasil perjuangan di daerahnya. Tahun 1946 kerangka jenazah Amir Hamzah dipindahkan ke makam Samping Masjid Azizi di Tanjungpura, Sumatera Utara . Ia kemudian diangrahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1975.
Meninggalnya Ayatullah Sayid Ali Kouh Kamareh-i
76 tahun yang lalu, tanggal 8 Isfand 1319 HS, Ayatullah Sayid Ali bin Sayid Ali Naqi Kouh Kamareh-i meninggal dunia dan dikuburkan di komplek pekuburan suci Fathimah Maksumah as di kota Qom.
Ayatullah Kouh Kamareh-i lahir di kota Tabriz dan menyelesaikan tingkat dasar dan menengah pendidikan agama di kota kelahirannya dan setelah itu, untuk melanjutkan studinya, Ayatullah Sayid Ali Khouh Kamareh-i pergi ke hauzah ilmiah Najaf, Irak.
Di Najaf beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Mirza Habibollah Rashti, Mulla Muhammad Fadhil Irawani dan Mulla Muhammad Fadhil Sharabyani. Setelah belajar bertahun-tahun di Najaf beliau mencapai derajat keilmuan yang tinggi.
Ayatullah Sayid Ali Kouh Kamareh-i kemudian kembali ke kota kelahirannya dan melaksanakan kewajiban agamanya. Ayatullah Sayid Ali Kouh Kamareh-i adalah ayah dari marji besar Syiah Ayatullah al-Udzma Sayid Muhammad Hojjat Kouh Kamareh-i.