Ulama Ahlu Sunnah: Pemimpin Syahid, Poros Persatuan Umat Islam
-
Mamusta Mulla Qader Qaderi, Imam Jumat Ahlusunah di Kabupaten Paveh
Pars Today - Imam Jumat Ahlusunah di Kabupaten Paveh di Provinsi Kermanshah, Iran barat, menyebut Pemimpin Syahid sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia Islam serta seorang penghafal dan penafsir Al-Qur'an al-Karim, dan mengatakan: Pemikiran-pemikiran Qur'aninya yang mempersatukan telah memainkan peran abadi dalam memperkuat perlawanan, kohesi umat Islam, dan kehormatan Iran Islam.
Menurut laporan Pars Today, Mamusta Mulla Qader Qaderi, Imam Jumat Ahlusunah di Kabupaten Paveh, pada hari Minggu (5/7) dalam wawancaranya dengan IRNA, seraya mengenang Pemimpin Syahid Revolusi, menyatakan: Yang Mulia adalah sosok Qur'ani, seorang penghafal dan penafsir Al-Qur'an al-Karim, dan pemikiran-pemikiran Islamnya melampaui batas-batas Iran dan mendapat gema luas di kalangan bangsa-bangsa Muslim.
Imam Jumat Paveh, dengan merujuk pada pidato Pemimpin Syahid Revolusi dalam perkumpulan besar umat Islam Pakistan, mengatakan: Pidato tersebut menyampaikan pesan persatuan, kebangkitan Islam, dan kembali kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an kepada umat Muslim di Asia Timur, dan memainkan peran efektif dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran Islam.
Ulama terkemuka Ahlusunah ini, dengan merujuk pada upacara pemakaman Pemimpin Syahid, menyatakan harapan bahwa upacara yang berlangsung selama satu minggu ini akan menjadi manifestasi dari persatuan nasional, kehormatan, dan kebanggaan Republik Islam Iran, serta semakin menunjukkan solidaritas rakyat.
Mamusta Qaderi menambahkan: Keyakinan saya adalah bahwa dengan syahidnya Yang Mulia Ayatullah Sayid Ali Khamenei, sebuah modal besar dalam bidang politik, retorika, kekuatan orasi, ketulusan, semangat persatuan, interaksi yang layak dengan bangsa Iran, dan terutama dengan Ahlusunah, telah pergi dari tengah-tengah kita.
Dengan menyatakan bahwa musuh-musuh berupaya melemahkan Iran dan mengubah takdir Iran, ia mengatakan: Amerika Serikat mengira dapat menjadikan Iran mengalami nasib seperti sejumlah negara di kawasan dalam waktu singkat, namun kewaspadaan bangsa, bimbingan kepemimpinan, dan pertolongan Ilahi menggagalkan rencana ini.
Imam Jumat Paveh menyebut persatuan antar umat Muslim sebagai sebuah keharusan strategis dan mengatakan: Persatuan harus bersifat timbal balik, dan semua mazhab Islam harus berperan dalam memperkuat kebersamaan, keamanan, dan kohesi nasional.
Mamusta Qaderi menyebut kepemimpinan sebagai faktor utama keamanan, persatuan, dan stabilitas Republik Islam, dan menambahkan: Jika bukan karena bimbingan dan kebijaksanaan Pemimpin Tertinggi Revolusi, kondisi Iran dapat saja serupa dengan situasi sejumlah negara di kawasan. (MF)