Lintasan Sejarah 23 Maret 2017
Hari ini, Kamis tanggal 23 Maret 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Jumadil Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 3 Farvardin 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ahmad bin Ali Baihaqi Sabzewari Wafat
894 tahun yang lalu, tanggal 24 Jumadil Tsani 544 HQ, Ahmad bin Ali Baihaqi Sabzewari, seorang ilmuwan muslim meninggal dunia.
Ahmad bin Ali Baihaqi Sabzewari adalah ilmuwan bidang nahwu dan bahasa yang terkemuka di zamannya. Beliau menulis tafsir al-Quran dan mampu membaca al-Quran dengan indah dan juga meninggalkan banyak karya tulis yang umumnya mengenai al-Quran.
Abu Zakaria Wafat
822 tahun yang lalu, tanggal 24 Jumadil Tsani 616 HQ, Yahya bin Qasim Tsa'labi yang terkenal dengan nama Abu Zakaria, seorang sastrawan dan penyair Arab terkenal, meninggal dunia. Selain menguasai bidang sastra, dia juga merupakan ulama di bidang fiqih, agama, dan tafsir Quran.
Siauw Giok Tjhan, Politikus Indonesia Lahir
103 tahun yang lalu, tanggal 23 Maret 1914, Siauw Giok Tjhan lahir di Kapasan, Simokerto, Surabaya, Jawa Timur.
Siauw Giok Tjhan adalah seorang politikus pejuang dan tokoh gerakan kemerdekaan Indonesia dari golongan Tionghoa-Indonesia. Siauw pernah menjadi ketua umum Baperki, Menteri Negara, anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS, parlemen RI sementara, anggota DPR hasil pemilu 1955/anggota Majelis Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA.
Salah satu warisan buah karya Siauw ialah Universitas Trisakti yang dulu didirikan oleh Baperki dengan nama Universitas Res Publika, yang kemudian diubah namanya menjadi Universitas Trisakti.
Siauw Giok Tjhan wafat di Belanda pada tanggal 20 November l98l, beberapa menit sebelum memberikan ceramah di Universitas Leiden.
Pendirian Hauzah Ilmiah Qom
94 tahun yang lalu, tanggal 3 Farvardin 1301 HS, Hauzah Ilmiah Qom didirikan oleh Ayatullah Hairi Yazdi dengan dukungan ulama, pedagang dan masyarakat.
Pemikiran didirikannya Hauzah Ilmiah Qom memiliki akar dalam riwayat para Maksumin as, khususnya Imam Shadiq as. Selama berabad-abad, janji para Imam Syiah senantiasa dinukil dari satu lisan ke lisan yang lain dan berada dalam benak pengikut Syiah.
Akhirnya, pada bulan Farvardin 1301 HS dilakukan pertemuan ulama qom dengan Ayatullah Abdolkareem Hairi Yazdi yang membicarakan soal pendirian Hauzah Ilmiah Qom. Setelah melalui pembahasan panjang, didirikanlah Hauzah Ilmiah Qom dengan dukungan ulama, pedagang dan masyarakat oleh Ayatullah Hairi Yazdi pada 3 Farvardin 1301 HS.
Hauzah Ilmiah Qom sejak didirikan hingga sekarang semakin populer dan penting. Hauzah Qom mampu membuka cakrawala baru pemikiran Islam, hingga ke seluruh dunia. Selain mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, Hauzah Ilmiah Qom juga menjawab pelbagai masalah sosial, budaya dan pemikiran. Hauzah Ilmiah Qom selama ini telah melahirkan banyak ilmuwan dan ulama serta berhasil mendidik para pecinta ilmu-ilmu keislaman.
WMO Didirikan
67 tahun yang lalu, tanggal 23 Maret 1950, didirikanlah The World Meteorological Organization atau WMO, yaitu sebuah organisasi metereologi dunia di bawah naungan PBB.
WMO beranggotakan 187 negara dan teritorial. WMO memainkan peranan internasional untuk memonitor dan melindungi lingkungan melalui berbagai programnya, seperti program pengawasan cuaca dan iklim dunia serta program hidrologi dan sumber air.
Hari berdirinya WMO, yaitu tanggal 23 Maret, dijadikan Hari Meterologi Sedunia.
Imam Khomeini Buat Pernyataan Soal Penyerangan Madrasah Feizieh
53 tahun yang lalu, tanggal 3 Farvardin 1342 HS, Imam Khomeini ra buat pernyataan soal penyerangan Madrasah Feizieh.
Sore hari tanggal 3 Farvardin 1342 HS (23 Maret 1963), setelah pasukan keamanan rezim Pahlevi menyerang madrasah Feizieh Qom, rumah Imam Khomeini ra menjadi tempat pertemuan rakyat dan ulama. Setelah mendapat informasi mengenai serangan ke madrasah Feizieh, Imam Khomeini ra mengeluarkan pernyataan yang membongkar kedok rezim Shah dan mengajak rakyat untuk turun ke jalan melakukan demonstrasi.
Dalam pernyataan beliau menyebutkan, "Dalam kondisi saat ini taqiyah hukumnya haram dan menyatakan kebenaran wajib hukumnya, apapun akibatnya, dan apa yang akan terjadi tidak lagi penting."
Dalam pernyataan ini Imam Khomeini ra menyebut siapa saja yang pro Shah maka ia sama dengan seorang penjarah dan berusaha menghancurkan al-Quran dan Islam.