Bagaimana Bisa Angka Bunuh Diri di Militer Israel Mencapai Level Tertinggi?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i183340-bagaimana_bisa_angka_bunuh_diri_di_militer_israel_mencapai_level_tertinggi
Pars Today - Militer Zionis Israel mengakui telah terjadi 151 kasus bunuh diri tentara tahun 2025.
(last modified 2025-12-31T17:22:02+00:00 )
Jan 01, 2026 00:16 Asia/Jakarta
  • Tentara Zionis
    Tentara Zionis

Pars Today - Militer Zionis Israel mengakui telah terjadi 151 kasus bunuh diri tentara tahun 2025.

Militer rezim Israel menerbitkan ringkasan korban jiwa pada tahun 2025. Dalam laporannya, peningkatan kematian akibat bunuh diri lebih menarik perhatian daripada kasus lainnya.

Menurut laporan ini, lebih dari 21 tentara Israel meninggal karena bunuh diri, yang merupakan angka bunuh diri tertinggi dibandingkan dengan statistik tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat Zionis telah mengumumkan bahwa mereka harus memperluas layanan medis untuk mengatasi peningkatan psikosis di kalangan tentara Israel.

Publikasi statistik resmi oleh militer Israel tentang korban jiwa pada tahun 2025 sekali lagi mengungkapkan realitas yang telah berusaha disembunyikan dari opini publik selama bertahun-tahun.

Di antara berbagai jenis korban militer, mulai dari kematian dalam operasi hingga kematian akibat penyakit atau kecelakaan, peningkatan bunuh diri merupakan masalah yang signifikan.

Fenomena ini bukan hanya masalah individu atau psikologis, tetapi juga cerminan dari krisis struktural dan politik rezim Zionis. Krisis yang telah menembus berbagai lapisan tentara dan masyarakat Israel dan kini terlihat dalam bentuk statistik resmi.

Salah satu alasan peningkatan bunuh diri di tentara Israel harus dianalisis dalam konteks tekanan yang dihasilkan dari perang tanpa akhir dan melelahkan melawan Palestina dan kawasan.

Tentara Zionis menjalankan misi mereka dalam situasi di mana prospek berakhirnya konflik tidak jelas dan makna misi tersebut tidak dapat dibenarkan bagi mereka. Situasi ini, dikombinasikan dengan pertemuan sehari-hari dengan perlawanan rakyat dan kekerasan struktural, telah membuat tentara Zionis mengalami kelelahan psikologis dan rasa hampa.

Seperti yang diakui juru bicara Militer Zionis dalam laporannya baru-baru ini, indikator bunuh diri telah mencapai tingkat yang membutuhkan intervensi luas dalam layanan kesehatan mental. Pengakuan yang menunjukkan bahwa krisis telah melampaui tingkat individu dan telah menjadi masalah institusional.

Dalam hal ini, perhatian khusus harus diberikan pada peran langsung Perang Gaza dan konsekuensinya. Perang Gaza tidak hanya merugikan rezim Zionis secara militer, tetapi juga memberikan tekanan psikologis tambahan pada militer Zionis.

Perang yang berkepanjangan dan ketidakpastian waktu berakhirnya, bersamaan dengan pembunuhan massal warga Palestina di Gaza, terutama perempuan dan anak-anak, dan tekanan opini publik global, merupakan beberapa faktor terpenting yang memicu peningkatan bunuh diri di kalangan militer Zionis.

Selain itu, Perang 12 Hari rezim Zionis terhadap Iran juga memberikan pukulan serius terhadap moral pasukan Zionis. Banyak tentara Zionis terpaksa berpartisipasi dalam pertempuran ini, dan kekalahan di dalamnya sangat melemahkan moral bahkan para perwira militer Zionis berpangkat tinggi, membuat mereka semakin tertekan dan putus asa.

Selain tekanan psikologis, kelemahan struktural tentara Zionis juga memicu krisis peningkatan bunuh diri, sehingga tentara Israel terpaksa mengerahkan lebih dari seribu petugas kesehatan mental di berbagai unit dan bahkan mengirimkan tim intervensi darurat ke zona perang. Tindakan ini, alih-alih menjadi tanda efisiensi, justru menunjukkan kegagalan dalam pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental secara tepat waktu.

Salah satu pejabat cabang kesehatan mental tentara Israel menyatakan dalam hal ini, Setelah Operasi Badai Al-Aqsa, permintaan layanan kesehatan mental meningkat di semua tingkatan dan tentara di banyak unit menghadapi gejala depresi.

Di sisi lain, sensor dan penutupan informasi oleh media oleh rezim Zionis mengenai korban militer selalu menjadi bagian dari kebijakan mereka untuk mengendalikan opini publik. Namun, publikasi statistik bunuh diri resmi menunjukkan bahwa skala krisis telah mencapai titik di mana tidak mungkin lagi untuk menyembunyikannya.

Kesenjangan antara narasi resmi dan realitas di lapangan telah meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat Zionis terhadap tentara Israel.

Selain tekanan psikologis dari perang dan konflik yang sedang berlangsung, faktor ekonomi, budaya, dan sosial juga memainkan peran utama dalam krisis psikologis tentara Israel. Struktur militer Israel, yang sangat bergantung pada wajib militer jangka panjang, dapat menyebabkan perasaan hampa dan kelelahan psikologis di kalangan tentara.

Lingkungan kerja militer, dengan tuntutan yang intens dan keterbatasan pribadi, dikombinasikan dengan tekanan sosial dalam masyarakat Israel, yang meliputi ketidaksetaraan, kesulitan ekonomi, dan ketegangan budaya, juga telah berkontribusi pada munculnya masalah psikologis.

Di sisi lain, pengumuman statistik ini oleh rezim Zionis harus dilihat sebagai tanda runtuhnya kohesi sosial dan politik rezim secara bertahap. Tentara yang kehilangan harapan merupakan cerminan dari krisis yang lebih dalam di tingkat masyarakat. Krisis yang berasal dari pendudukan dan kebijakan keamanannya tanpa visi yang jelas.

Bahkan jika tentara Israel mencoba untuk mengekang tren ini dengan mengembangkan layanan psikologis, bunuh diri akan terus berlanjut selama fondasi krisis, yaitu kelanjutan pendudukan dan perang serta kurangnya prospek politik dan ekonomi, tetap utuh.

Fakta ini, lebih dari sekadar masalah kemanusiaan, merupakan indikator politik bahwa rezim yang dibangun di atas kekerasan cepat atau lambat akan menghadapi kembalinya kekerasan yang sama di dalam dirinya sendiri.(sl)